
BAB 74.
Sehingga Alex bisa tenang mengatasi rintangan percintaan nya dengan Rani sampai selesai, walau pun seperti itu, tetap saja Alex harus mengontrol pekerjaan nya setiap Pagi dari jarak jauh.
Alex mendengar suara pintu kamar di ketuk beberapa kali oleh Ibu nya, Alex diminta untuk segera turun, karna sarapan pagi sudah siap.
Alex membereskan terlebih dahulu semua alat-alat yang sudah membantunya bekerja, Alex merapihkan sedikit rambut nya saat sudah selesai melakukan pekerjaan nya.
Alex keluar dari kamar nya, Alex melihat Ibu nya lebih segar tidak seperti orang yang sedang sakit di pagi itu, tapi Alex selalu mendengar keluhan rasa sakit pada tubuh Ibu nya, Alex selalu mengiyakan apa yang di keluhkan oleh Ibu nya itu.
Alasan rasa sakit yang di utarakan oleh Ibu nya Alex hanya sebagai alasan agar Alex tidak pergi dari rumah untuk menyusul Rani kembali ke Luar Negri, Alex memang sengaja akan selalu ada di samping Ibu nya, tapi yang Alex lakukan bukan karna percaya akan rasa sakit yang di rasakan oleh Ibu nya, dan juga bukan karna Alex tidak perduli pada Rani.
Tapi dengan Alex berada di samping Ibu nya, Alex akan lebih mudah memperhatikan setiap permainan yang di berikan oleh Denis untuk menghancurkan hubungan nya dengan Rani, walaupun Alex harus menelan pil pahit, karna Ibu nya lah yang di jadikan alat oleh Denis.
"Morning Mom, Mommy pagi ini kelihatan segar sekali. " Sapa Alex sambil duduk di kursi makan yang sudah di siapkan.
"Mommy masih pusing Lex. " Jawab Ibu nya Alex seketika lemas.
"Oh begitu ya Mom, Alex akan tetap tinggal di samping Mommy, sampai Mommy benar-benar sehat. " Ucap Alex sengaja membuat Ibu nya semakin percaya dan tidak curiga.
Ibu nya Alex seketika tertawa di dalam hati nya, karna merasa menang dari Rani.
__ADS_1
Alex melihat makanan yang sudah di siapkan begitu menggiurkan, dari makanan ringan sampai berat pun sudah ada di meja makan.
Alex melihat Ibu nya mengambil n makanan berat , Alex masih membiarkan Ibu nya mengambil sedikit nasi karna memang Ibu nya Alex tidak di perbolehkan mengkonsumsi nasi terlalu banyak, namun saat Alex melihat Ibu nya mengambil sayur untuk di tuangkan ke dalam mangkuk yang sudah berisi nasi itu, Alex menghentikan nya.
Karna Alex melihat sayur itu terlalu berminyak dan memakai kuah santan, " Stop Mom, baru saja Mommy mengatakan jika Mommy masih pusing, itu bisa saja kadar kolesterol Mommy naik, jadi Mommy tidak boleh makan yang berminyak terlebih dahulu, kalo Mommy makan makanan yang berminyak, rasa pusing Mommy tidak akan sembuh dan itu Arti nya Alex tidak bisa pergi untuk bekerja. " Ucap Alex berhasil membuat Ibu nya diam tidak bergerak sama sekali.
"O-oiyah Mommy sampai lupa Alex. " Jawab Ibu nya Alex gugup, padahal ia ingin sekali memakan nasi beserta sayur yang terlihat menggiurkan itu.
Alex tersenyum dalam hati nya saat melihat wajah Ibu nya dengan sangat berat harus mengganti menu makanan nya.
Di tempat lain Rani sudah mulai mengerjakan apa yang harus ia kerjakan, mengontrol semua hal yang berkaitan dengan keuangan. Rani masih melihat laporan keuangan baik-baik saja.
"Pagi Nona, Wow sudah di kantor saja sepagi ini. Siapa yang menjemput tuan Putri ini, tadi nya Saya mau menjemput anda Nona. " Sapa Devan dengan lembut mendekat ke arah Rani yang sedang duduk di kursi kerja nya.
Rani melihat ke arah Erik yang berada di belakang Devan, Erik seperti ketakutan jika Rani sampai mengatakan bahwa Erik lah yang menjemput nya.
"Tidak usah terima kasih, tadi Sopir yang menjemput ku. " Jawab Rani tegas tanpa melirik Devan sedikit pun, sementara Erik sangat lega mendengar nya.
Rani melihat Devan masih berada di hadapan nya tanpa pergi sedikitpun. "Apa kamu mau melihat pekerjaan ku saja hari ini ?? " Tanya Rani sedikit ketus.
Devan menegakkan tubuh nya. " Tentu saja tidak Nona, banyak perkejaan yang Tuan besar kasih untuk saya, jadi saya masih banyak pekerjaan hari ini. "
__ADS_1
"Baguslah, pergunakan lah kepercayaan Orang tua ku sebaik-baik nya, jangan sampai kepercayaan itu jatuh pada tangan Orang lain. " Celetuk Rani tanpa jeda sedikit pun.
Devan langsung pergi ke ruangan nya, "Sial, awas kau wanita munafik, aku akan menggenggam mu erat-erat sampai kau tidak akan bisa lepas dari tangan ku. " Dengus Devan sambil tersenyum licik dalam hati nya.
Erik sangat khawatir akan sikap jutek yang Rani tunjukan, karna dengan begitu Devan pasti akan lebih genjar memikirkan hal buruk untuk Rani, sampai diri nya merasa puas.
"Rik, jangan sampai wanita munafik itu tau tentang apa yang sebenar nya terjadi, kalau sampai tau apa yang kamu takut kan akan terjadi. Paham !! " Ancam Devan pada Erik.
"Tapi Tuan, apa seharusnya Tuan menghentikan nya terlebih dahulu sampai Nona Rani kembali ke tanah air. " Usul Erik agar Rani setidak nya akan lebih aman.
"Apa kamu bilang menghentikan nya ?? Jangan harap wanita itu lolos, dia akan dijadikan alat supaya aku bisa menghancurkan kedua Orang tua nya. " Ucap kesal Devan, sambil menarik kerah baju Erik dengan erat.
Erik melihat sekitar, berharap Rani bisa mendengar nya, namun sayang Erik melihat Rani masih duduk dengan memeriksa selembaran Kertas dan Laptop di hadapan nya.
Dan sudah pasti Rani tidak mendengar pernyataan yang Devan utarakan pada Erik saat itu.
"Keberadaan Rani saat ini memang sedang terancam, bagaimana ini. Aku bisa saja menolong Rani tapi bagaimana dengan keluarga ku di rumah dan bagaimana nasib Kedua Orang tua ku di Rumah sakit. " Gumam Erik sangat bimbang dengan pilihan yang harus dia pilih saat itu.
Devan melepaskan genggaman nya pada kerah baju Erik, Erik sangat kesal apda Devan ingin sekali dia mendaratkan pukulan nya di wajah Devan, bahkan dari sebelum Rani datang Erik sudah ingin menghancurkan Devan, tapi Erik belum mendapatkan cara, apalagi semua nasib hidup nya sudah ada di tangan Devan.
Rani mengingat ucapan Erik tentang keluarga nya, Rani tau Erik bisa membantu nya, tapi dengan cara, Rani harus membebaskan terlebih dahulu Erik dari genggaman Devan.
__ADS_1