
BAB 87.
Alex tersenyum simpul. " Kata siapa saya akan membahas privasi anda Pak Devan, saya pun sama tidak suka jika ada yang mengganggu privasi saya. Kenapa anda berpikiran bahwa saya akan mencampuri urusan pribadi anda Pak ? "
"Begini Pak Alex, maksud saya .... " Devan mencoba menenangkan keadaan.
"Maksud anda, seperti tadi kan apa maksud saya ingin berbicara pada anda dan juga Rani. " Sambung Alex.
Alex sudah tidak bisa mengukur waktu lagi, masih banyak yang harus Alex selesai kan.
"Rik, apa kamu sudah siapkan berkas yang saya minta ? " Tanya Alex membuat Devan menatap Erik dengan serius.
"Oh, sudah Pak ! sebentar saya ambil kan dulu. " Jawab Erik tenang.
Erik sudah tau ia akan ada di posisi tersebut, maka dari itu Erik sudah mempersiapkan diri nya.
"Berkas apa ya Pak ? kenapa saya tidak tahu ? " Tanya Devan seperti orang bodoh.
"Ini Pak. " Ujar Erik sambil menyodorkan beberapa Map perusahaan asli yang tidak ada kepalsuan di dalam nya.
"Rik, kamu ini kerja sama saya ! kenapa kamu melangkahi saya ? " Tanya Devan dengan wajah kesal nya.
Rani semakin tidak mengerti dengan ucapan Alex dan sikap Erik saat itu.
Namun Rani tidak berani berkata, dan takut jika Devan akan mengatakan bahwa Rani sedang mengandung anak Devan.
Jika Devan sampai mengatakan nya, bagi Rani itu adalah akhir dari segala nya, Rani cemas dan tak bisa berbuat apa-apa.
Dada nya sesak, terasa di himpit beban beberapa Ton yang ia rasakan, untuk bernafas pun Rani sangat susah rasa nya.
__ADS_1
"Sekarang apa yang kamu ingin kan Ran ? " Tanya Alex tiba-tiba pada Rani yang masih sibuk dengan pikiran nya.
Rani hanya menatap Alex dengan satu keinginan, yaitu keinginan untuk memutar waktu untuk tidak bertemu dengan bajingan seperti Devan.
"Tidak usah kamu jawab, aku sudah tau jawaban nya. Tapi yakin lah kamu tidak akan pernah menyesali apa pun yang sudah terjadi pada hidup mu sekarang. " Jelas Alex menatap dalam mata Rani.
"Maaf Pak, saya semakin tidak mengerti, anda seolah-olah sudah mengenal dekat calon istri saya ini. Tolong jelas kan jangan membuat bingung saa seperti ini. " Ujar Devan tegas.
"Baik, anda di ibaratkan bom waktu karna apa ? Anda yang akan meminta dan meledakan bom waktu itu dengan ke inginan anda sendiri. " Ujar Alex.
"Saya ingin bekerja sama dengan perusahaan yang benar-benar jujur, oleh karna itu saya menyetujui bekerja sama dengan perusahaan ini bukan karna nama anda Pak Devan, tapi karna nama Pak Iwan dan anak nya Rani. Dan anda pasti bingung Pak Devan kenapa saya begitu jeli terhadap keluarga pemilik dari perusahaan ini, karna apa karna anda sudah menyalahgunakan kepercayaan dan sudah mempermainkan hak milik saya. " Jelas Alex tanpa jeda.
"Saya melakukan semua nya atas persetujuan Pak Iwan Sudirja, dan atas dasar apa anda mengatakan bahwa saya menyalahgunakan kepercayaan Pak Iwan, dan tentu anda bukan orang bodoh Pak Alex, saya tidak akan berdiri sampai detik ini di perusahaan ini jika tidak ada persetujuan dari Pak Iwan. Dan apa maksud anda tentan hak milik anda ? Saya sudah mengambil hak anda yang mana Pak ? " Tanya Devan masih mengeraskan suara nya.
