Aku Dan Maduku

Aku Dan Maduku
Khawatir


__ADS_3

BAB 77.


Devan menarik lengan Rani dan memaksa nya, namun Erik dapat melihat nya. Erik langsung masuk dan menghentikan kekerasan yang akan di lakukan oleh Devan.


"Pak, jangan Pak kasian Non Rani. " Ucap Erik berhasil membuat Rani terlepas.


"Hem ... kali ini kamu bisa lolos sayangku, tapi lain kali kamu sendiri yang akan meminta nya pada ku. " Bisik Devan pada Rani.


"Kamu akan menyesal Van. " Ucap Rani mengancam keras pada Devan.


Rani langsung meminta laporan keuangan dari Erik, dan Erik dengan singap memberikan nya.


" Non, jika bisa Non pulang saja dan suruh orang lain yang mengurusi perusahaan ini, saya khawatir. " Ucap Erik memberitahukan pada Rani.


"Kamu tenang saja Rik, dibalik kelemahan saya ada seseorang yang kuat, dia yang akan membereskan nya ! kamu tenang saja. " Jawab Rani membuat Erik tidak mengerti.


"Maksud Non Tuan besar ? " Tanya Erik agar lebih jelas.


Rani hanya tersenyum, saat melihat Erik bersama dengan penasaran nya.


Devan semakin gencar merencanakan sesuatu agar diri nya memang, dan Rani kalah. Devan ingin kekalahan Rani bertekuk lutut di kaki nya.


Sungguh Devan tidak mau jika kesempatan nya untuk menjadi pemilik perusahaan besar itu Sia-sia, namun kali ini Devan enggan meminta bantuan dari Erik karna Devan tau rencana nya tidak akan berjalan dengan baik.


Rani mulai mendapatkan Info tentang kehidupan Erik, ternyata Erik adalah tulang punggung dari sebuah keluarga yang kurang beruntung, kedua Orang Tua Erik mengalami kecelakaan parah sehingga membuat kedua nya koma, dan harus tetap berada di dalam Rumah sakit selama masa koma nya dapat terlewati.


Sementara adik bungsu nya mempunyai riwayat leukimia sehingga Erik pun harus siap siaga untuk menjalani pengobatan kemoterapi adik nya.

__ADS_1


Sampai situ Rani paham, kenapa Devan menganggap Erik itu Lemah, Devan menjadikan musibah yang menimpa Erik adalah suatu kelamahan lalu di jadikan alat oleh Devan, untuk menggenggam erat Erik dalam hal pekerjaan.


Rani tidak ingin membicarakan nya langsung pada Erik sampai Rani menemukan waktu yang Pas, Rani bisa saja membantu Erik untuk sekarang ini, namun Rani harus meminta bantuan dari kedua Orang tua nya, karna biaya Rumah sakit untuk tiga Orang pasien itu tidak sedikit.


Rani ingin memeriksa perangkat kerja Devan, untuk menemukan apa yang dia cari selama ini, Rani tidak mungkin bisa mendapatkan bukti dari perangkat Erik, karna pasti Devan sudah mengantisipasi nya dari awal.


Tapi Rani belum menemukan waktu lengah untuk masuk secara diam-diam ke dalam ruangan Devan.


Rani menghela nafas panjang untuk beristirahat sejenak, Rani mengambil ponsel nya karna Rani ingin menghubungi kekasih hati nya Alex, lagi-lagi sambungan telpon itu tidak bisa tersambung.


"Kapan kau akan menemui ku Lex, banyak hal yang harus aku ceritakan padamu Sayang. " Ucap Rani dalam lelah nya.


Tiba-tiba suara Ponsel Rani berdering, Rani terperanjat berharap yang menghubungi nya adalah Alex, namun dugaan Rani salah dia adalan Ayah nya.


Rani sedikit kecewa pada saat itu.


~" Hallo Dad !! " Ucap Rani pada Ayah nya.


~"Kurang baik Dad. " Jawab Rani tidak semangat.


~"Apa ada masalah ? " Tanya Ayah Rani dengan cepat.


