
**Vila 13.45**
"Bibi Tuan kemana ?" Elisa tampak menuruni tangga dengan pakaian kaos dan celana Levis pendek di atas paha, rambutnya di ikat lurus kesamping ,membuat dirinya terlihat seperti anak ABG.
"Pagi-pagi tadi tuan sudah pergi ke kantor ,memangnya ada apa Non?" jawab Bi Rena di bawah tangga.
"Oh, tidak apa bi? hanya lucu saja" tambah Lisa lagi mengakhiri langkahnya pada tangga terakhir di ruangan tengah vila itu.
"Maaf Non, maksud Non Lisa apa?" sahut Bi Dewi yang baru datang.
Bertanya pada merekapun percuma, aku bosan sekali diam di vila ini.enakan juga di tempat Tante Dona, bisa bebas berbicara walaupun saling sindir menyindir,Elisa tampak berdiam cukup lama dengan senyum kecil di bibirnya.
"selamat pagi Non Lisa ?" sapa seorang pria berkaca mata berpakaian rapi yang tak lain adalah pak Wisnu.
"Pagi"Elisa tergugah seketika dari lamunannya.
"Apa ada yang bisa kami bantu Non,?" tambah Wisnu lagi dengan muka datarnya.
"Aku bosan,apa ada yang bisa aku kerjakan disini !" ujar Elisa sembari melangkah menuju sofa panjang di ruangan itu, dan segera duduk dengan santainya, sementara Wisnu dan dua pelayan wanita mendekatinya
Mereka ini seperti diam di kerajaan saja, harus ya di ikuti sedekat ini, Elisa tampak melirik Rena dan Dewi yang sedikit tertunduk sedang Wisnu memperhatikan tajam gerak geriknya.
"Nona tidak perlu mengerjakan apa-apa, jika nona menginginkan sesuatu tinggal bilang saja pada kami !" sambung Rena menjelaskan.
"Iya aku tau.." singkat Lisa sedikit kecewa.
"Bagaimana jika nona membaca di ruang baca tuan, di sana banyak buku bagus yang bisa di baca!" tambah Wisnu menyarankan.
"Untuk apa membaca,emm, apa di sini ada kanvas atau alat lukis dan semacam nya gitu ?" tanya Lisa semangat seketika.
"Ada Non, di ruang kerja tuan ?, "tambah Wisnu lagi merespon semangat Lisa.
"Oke, tolong ambilkan ya pak !" perintah Lisa sembari melangkah mondar-mandir mencari tempat yang enak untuk melukis.
"Non Lisa perlu apa lagi?" tambah Rena penasaran melihat tingkah Lisa, sementara Wisnu segera menuju lantai atas untuk mengambil bahan yang di perlukan Elisa
"Enaknya melukis dimana ya Bi?" tanya Lisa bingung.
"Bagaimana jika di teras belakang yang menghadap ke kebun Vila ini Non!" sambung Rena memberi ide.
"Boleh banget, ayo bi tunjukkan tempatnya.!" singkat Lisa lagi.
__ADS_1
Dengan segera Rena melangkah mengajak Elisa ke teras belakang ,sementara Dewi kembali ke dapur.
Teras belakang vila itu begitu lebar, banyak tanaman sayur hijau yang subur berbaris rapi tertanam di sana, serta beberapa deret pohon apel hijau yang pendek dan lebat buahnya.
sementara di bagian sisi pagar ada kolam ikan hias yang sangat nyaman di lihat, tampak ikan hias kecil warna-warni berenang dengan lincahnya.
Elisa tampak takjuk seketika," Bibi apa semua ini kalian yang menanamnya sendiri ?" tanya Lisa heran .
"Bukan Non, itu tuan Edward yang tanam, kami hanya merawatnya saja." tambah Rena singkat.
"Benarkah, pria seperti itu apa bisa begini?" sedikit pelan Elisa melangkah menuju kursi yang terbuat dari bambu unik tidak jauh dari sana, ia kemudian langsung duduk dengan santai.
"Iya, seperti apel ini, Tuan membeli bibitnya di luar negri waktu itu, rasanya sangat manis" Rena keluar teras menuju pohon apel tak jauh dari sana kemudian memetik satu buah apel hijau yang sudah siap panen.
"Wahh, boleh di petik kah? aku mau bi!" Elisa tampak bangkit dan berlari menuju Rena di luar teras.
"aaaauu.. aauuuhhh aduhh sakit....seketika kaki Elisa tampak berjingkrak karena kesakitan,kaki kanannya terkena batu krikil tajam sehingga terluka.
"Ya ampun, nona Lisa kenapa turun tidak pakai alas kaki?, jadi luka kan?" teriak Rena sedikit khawatir.
"Sini apel nya!" Elisa segera merebut apel itu dari tangan Rena yang mendekatinya, kemudian ia berjingkrak lagi menuju ke dalam teras dan duduk di kursi bambu itu lagi.