Suasana semakin memanas saat itu.
Semakin semangat Alex membuka kedok Devan.
Deg .... Devan mulai gugup.
"Rik ? " Tanya Devan tanpa mengajukan pertanyaan pada Erik, namun tatapan Devan sudah membuat Erik mengerti.
"Anda Ber urusan sama saya, Erik dan Rani hanyalah korban di sini. Bukan begitu Rik ? " Tanya Alex pada Erik.
"Anda sudah keterlaluan Pak Alex, saya menyesal sudah mengajukan kerja sama dengan perusahaan anda, untuk itu saya batalkan perjanjian kerja sama kita, dan tolong keluar dari perusahaan saya. " Devan mengusir seorang Alex dari hadapan nya.
Alex tertawa terbahak. " Hahahahaha .... ini baru satu kebusukan anda saja yang terbongkar, apa anda tidak ingin tahu kebusukan anda yang lain nya. "
"Sudah lah Lex, Stop jangan terlalu mencampuri perusahaan Ayah ku. " Ucap Rani tidak ingin sampai Devan emosi dan mengatakan apa yang tidak mau dengar.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, dan kamu jangan takut. " Jawab Alex sambil memegang tangan Rani.
Erik yang melihat sikap Alex pada Rani semakin yakin bahwa Alex benar-banar mencintai Rani.
"Aku tidak salah membantu dan beretemu dengan Tuan Alex. " Batin Erik lega.
"Anda sudah keterlalu Pak. " Ucap keras Devan sambil menarik lengan Rani dengan keras nya.
Alex semakin geram, apalagi saat mengingat jika sekarang Rani sedang mengandung darah daging nya.
"Kamu sudah hancur Devan, semua berkas ini sudah sampai dari ke tangan Pak Iwan, sebaik nya kamu bereskan barang dan segera pergi dari sini. " Alex mulai mengumpulkan tenaga nya, namun masih bisa ia kontrol.
Devan yang keras kepala malah tertawa bebas, " Tidak segampang itu Tuan, saya menginjakan kaki di perusahaan ini bukan satu dua hari, atau bukan dalam hitungan jam. Jadi anda tidak akan mudah menjatuhkan saya dalam hitungan jam saja. "
"Ok baiklah, saya akan lihat cara kamu bertahan itu seperti apa ? " Kecam Alex melihat Devan dengan tenang.
"Asal Anda tahu Pak Alex, Pak Iwan tidak akan berani memecat saya, karna sekali saya buat pernyataan kehancuran Pak Iwan ada di tangan saya. " Ancam Devan sambil menatap Rani.
Rani seketika menggelengkan kepala nya, dan memohon agar Devan tidak mengatakan nya.
"Wow, senjata apa lagi ? Anda akan mengatakan bahwa anda sudah menghamili anak nya Pak Iwan, Rani ini ? Hahahahahaha. " Sambung Alex berhasil menusuk Devan dari arah manapun sambil bertepuk tangan.
Duarrrrrr .... seketika Rani terasa di sambar petir, tubuh nya gemetar hebat, mulut nya seperti terkunci dan langsung menundukan kepala nya lalu menangis.
"Oh ... jadi anda sudah tahu juga ! bagus lah, jadi betul kan apa kata saya. Pak Iwan tidak akan berani memecat saya. " Devan merasa menang saat itu.
Rani melihat kekecewaan di wajah Alex, namun sebenar nya bukanlah kekecewaan tapi emosi pada Devan yang masih bisa tertawa terbahak.
Dan tiba-tiba ada 4 Orang Laki-laki berpakaian Serba Hitam mengenakan senjata lengkap masuk tanpa permisi ke dalam ruangan Devan.
__ADS_1
Semua orang membulatkan mata nya, dan takut akan kedatangan 4 orang itu, tapi tidak untuk Alex, Alex sudah pasti tahu Pak Iwan ayah Rani pasti akan langsung melaporkan nya. mereka tahu itu adalah Polisi di negara itu.