
Edward langsung di larikan ke Ruang UGD, Jordan segera Mengambil alih setelah mendengar kabar yang di alami Edward.
"Sebaiknya kau tunggu di luar " ucap Jordan melepas genggaman tangan Elisa dari suaminya itu.
Dengan sangat terpukul Elisa terduduk pilu di tengah lorong perbatasan pintu UGD yang sangat sepi , ia menangis tersedu-sedu merasakan kepiluan hatinya , entah sampai kapan penderitaannya akan berakhir , kini Edward yang menjadi korbannya.
"Nona Elisa sebaiknya anda duduk di kursi tunggu !" seorang pria datang menghampirinya dan langsung membalut tubuh Elisa dengan jaket hangat.
Pria itu adalah Wisnu yang dari tadi mengikutinya dari belakang ,Wisnu segera membantu Elisa untuk berdiri dan mendudukkannya di kursi tunggu .
"Elisa , apa yang terjadi ?" langkah kaki yang sangat cepat datang dari arah berlawanan ,seorang wanita datang dengan tangis nya yang pecah.
"Ibu , Edward ...Edward " Elisa tak bisa menahan luapan tangisnya yang ia tumpahkan di atas dekapan Zelin Turas yang baru saja mengetahui bahwa Edward tertembak.
"Mengapa semua ini terjadi nak ? " Zelin pula menangis pilu mengingat suami dan anak nya mengalami nasib yang sama .
"Maaf ibu , ini semua salahku , ini karena aku ,karena aku yang sudah masuk ke dalam kehidupan Edward , aku..
"Elisa , jangan menyalahkan dirimu seperti ini , ibu memang sangat sedih , namun ini bukan salahmu nak , ini sudah takdir..." dengan menabahkan hati , wanita setengah abad itu mengusap air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata Elisa .
"Kita harus kuat nak ! kita harus sabar menghadapi semua ini , sekarang kita hanya perlu berdoa agar Edward baik-baik saja" dengan satu kecupan di kening Elisa yang Zelin berikan hal itu justru menambah sayatan pada hati Elisa yang benar-benar merasa bersalah.
Di pelukannya erat Ibu itu oleh Elisa , ia merasakan kehangatan serta rasa tenang setelahnya ( Oh mom, aku mohon beri aku kekuatan , aku tahu ini memang sudah takdir dari TuHan , aku harap agar Edward bisa baik-baik saja , aku hanya ingin hidup bahagia dengan orang yang aku cintai ) .ucap Elisa di dalam hati dengan luapan kesedihannya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Ruang Lain
"Apa dia tidak apa-apa dok?" Tanya Jordi yang begitu khawatir pada seorang dokter wanita yang tengah memeriksa keadaan Delta.
"Sepertinya dia mengalami tekanan yang sangat kuat di batin nya , tapi tidak masalah , biarkan dia beristirahat dulu " jawab dokter wanita itu tersenyum pada Jordi.
"Oke , terimakasih dok , saya akan menemaninya di sini " ujar Jordi mendekat pada Delta yang terbaring lemah masih tak sadarkan diri.
"Baik lah , kalau begitu saya permisi dulu , jika ada sesuatu ,tuan bisa panggil saya lagi " jawab dokter itu kemudian undur diri.
"Bagaimana kamu tidak tertekan jika situasinya seperti ini , haissst" Mengeluarkan nafas panjangnya Jordi menarik kursi yang ada di sebelah kiri tempat delta berbaring kemudian dia merebahkan tubuh lelahnya di sana dengan pandangan mata yang tak berpaling dari wanita itu.
Mengingat kejadian Beberapa saat yang Lalu ketika mereka berada di dalam perjalanan menuju vila.
_
_
_
_
__ADS_1
_
_
_
_
_
_
_
***Pesan rekam suara dari Delta " Jordi kami dalam bahaya "
"Kamu dimana Jordi kami butuh bantuan"
"ada dua buah mobil membuat keributan, mereka semua memakai topeng"
"Kami dalam bahaya !!"***
Masih banyak lagi pesan suara yang di tinggalkan Delta saat menghubungi ponsel Jordi dan Edward yang tidak tersambung.
