
"Tuan " sapa Rena di depan pintu ketika berpapasan dengan Edward yang baru sampai.
"Elisa sedang apa ?" tanya Edward berhenti ketika sudah sampai di depan pintu .
"Non Lisa sedang istirahat tuan , tuan masuk saja, Bibi mau ke bawah sebentar mengambil pakaian non Lisa di mobil"
dengan segera Edward masuk tanpa mengetuk pintu , di lihat nya Elisa benar-benar terbaring dengan matanya yang terpejam.
Edward kemudian mendekati Elisa segera, ia tampak menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
Tok....tok.....
"Kau susah datang " seorang pria masuk setelah mengetuk pintu, Jordan.
"Yah ,apa dia mau di periksa?" tanya Edward tampak lesu .
"Aku hanya ingin meminta tanda tangan, kau kenapa ? " tanya Jordan memberikan beberapa kertas di atas map untuk di tandatangani Edward.
"Tidak apa? apa tidak masalah jika dia di rawat di rumah ?" tanya Edward seraya menandatangani cepat kertas itu.
"Tidak apa kawan ,selama dia rutin melakukan terapi ,itu akan sangat baik." jelas Jordan melirik ke arah Elisa yang tampak terbaring pulas .
"oke ,akan ku biarkan kau bersama wanitamu ini ,jika ada sesuatu panggil aku saja " tambah Jordan sedikit berkedip mata pada Edward untuk menggodanya.
"Dasar bodoh " sahut Edward menjawab tingkah temannya itu .
Setengah jam Elisa tampak benar-benar pulas dalam tidurnya , kini ia tampak terbangun dari tidur lelapnya itu ,sedikit membuka mata akibat tangannya yang terasa berat sekaligus panas dan berkeringat ,rupanya tangan itu di genggam erat oleh Edward yang terlelap pula di sampingnya ,tertidur bertumpu dengan lengan kirinya , pria itu tampak benar lelap dalan kelelahannya, Elisa yang tidak menyadari kehadiran pria itu merasa tidak enak , Meskipun tadi di telpon ada hal yang menganggap di hatinya , "Hemm, Dia benar-benar lelah " ucap Elisa seraya membuang nafas panjang menoleh Edward dengan sedikit ingin mengusap kepala pria yang tidur di sampingnya itu.
"Kau sudah bangun " Edward seketika terjaga saat tangan Elisa menyentuh kepalanya.
"Maaf, aku membangunkan ku yah ?"
"Tidak apa, " sedikit senyum manis di berikan Edward saat menatap Elisa .
"Kenapa kau kemari jika lelah , istirahat saja di rumah ,di sini kan ada Bi Rena , besok juga aku kan akan pulang " Elisa tak tega melihat raut wajah Edward yang benar tampak kelelahan .
"Di telpon tadi suaramu tiba-tiba berubah , aku pikir kau kenapa?" ucapan itu nampaknya membebani hati Edward , Elisa yang tadinya merasa janggal sebab ada suara seorang wanita yang berteriak ,malah menduga-duga yang tidak baik , kini Elisa merasa bersalah .
"aku hanya kelelahan , Maaf jika membuatmu khawatir " tambah Lisa lagi seraya memegang tangan Edward.
__ADS_1
"Apa kau sudah makan ?" tambah Lisa lagi berusaha duduk di bantu Edward yang segera bangkit ketika melihat Elisa kesusahan.
"Belum , bagaimana jika kita makan di luar ?" jawab Edward mengajukan saran.
"Kau ini , makan di luar bagaimana ? kau tidak lihat " Elisa melirik ke arah kaki nya yang sakit.
"Kan ada ini !" Edward menarik kursi roda di sebelah kirinya .
"Sini biar ku angkat kau kemari !" tambah Edward berusaha mengangkat Elisa ke atas kursi.
"Kau ingin membawaku keluar ?" tanya Lisa seraya celingukan ketika Edward sibuk merapikan infusnya yang di letakkan di belakang punggung Lisa .
"emm, sekarang ayo kita keluar !" jawab pria itu langsung mendorong kursi roda Lisa keluar ruangan .
" Ehhh, Tuan ,non Lisa mau di bawa kemana?" tanya Rena di luar kamar sedikit kaget.
"Kami ingin jalan-jalan di luar Bi, Bi Rena tunggu saja di sini !" jawab Edward melanjutkan langkahnya mendorong kursi roda Elisa , sementara itu Elisa hanya tersenyum bahagia melihat kelakuan Edward yang tak seperti biasanya.
"Apa dokter Jordan mengizinkan kita keluar ?" tanya Lisa di tengah perjalanan.