~"Dad, jangan anggap Devan itu Laki-laki yang baik, Rani tidak menyukainya. " Ucap Rani pada Ayah nya.


Di sudut lain Devan sedang mendengar pembicaraan yang Rani lakukan dengan Ayah nya, " Sial, belum tau semua kedok ku dia sudah berkata seperti itu pada Tuan Besar. Aku tidak boleh mengulur waktu lagi, aku harus segera bertindak. " Dengus Devan kesal.


~"Sudahlah Nak, Daddy sudah mengenal siapa Devan itu, jadi kamu jangan khawatir ya ! pulang lah Nak, jika kamu sudah inginp pulang. " Ucap Ayah Rani dalam sambungan telepon itu.

__ADS_1


~"Rani akan pulang yah, jika semua nya sudah Baik-baik saja." Jawab Rani.


Rani tidak bisa menjelaskan lebih banyak lewat ponsel nya, Rani lebih memilih untuk mengakhiri pembicaraan nya bersama dengan ayah nya


Naluri Erik sebagai Laki-laki seketika muncul terhadap Rani, Arik tidak boleh lengah dan Erik pun tidak boleh salah dalam melangkah.


Erik ingin sekali membantu Rani, tapi Erik juga tau jika bantuan nya itu tidak boleh jadi ancaman baru bagi dirinya.


Erik kini sering bersama dengan Devan, Erik selalu buat alasan untuk selalu ada Berasama dengan Devan, tanpa Devan merasa curiga.


Di satu waktu Rani mendapati ruangan Devan kosong, karna Devan dan Erik baru saja pergi untuk bertemu dengan salah satu investor, Rani berpikir itu adalah kesempatan nya.


Rani mengendap perlahan sambil melihat situasi di sekeliling nya, saat Rani merasa Aman Rani masuk dan langsung tertuju pada perangkat nya, Rani sudah merasa yakin namun ketegangan kini menyelimuti perasaannya.


Rani merasa kebingungan saat akan mengoperasikan perangkat yang selalu Devan pakai, namun saat Rani melihat sebuah kalender yang ada di meja kerja Devan, Rani melihat ada satu tanggal yang Devan beri tanda, Rani meningkat tgl itu seperti tgl lahir Devan, dan untung nya Rani sempat melihat bidodata Devan beberapa waktu lalu.


Tak salah Devan menggunakan tgl, bulan, dan tahun kelahiran nya sebagai kata kunci untuk perangkat nya, Rani mengcopy semua data ke flashdisk nya.


Saat semua hampir selesai Rani dengan cepat menghapus jejak nya agar Devan tidak curiga, namun saat Rani hendak keluar dari ruangan Devan, Rani melihat Devan dan Erik sudah hampir masuk ke dalam ruangan nya.


Rani gugup dan kaget seketika, dan mencari tempat untuk bersembunyi. "Mampus, kenapa dia datang begitu cepat sih !! " Dengus Rani bersembunyi di belakang lemari.


Erik sudah curiga karna hanya Erik yang melihat ke arah ruangan Rani, dan di sana Erik tidak mendapati Rani, Erik mulai gencar melihat ke arah mana pun agar melihat sosok Rani.


Namun saat Devan dan Erik sudah berhasil masuk ke dalam ruangan Devan, Erik melihat bayangan Rani berada di belakang Lemari dari pantulan cermin, seketika Erik mrnghalangi cermin itu, dan menyarankan pada Devan untuk ke kamar mandi tet lebih dahulu, dengan alasan Erik melihat banyak debu di wajah Devan.


Saat Devan masuk ke dalam kamar mandi, dengan gesit nya Erik menarik lengan Rani dan membawa nya keluar dari ruangan Devan.

__ADS_1


"Non, apa yang Non lakukan ? itu bahaya Non. " Ucap khawatir Erik pada Rani.


Rani tidak ingin berbicara pada Erik jika dia sudah mengcopy semua data perusahaan dari perangkat Devan, " Ti-tidak Rik, tadi saya hanya ingin lihat-lihat saja, saat saya hendak kaluar, saya melihat Devan dan kamu datang. Jadi saya sembunyi di belakang lemari itu. " Jelas Rani pada Erik.


__ADS_2