"Apa perlu kita jawab pak ?" Tanya Jordi serius menatap Edward yang duduk santai di dalam mobil dengan mesin mobil yang menyala namun tak berjalan.
Mereka berhenti di satu jalan menuju vila dengan beberapa mobil yang membawa beberapa pengawalnya.
"Pak , " ujar Jordi lagi ketika Edward tak meresponnya, tatapan mata Edward terlihat fokus ke arah jalanan lurus di depan yang sedikit lagi hampir menuju vila.
"Pegang ini !" jawab Edward mengeluarkan senjata berupa pistol dari belakang bajunya , lalu menyerahkan pistol itu pada Jordi.
"Pistol ..untuk apa pak ?" mata Jordi terbelalak kaget menerima pistol itu meski bukan kali pertamanya ia melihat pistol sungguhan di depan matanya , hanya saja ia tidak bermaksud ingin menggunakan pistol itu untuk sekarang.
"Ingat apa yang aku katakan , kau tinggal tarik saja pelatuknya ke arah yang aku tujukan , jangan ragu !" sambung Edward lagi menatap Jordi serius.
"Baik pak" jawab Jordi kemudian mengeratkan pegangan pistol itu dalam genggamannya.
Tok....tok....tok... Kemudian kaca mobil di ketuk dari luar oleh seorang pria .
"Ada apa Wisnu?" tanya Edward membuka kaca mobil yang di ketuk oleh Wisnu.
"Tuan ,kepala pengawal sudah dilumpuhkan , sudah banyak yang menjadi korban jika kita tidak berangkat sekarang...
"Aku tahu , Tunggu sebentar lagi .." sambung Edward memutus perkataan Wisnu yang sudah mulai khawatir.
"Baik" jawab Wisnu menurut.
Sebenarnya apa yang pak Edward tunggu , bukankah menyelamatkan Bu Elisa menjadi prioritas utamanya , tapi kenapa dia masih ingin kita menunggu ? Jordi sedikit melirik heran pada Edward yang masih menuggu di jalanan itu meski ia sudah di dekat vila.
Pesan suara " Edward ,apa yang harus kami lakukan ?"
Pesan suara itu terdengar dari ponsel Jordi yang kembali ia buka .
"Ini pesan suara Dari Bu Elisa " ujar Jordi sedikit menyampaikan , sebenarnya Jordi sangat khawatir dengan keadaan orang-orang yang ada di vila , terlebih mengetahui begitu banyak pesan suara dari Delta teman sekantornya yang kini juga harus berurusan dengan masalah seperti ini.
" Jordi ingat yang aku katakan tadi! kita berangkat sekarang!!" Segera Edward menginjak pedal gasnya menuju vila yang sudah di depan mata , melihat hal itu semua mobil di belakang mengikutinya.
Perasaan gundah mulai di rasakan Jordi ketika sorot lampu mobil sudah memaparkan keadaan luar vila yang begitu berantakan .
Terlihat ada dua mobil yang terparkir di depan vila secara menyilang menghadang jalan , dengan segera para pengawal Edward turun menerobos masuk dengan beberapa tembakan yang secara mengejutkan membuat para pria bertopeng di dalam terkejut dan langsung keluar untuk balik melawan.
Edward segera Turun menyusul para pengawalnya di ikuti Wisnu yang berjaga dari belakang , Dengan jumlah banyak Edward berhasil menguasai vila kembali , namun saat itu Edward mengalami ancaman ketika tahu bahwa Elisa telah di sandera di atas dan di balik penyerangan itu rupanya adalah Markus .
Jordi yang sedikit gugup turun dari mobil dengan memegang pistol segera mendekat masuk ke dalam vila , di lihatnya ke arah ruang tengah di mana semua orang tengah berkumpul.
__ADS_1
Kepala pengawal Terlihat mengalami luka tembak di bagian bahu dan babak belur pada wajah , sementara di lantai banyak darah dari beberapa orang yang tertembak.
Bahkan ketika Jordi ingin melangkah ada seorang yang tengah terkapar dengan luka tembak di bagian dada nya ,orang tersebut merupakan kelompok penjahat bertopeng.