"kau tenang saja , Dia tidak akan berani bicara " jawab Edward dengan tawa kecil nya.
"Benarkah ?"
"tentu , em ,kau ingin makan apa ?" tanya Edward lagi masih mendorong Lisa , kini mereka masuk lip menuju lantai bawah .
"Memangnya di luar ada makanan apa saja?"
"Burger,Pidza,stik, atau ice cream"
"Itu sih bukan makanan yang mengenyangkan , Apa kau tahan makan makanan yang seperti itu ?"
"Boleh di coba " singkat Edward seraya mengusap kepala Lisa , Di pikir Lisa Edward mana pernah makan makanan luar seperti itu , sejak mengenalnya Edward hanya makan masakan rumah yang di ambil dari kebunnya sendiri ,tidak ingin makan sembarangan seperti itu.
"kau yakin !" tambah Lisa menoleh pria yang kini berdiri di sampingnya itu dengan senyuman yang tak pernah di lepaskan nya.
Dengan anggukan kepala Edward menyakini perkataannya itu pada wanita yang di cintai nya , saat pintu lip terbuka ,kembali Edward mendorong Lisa keluar rumah sakit ,kini mereka menuju beberapa kedai makanan yang berbaris rapi di jalanan sebrang gedung rumah sakit besar itu.
Banyak makanan cepat saji yang di jual di sana , para pegawai rumah sakit maupun pegawai kantoran di sekitar sana selalu datang berkunjung ke sana untuk sekedar ngopi ataupun santap siang.
__ADS_1
Edward memilih sebuah kedai mini yang menjual berbagai cake cantik nan lucu di sana , ada pula ice cream yang tampak unik menggugah selera , betapa senangnya Elisa menuju semua makanan yang menjadi cemilan enak baginya.
Berasa kembali menjadi anak remaja yang baru pacaran pikirnya jika makan di tempat seperti itu.
"Kau boleh pilih yang mana kau suka ?" ucap Edward menunjuk beberapa cake yang sangat lezat di hadapan mereka.
"Wahh, kau serius !" tak sabar Elisa meraih cake cantik di hadapannya itu dengan mimik wajah yang lucu ,hal itu membuat Edward tertawa geli.
"hahaha" tawa pria itu menjadi perhatian para pegawai di kedai itu.
"Hey , kau tertawa apa ?" ketus Lisa merasa terejek.
"Tidak ada , ayo makan lah !" dengan tiba-tiba Edward menyuap sesendok cake manis rasa stroberi ke mulut Lisa yang spontan di bukanya.
"Emmmm, enak . kau mau coba!" kini giliran Elisa menyuapi Edward dengan cake yang di atasnya bertaburan mayones manis yang berwarna-warni.
Edward pun terpaksa membuka mulut ,dan mengunyah makanan manis itu ,pikirnya banyak sekali pemanis dan pewarna di dalam nya, tapi....
"cake ini benar-benar enak ,tidak terlalu manis dan pekat ,aromanya juga sangat wangi" jawab Edward mengunyah habis cake itu , untuk pertama kalinya dia makan makanan di luar seperti itu .
"Tidak semuanya makanan di luar itu tidak enak , kau lihat yang ini " Elisa mengambil kembali satu buah cake mini yang di atasnya ada beberapa irisan stroberi .
"Inikan buah asli , sangat segar ,sudah pasti sehat dan enak " tambah Lisa segera memakan cake itu sendiri hingga mulutnya belepotan.
"Iya sehat, tapi jangan berlebihan !" Jawa. Edward sedikit mengelap bibir Lisa dengan tangannya , hal itu membuat Elisa memberhentikan makannya sedikit malu, ia baru sadar ,kini mereka tampak terang-terangan dalam berprilaku, tapi justru di sisi Edward itu adalah hal yang membuatnya senang .
Wajah Elisa sedikit tersipu malu , terlebih beberapa orang di sana tampak memperhatikan keakraban mereka berdua ,
Sedikit terdengar orang yang bicara ,mereka adalah pasangan yang serasi , ada pula yang bicara wanitanya cantik tapi sayang kakinya cacat , Dan banyak sebagainya, hal itu membuat Elisa mulai merasa tidak nyaman.
"Elisa kau kenapa?" tanya Edward sedikit berjongkok menghadap Elisa.
"Tidak apa , Apa kau ingin coba ice cream itu !" ucap Lisa tak ingin membuat suasana kacau ,ia menunjuk sebuah ice cream dengan toping berbagai macam.
"Tentu sayang , ayo kita makan itu !" jawab Edward sedikit mencubit pipi tembem Lisa yang semakin memerah malu.
Bersambung......
__ADS_1