Wanita Simpanan Yang Menawan

Wanita Simpanan Yang Menawan
Kabar_


__ADS_3

"Nak, Apa harus seperti ini keadaanmu ?" Suara parau terdengar dari mulut Zelin Turas yang menangisi anaknya yang kini terbaring tak berdaya dalam keadaan seperti mayat hidup.


Edward di nyatakan koma untuk sementara oleh dokter, hal ini jelas membuat seorang ibu sangat terpukul.


keadaan Edward sudah di beritahukan kepada Aleksander yang juga di rawat di rumah sakit tersebut , sementara itu Alek sendiri belum bisa melihat bagaimana keadaan anaknya lantaran ia sendiri masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit mengingat kondisinya juga tertembak parah, ia di temani oleh Duma istri keduanya hanya bisa pasrah sembari menatap layar monitor yang sengaja di adakan untuk memantau kondisi Edward yang ada di ruangan lain dari kamar nya.


"Duma, bisa kau temani Zelin untuk menenangkannya !" ujar Alek pada Duma yang berada di sampingnya.


"Bagaimana dengan dirimu ? kau sendirian di sini ?" jawab Duma tak tega membiarkan Alek sendiri.


"Di depan ada pengawal , dan manager ku sebentar lagi akan kemari , pergi lah !" perintah Alek dengan suara sedikit terbata.


"Baik lah , nanti aku akan kemari lagi " segera lah Duma tak menolak untuk pergi menemui Zelin di ruangan di mana Edward berada.


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


tok...tok.... tok....


"Kak, ini aku Duma " Duma segera masuk ke dalam setelah mengetuk pintu.


Di lihatnya Zelin masih menangis di samping Edward yang tengah koma, kemudian Duma segera menghampirinya.


"Sabar kak, jangan bersedih seperti itu" ujar Duma meraih kedua bahu Zelin menenangkannya.


"Dia pria yang kuat Duma, mengapa dia kini harus terbaring di sini , dia baru saja menikah" Dengan air mata yang bergelimang Zelin tambah menangis dengan di peluk oleh Duma.


"Aku paham kak , aku baru mengerti sekarang , bagaimana orang yang kita sayangi mengalami hal seperti ini ,tapi kita masih beruntung bahwa mereka masih selamat"


"yah, saya sangat bersyukur mereka selamat, tapi kasihan Elisa dia juga pasti sangat terpukul"


"Benar , sebaiknya kita berdoa saja semoga Edward segera sadar dari komanya" tambah Duma masih memeluk Zelin yang mulai tenang.

__ADS_1


sepertinya hati berdua memang lebih lah kuat dari pada hati yang sendirian.


"Maaf permisi Bu" seorang perawat datang dari luar dan segera masuk ke dalam mengingat pintu ruangan juga sudah terbuka saat Duma masuk tadi.


"Iya sus , ada apa?" tanya Duma lebih dulu menanyakan maksud kedatangan perawat.


"Maaf Bu , ibu Zelin di panggil dokter Vivi ke ruangan nya " jawab perawat itu tersenyum.


"Ada apa yah sus?" tanya Zelin bangkit dari kursinya.


"Ini mengenai nyonya Elisa Bu"


"Apa yang terjadi dengan anak saya sus?"


"he..nyonya Elisa baik-baik saja kok , sebaiknya ibu segera menemui dokter Vivi saja di ruangannya" jelas perawat itu.


"Pergi lah kak , biar di sini aku yang menjaga Edward " sambung Duma menimpali.


"Oh , baik lah terimakasih Duma , aku titip Edward yah padamu!"


"Iya kak , tentu"


"Oke , mari Bu saya antar ke ruangan dokter Vivi !" tawar perawat itu lebih dulu melangkah keluar.


"Iya terimakasih sus" Zelin kemudian mengikuti perawat itu untuk menemui dokter Bu Vivi di ruangannya.


Mereka menuju lip untuk pergi ke lantai atas rumah sakit besar itu, setelah tibanya mereka di lantai atas mereka kemudian sedikit menuju sebuah lorong dan bertemu sebuah ruangan yang cukup megah.


"Dok , ini Ibu Zelin sudah datang " ujar perawat itu sembari mengetuk pintu ruangan.


"Ada apa dokter Vivi memangil saya kemari?" tanya Zelin langsung pada intinya mengingat ia juga sangat khawatir pada Elisa.


"Silahkan duduk Bu !' jawab dokter Vivi ramah mempersilahkan Zelin duduk di hadapannya .


"Terimakasih" segeralah Zelin duduk tak sabar akan hal yang akan di sampaikan Vivi padanya.


"sus , tolong ambilkan hasil tes nya !" Vivi menyuruh perawat mengambil sebuah kertas bertulis di atas nakas ruangan itu.