Tap, Kaki Jordi di pegang oleh satu tangan pria yang terkapar tadi.
"Dia masih hidup " ujar Jordi sedikit ngeri sambil menodongkan pistol yang di pegang nya ke arah pria itu, namun tidak lama pegangan tangan pria itu terlepas dari kakinya hal itu menandakan dia sudah mati.
"fiuhh..... Tahan Jordi , kamu pasti bisa , arahkan pada sasaran dan tarik pelatuk nya ,itu saja pasti bisa " ujarnya pelan sembari mendekat secara menyelinap masuk ke dalam meninggalkan orang tadi yang kini statusnya adalah mayat.
_
_
_
_
_
_
_
_
Dengan keadaan sedikit tegang , Edward sudah memberi kode pada Jordi agar segera menembak ke arah atas di mana ada dua lelaki yang tengah menyandera Elisa dan Delta , Namun nampaknya Jordi masih belum bisa mengeluarkan nyalinya.
Di tatapnya ke arah atas tangga di mana dua orang lelaki memakai topeng tengah memegang Elisa dan Delta yang tampak begitu khawatir.
"Mereka jelas di depan mata , tembak saja ,tembak saja !" ucap Jordi mengeluarkan keringat panas dingin nya sementara Edward masih berkata-kata untuk mengulur waktu.
Brengsek , Satu tembakan yang di layangkan oleh Markus mengenai Edward dengan tepat tanpa bisa di elak , Melihat hal itu pelatuk Jordi segera tertarik tanpa ragu sebanyak 4 kali mengenai dua orang di atas tangga yang tengah menyandera Delta dan Elisa hingga mereka terkapar langsung mati di tempat mengingat mereka tertembak di bagian kepala.
Begitu juga Dengan Markus yang mendapati serangan bertubi dari Wisnu dan para pengawal secara serempak mengetahui Edward sudah tertembak.
"Uhhh, ini semua salah ku , jika saja aku lebih berani waktu itu , Pasti pak Edward tidak akan tertembak.... salah ku.... salahku... " Jordi memukul-mukul kepalanya sendiri dengan duduk bersandar sedikit ke tepi dinding merasakan kesalahan yang sudah di lakukan ya.
"Jordi.." Suara terdengar memecahkan kegelisahannya akan rasa bersalah tadi.
"Delta, kamu sudah sadar ?" jawab Jordi segera bangkit dan menghampiri wanita yang di tunggunya tadi.
"Bagaimana keadaan Elisa , pak bos ? dia tadi bukan kah tertembak ?" dengan tidak tenang Delta segera ingin bangkit namun Jordi menahannya dengan memegang kedua bahu Delta.
"Tenang Del , tenang !! kamu pikirkan dulu keadaan mu , Bu Elisa baik-baik saja , sedang pak Edward ...
"Dia tertembak kan ?"
"Iya , itu semua salah ku " Jordi melepaskan pegangan tangannya dari bahu Delta, ia sedikit prustasi pula.
"Bagaimana bisa salahmu , Aku lihat bahwa semua ini karena ulah Markus , ayahnya Bu Belinda sialan itu !" umpat Delta kembali mengumpulkan tenaganya.
"Elisa pasti sangat terpukul , ini di rumah sakit , apa bisa kamu antar aku untuk menemui Elisa , pasti pak bos juga langsung di larikan ke sini bukan ?" sambung Delta kini benar-benar bangkit .
"Tubuh mu masih lemah , sebaiknya kamu istirahat dulu !" jawab Jordi seolah mencegah.
"Jordi ,aku baik-baik saja , ya memang aku masih sedikit syok tadi , tapi sekarang aku khawatir pada Elisa "
Delta benar-benar teman yang setia , dia benar-benar khawatir terhadap ibu Elisa , sedangkan kondisi nya saja masih begitu.
"Halo.. Jordi ! bisakah kamu mengantarku untuk menemui Elisa !" Delta melambaikan tangannya di hadapan pria yang kini menatapnya dengan perasaan aneh.
Delta Arnolen
__ADS_1
🤭🤭🤭 Bersambung......