"Nona ini seperti anak kecil, buah itu belum di cuci!" Rena segera menghampiri Elisa yang tampak segera memakan apel di tangannya.
"Tetap harus di cuci dong, aduuuhh.. kaki Non Lisa berdarah" Rena mendekati Lisa dan berjongkok di hadapannya untuk memeriksa.
sementara Elisa tak begitu perduli dengan keadaan kakinya.
"Dewi... tolong bawakan kotak P3K kemari !" teriak Rena begitu keras.
"Bibi ,jika apelnya ku ambil lagi boleh tidak ?" melihat pada Rena yang masih sibuk meniupi lembut kakinya.
Tap ...tap....tap....tap
Dewi berlari menuju Elisa dan Rena dengan sedikit ngos-ngosan karena tubuhnya yang lumayan gemuk membuatnya sedikit susah bergerak cepat.
"Nona Lisa kenapa Ren?" tanya Dewi uang ikut berjongkok di hadapan Elisa.
"Tadi keluar teras tidak pakai alas kaki, jadinya begini ,"tambah Rena segera membuka kotak P3K yang di bawa oleh Dewi.
"Non, lain kali jangan seperti itu dong, nanti Tuan bisa marah kalau tau begini" tambah Dewi lagi sembari menoleh pada Lisa yang tak perduli ,gadis itu sangat asyik menikmati buah apel dalam gigitan terakhirnya.
"Auuu perihh .." Elisa tampak mengeluh kesakitan saat Rena berusaha membasuh luka di kakinya dengan alkohol.
"Maaf ,, maaf Non, tahan sebentar ya, lukanya di bersihkan dulu biar tidak infeksi " jawab Rena sedikit lesu melihat ekspresi Lisa yang berubah.
__ADS_1
" Aduhh bibi, aku yang seharusnya minta maaf ,biar aku saja yang bersihkan !" Elisa agaknya merasa tidak enak melihat kedua wanita yang jauh lebih tua berjongkok di hadapannya seperti itu, bahkan ia tidak menyadari semua itu dari tadi.
"Tidak apa non, itu sudah tugas kami" sambung Dewi memberi obat pada kakinya.
_
_
_
" Kaki Non Lisa kenapa?" suara Wisnu yang baru datang sembari membawa peralatan lukis.
"Tadi Non Lisa terinjak krikil ,jadinya terluka kami sedang mengobatinya." sahut Rena berkata tanpa menoleh Wisnu karena sibuk membalut perban pada kaki Lisa
"Cepat selesaikan ! Tuan sebentar lagi akan pulang !" tambah Wisnu dengan muka datarnya sembari meletakkan alat lukis itu di sebelah Lisa.
"Non Lisa sebaiknya jangan ceroboh lagi !" tambah Wisnu melirik tajam Lisa, sementara Elisa membalas dengan tatapan aneh, pria ini aneh sekali sama seperti tuannya itu, sifatnya bisa berubah-rubah ,sekarang dia sedang memperingati aku kah?.
"Apa gadis ini tengah bertingkah?" suara keras terdengar mendekat.
"Tuan Edward.." sapa Wisnu segera mengambil tas di tangan Edward yang baru sampai.
Bertingkah, apa maksudnya?Elisa tampak menatap Edward sinis, sementara Edward membalas tatapannya tajam.
"kalian buatkan aku makanan ! aku sudah lapar !" perintah Edward tertuju pada Rena dan Dewi.
"Baik tuan, !" Rena dan Dewi segera bergegas dari sana, sementara Elisa tampak menyelesaikan perban yang di tinggalkan begitu saja oleh Rena. Benar-benar takut kah pada pria aneh ini.
"Wisnu, tolong suruh sopir antar kotak yang ada di bagasi mobil ke rumah ibu!" tambah Edward pada Wisnu yang belum beranjak.
"Baik" singkat Wisnu segera berlalu.
Edward kemudian mendekati Elisa yang sedikit sibuk pada kakinya,
"Kakimu kenapa lagi?" tanya Edward memperhatikan perban pada kaki Lisa .
"Tidak apa-apa, sebaiknya tuan pergi saja ,mungkin Bi Rena dan Bi Dewi sudah menyiapkan makanannya!" jawab Elisa tanpa menoleh pria yang tengah memperhatikannya
Edward segera berbalik setelah mendengar ucapan Lisa dan berlalu meninggalkannya tanpa suara, Elisa segera menoleh namun pria itu sudah menghilang di balik ruangan.
"Pria aneh, "Oh mom, duniaku memang benar-benar berubah ,setelah kemunafikan yang ku tinggalkan, aku bertemu dengan hal yang tidak tau meletakkannya dalam situasi seperti apa?
Lanjut .... Like dulu.... like ya!!
Masih dalam situasi yang biasa.. terimakasih sudah menunggu dan baca ..Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1