
Hari itu tidak banyak yang mereka lakukan aktivitas mereka hanya di dalam apartemen saja, malam pun tiba.
Kedua nya memutuskan untuk mengobrol di balkon apartemen, obrolan ituh di buka oleh Alex saat Rani menghampiri Alex dengan dua gelas cangkir kopi untuk Alex ,dan secangkir teh hangat untuk diri nya.
Alex tersenyum saat mendapati Rani sudah terlihat lebih baik, mengenakan baju tidur kimono warna peach membuat Alex gemas melihat nya.
Alex menarik Rani dan ia dudukan di pangkuan nya, dengan gemas Rani melingkarkan kedua tangan nya di pundak Alex.
Obrolan serius pun terjalin di malam itu.
"Sayang, kenapa kamu tega ingin menyuruh ku untuk menjauh ? Apa kamu bisa tanpa diri ku ? " Tanya Alex melingkarkan tangan nya di pinggang Rani.
Rani tersenyum tipis. " Maaf kan aku Sayang, aku terlalu malu untuk mengatakan nya, sungguh andai semua itu menjadi nyata, entah jadi apa aku ini. "
"Dengarkan aku, seberat apa pun masalah yang menghimpit kita, bicarakan lah, aku tidak akan pernah memaaf kan diri ku sendiri seandai nya kamu terluka atau pun terjebak di dalam masalah yang aku sendiri tidak menyadari nya. " Jelas Alex meminta pada Rani.
"Baik lah, Maaf kan aku ! Lalu bagaimana kita kedepan nya, masalah belum selesai di Tanah air. Bagaimana dengan Ibu ? " Ungkap Rani membuat Alex tersenyum ringan.
"Hampir selesai Sayang, aku sudah tahu dalang di balik benci nya Mommy terhadap diri mu. Kamu jangan khawatir semua akan baik-baik saja, tapi syarat nya ya itu tadi kamu tidak boleh diam ketika sakit, dan tentu nya kamu harus sehat bersama janin yang ada di perut kamu itu, karna apa ? Dia adalah calon masa depan kita. " Jelas Alex mencubit lembut hidung Rani.
"Siapa ? " Tanya Rani singkat.
"Siapa lagi kalau bukan benalu yang sama, Mantan suami kamu Sayang. Tapi sudah lah semua sudah ku atasi hampir selesai. " Ungkap tenang Alex.
Rani mengerutkan dahi nya. " Benar kah ? Kenapa dia sekeras itu ? Ya ampun aku jadi takut untuk pulang ke tanah air Sayang. "
"Tidak usah takut, mungkin sekarang Petra sudah memutasikan Denis ke pelosok dunia, dan tidak akan kembali lagi. " Alex tertawa saat mengucapkan nya.
"Benar kah ? apa tidak kasihan terhadap Gwen dia pasti sudah melahirkan sekarang ini. " Timpal Rani
__ADS_1
"Dia sudah tidak bersama dengan Gwen Sayang, sebelum Gwen melahirkan Gwen ketahuan belang nya oleh Denis. Jadi Denis tidak mau mempertanggung jawab kan anak yang di lahirkan oleh Gwen. " Jelas Alex.
Rani terkejut. " Itu lebih membuat ku terkejut, miris sekali kehidupan mereka. "
"Ya sudah, masalah Denis biarkan saja menjadi urusan ku. Sekarang waktu nya kita beristirahat, sebelum kita habis kan segelas kopi dan teh hangat ini. " Ujar Alex.
Rani turun dari pangkuan Alex, dan duduk di samping Alex sambil menikmati Teh hangat dan melihat pemandangan di hadapan mata nya.
"Maaf kan aku Tuhan, sudah ber prasangka buruk terhadap mu, ternyata kebahagiaan lah yang sedang engkau simpan untuk ku, satukan lah kami. " Doa Rani di dalam hati nya.
Rani mengabarkan pada kedua Orangtuanya akan segera pulang ke tanah Air, kedua Orang tua nya pun menyetujui keinginan Rani.