"Ini dok" kemudian perawat menyodorkan selembar kertas yang merupakan hasil pemeriksaan terkait keadaan Elisa.


"Apa yang sebenarnya terjadi dok? Elisa tadi pingsan apa sekarang dia sudah sadar?" tanya Zelin kian khawatir dan penasaran.


"Begini Bu , sebenarnya nyonya Elisa baik-baik saja , hanya saja..


"Hanya saja apa dok?"


"Hemm, tenang Bu , ini adalah kabar baik , nyonya Elisa Sendang mengandung"


"Mengandung?"


"Iya Bu , dia hamil "

__ADS_1


"Elisa hamil " Zelin sangat terkejut bukan kepalang mendengar kabar itu , entah apa yang harus ia rasakan saat ini , ia sebenarnya sangat bahagia mendengar hal itu namun di satu sisi ia juga sangat sedih mengingat Edward yang jatuh koma.


"Nyonya Elisa mengalami syok hingga dia pingsan , namun jika di lihat dari tanda-tanda kondisi tubuhnya kami memutuskan untuk memeriksanya, dan ternyata benar , nyonya Elisa hamil, dan itu sudah memasuki bulan ke tiga " jawab dokter menyodorkan hasil pemeriksaan nya pada Zelin.


"Elisa , kamu benar-benar hamil nak , ibu sangat senang sekali mendengar nya " dengan tangan gemetar Zelin membaca hasil pemeriksaan nya yang menyatakan Elisa fositif hamil.


"Selamat ya Bu " ucap dokter Vivi turut senang, meski ia tahu ada banyak kejadian yang sulit tengah menimpa keluarga Aleksander Manopo tersebut.


"Te..terimakasih dok , terimakasih , kalau begitu saya akan segera menemui Elisa " Zelin kemudian bangkit sembari menjabat tangan Vivi sangat bahagia.


"Iya Bu , sama-sama , tapi saya harap ibu juga jangan tergesa-gesa memberitahukan hal ini pada nya , karena saya takut nyonya Elisa juga belum siap mendengarnya bila mengingat bagaimana kondisi pak Edward sekarang Bu "


"iya dok , saya juga sebenarnya berpikir begitu , nanti saya akan coba menjelaskan semua ini padanya secara perlahan , kalau begitu saya permisi dulu dok "


"Silahkan Bu ! sus tolong antar Bu Zelin ke ruangan nyonya Elisa !"


"Baik dok"


_


_


_


_


Lantai bawah ruangan Elisa.


Zelin segera masuk ke dalam ruangan dimana Elisa masih terbaring di atas tempat tidur , sementara Delta kini tampak berdiri di dekat jendela yang menghadap ke luar rumah sakit.


"Eh Ibu direktur" sapa Delta mengetahui Zelin masuk seketika.


"Bagaimana keadaan Elisa Del?" tanya Zelin kemudian mendekat ke arah dimana Elisa terbaring.


"Elisa belum sadar Bu , tapi tadi sudah ada perawat yang memeriksanya, katanya tak masalah sebab ia sudah di pasang infus"


"Ya, makasih Del , kamu sudah mau menjaga Elisa hingga larut seperti ini"


"Tidak masalah Bu , itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai bawahan pak Edward sekaligus teman nya Elisa " Delta melangkah mendekati Zelin yang kini duduk di samping Elisa sembari menggenggam erat tangan wanita yang merupakan menantunya tersebut.


"Nak ,bangun lah ! ibu punya kabar bahagia untuk mu !" ujar Zelin sendu dan pilu.


Menyaksikan hal itu membuat Delta sedikit terharu dan turut sedih sekaligus prihatin terhadap mereka.


"Elisa , kamu adalah wanita pertama yang sudah membuat anak ibu jatuh hati dan merubahnya menjadi orang yang lebih baik , ibu sangat bahagia saat ini , ibu harap kamu bisa merasakan kebahagian ibu juga nak " dengan kembali menangis Zelin sangat tak kuasa.


"Bu Direktur, ibu yang sabar yah !" ujar Delta kini mengusap bahu Zelin berusaha memberi dukungan terhadap nya .


"Iya Del , sekali lagi terimakasih untukmu , sudah mau menjadi bagian dari kesedihan kami "...


"Sama-sama Bu, Elisa kamu dengarkan, kamu tidak sendirian Lisa , kami selalu ada untukmu , bangun Elisa !" delta juga mengusap jemari Elisa berusaha agar Elisa dapat merespon nya.

__ADS_1


Delta yakin Elisa bisa mendengar nya , dan berharap Elisa bisa segera sadar .


bersambung .....


__ADS_2