Kedua Orangtua Rani tak bisa datang ke negara itu, karna Ayah Rani sedang sakit dan masih dalam proses pemulihan.
Malam itu layak nya pengantin baru, Alex menggendong Rani menuju tempat tidur, Alex letakan Rani di atas tempat tidur.
Ada hasrat menggelora di antara kedua nya, " Sayang tadi Dokter memberikan pesan pada ku jika kita tidak boleh dulu berhubungan badan, Jadi kita tahan ya demi anak kita. " Ucap Alex membelai wajah Rani.
"Tidak, itu lebih baik sampai kita menikah nanti nya. " Jawab Alex berbohong sebenar nya dia sangat ingin sekali menjajaki tubuh Rani.
Alex berbaring di samping Rani, dengan wajah sejajar membuat kedua nya mampu merasakan deruan napas yang begitu hangat.
Alex tak tahan melihat bibir mungil sang kekasih, Alex mendekat dan menguasai bibir mungil itu.
Dengan senang hati Rani membuka untuk mempersilahkan mengabsen setiap sisi yang ada di rahang nya.
Sungguh kini antara kedua nya saling menuntut, namun sesekali Alex memberikan isyarat untuk menahan nya.
Rani membelai tubuh Alex, namun tidak sampai pada senjata Alex. Padahal senjata Alex sudah berdiri tegap.
__ADS_1
Suara kedua nya menjadi Aneh, Alex membiarkan Rani bernafas terlebih dahulu, dan kini Alex turun menjajaki kedua gundukan Rani yang membuat Rani semakin sensitif.
Alex menempatkan diri nya seperti anak bayi yang haus akan Asi dari Ibu nya, Rani menggigit kecil BiBir nya.
Alex mendengar suara Rani begitu menggoda, Alex menuntun tangan Rani untuk membantu diri nya melepaskan hasrat yang begitu besar.
Benar saja Senjata Alex sudah berdiri tegap, namun hebat nya Alex bisa menahan.
Alex terus saja menguasai kedua gundukan milik Rani, dengan mulut dan kedua tangan nya. Sementara Rani dengan bebas memainkan benda elastis itu.
Semakin besar keuatan Alex saat menghisap Unjung gundukan Rani, semakin menggeliat Rani di buat nya.
Rani meremas hebat rambut Alex, dan terus saja menggeliat tanda Rani sedang menikmati puncak kehangatan yang di berikan oleh Alex pada anggota tubuh nya.
Rani semakin gencar memainkan benda milik Rani, Alex terdiam dan memejamkan mata nya, Alex langsung loncat dan masuk ke dalam kamar mandi, ia tuntas kan di kamar mandi.
Rani sampai kaget saat Alex loncat, " Sayang ! " Ucap Rani.
"Sebentar aku tidak kuat. " Teriak Alex membuat Rani tertawa terbahak.
Dengan nafas berderu Alex diam di dalam kamar mandi setelah menuntaskan hasrat nya, " Uhh sial hampir saya aku mengotori tempat tidur, syukur lah aku bisa menahan nya sampai ke kamar mandi, ini demi kamu anak ku. "
Rani berdiri dan menunggu Alex di depan pintu kamar mandi, setelah Alex keluar Rani tak kuat menahan tawa nya.
"Tertawa lah, selagi itu membuat mu bahagia. " Ucap datar Alex merapihkan rambut nya.
"Sakit Sayang, Bisa-bisa rambut ku rontok sayang, kamu Jambak seperti tadi. " Ujar Alex sambil mengusap ngusap rambut nya.
Rani semakin tertawa terbahak, " Ya lagian kamu yang membuat ku seperti itu, kenapa harus loncat ke kamar mandi sih Sayang kalau jatuh bagaimana ? di tempat tidur juga gak papa harus nya. "
__ADS_1
"Gak ah, nanti kami tidur nya gak nyaman kalau tempat tidur nya kotor. " Ujar Alex mengambil ****** ***** dan celana pendek, kini ia sedang menggunakan kain handuk saja.
Kebahagian mereka terjalin saat kedua nya bertingkah konyol dan itu hanya mereka yang tahu.