Aku Dan Maduku

Aku Dan Maduku
Ke panikan Rani.


__ADS_3

BAB 86.


"Sial sombong sekali dia. " Dengus Devan di dalam senyuman palsu nya.


"Saya sangat kagum Pak, dengan semua pencapaian Pak Alex di usia muda Bpk sekarang ini. " Puji Devan sangat manis.


Alex menatap Devan dan menyunggingkan senyuman datar nya. " Ya tentu saja, saya melakukan nya atas dasar ke jujuran, pantas lah saya mendapatkan ini semua dengan cepat dan mudah. Bukan kan jika semua di landasi dengan ke jujuran, akan berjalan dengan baik dan akan bertahan sampai kapan pun, berbeda jika dasar nya di landari dengan kebohongan, ke licikan dan ke rakusan sudah jelas itu akan berjalan dengan lamban dan akan hancur dengan sendiri nya, emm.... bukan begitu Pak Devan ? " Alex mulai menunjukan sifat asli nya.


1


2


3


Devan hanya terdiam dan mengerutkan kening nya, sementara Erik meras puas dan tak tahan ingin memuntahkan semburan ke luasan atas ucapan Alex pada Devan.


"Oh .... ya ... ya tentu saja Pak. " Jawab Devan dengan senyuman dingin pada Alex, Devan memberikan kode pada Alex untuk memanggil Rani segera.


Erik masih menuruti perintah Devan dan langsung keluar untuk memanggil Rani.


Entah kenapa Erik melihat kecemasan di wajah Rani, Erik yang mendapati Rani sedang Mondar-mandir di depan meja nya, langsung menghampiri nya.


"Non, di panggil Tuan Devan untuk segera ke ruangan nya. " Ucap Erik tegas.


"Ada apa sih Rik, aku lagi males ah. " Rani enggan menemui Devan.


Erik harus membujuk Rani untuk mau datang ke ruangan Devan, karna ada kebahagiaan di sana yang sedang menanti Rani.


"Temui lah saja dulu Non, saya bersama Non Rani, jika terjadi apa-apa saja yang akan lebih dulu menghajar Tuan Devan. " Bujuk Erik pada Rani.


"Tumben, emang kamu berani ? " Sambung Rani cepat.


Seketika Erik diam, sadar jika selama ini dia hanya menjadi suruhan yang lemah bagi Tuan Devan.


"Tapi itu sudah terlambat Rik, saya sudah tidak butuh perlindungan siapa pun lagi untuk menghadapi Devan. " Timpal Rani sambil berjalan melewati Erik yang masih terdiam.

__ADS_1


Walaupun begitu Erik merasa lega karna Rani mau menemui Devan ke ruangan nya.


Erik segera menyusul Rani, namun langkah Rani terhenti saat melihat dua Laki-laki berbaju hitam berdiri tegap di depan ruangan Devan.


"Apa di dalam ada Pak Alex ? " Tanya kecil Rani pada Erik yang sudah ada di belakang nya.


"Ada Non. " Jawab Erik cepat.


Rani tidak ingin melanjutkan langkah nya, Rani mundur beberapa langkah namun langkah nya itu terhenti saat Erik menghalangi langkah Rani.


"Percaya lah Non, ini tidak akan seburuk yang sedang Non Rani banyangkan. Percaya sama saya, saya mendapatkan kekuatan setelah bertemu dengan Pak Alex, dan Non Rani pun pasti akan sama seperti saya, yakin lah Non. " Bujuk Erik penuh keyakinan.


"Kenapa Erik bisa seyakin itu ? bahkan dia pun berani melawan Devan. " Batin Rani tidak mengerti.


Rani berjalan berkat dorongan dari Erik, mau tidak mau Rani harus melanjutkan langkah nya karna tangan nya di tarik oleh Erik.


Erik tidak sadar jika sikap nya menyentuh lengan Rani akan dapat tatapan tajam dari ke dua laki-laki yang ada di dalam ruangan itu.


Erik masih menarik lengan Rani saat berada di ruangan Devan, Seketika langkah Rani terhenti kembali saat melihat sosok Laki-laki yang duduk di hadapan Devan namun sedang membelakangi nya.


"Maaf Tuan. " Ucap Erik bermaksud pada Alex namun yang menjawab nya Devan.


"Jangan kurang ajar ya kamu. " Bentak Devan pada Erik.


Erik hanya menundukan kepala nya, Rani yang masih berdiri di samping Erik tak tau harus kemana dan berbuat apa.


Kali ini Devan lah yang maju dan mendekat pada Rani, Devan memegang kedua pundak Rani, untuk membawa Rani duduk dekat dengan nya.


Rani langsung menhindar namun cengraman tangan Devan semakin kuat, sehingga Rani meringis kesakitan di buat nya.


Seketika Alex mengepalkan kedua tangan nya, namun Alex harus tetal sabar.


"Oh ya Pak Alex, perkenalkan ini Rani anak dari pemilik perusahaan ini, sekaligus calon Istri saya. " Jelas Devan membuat Alex melebarkan kerongkongan nya, dan siap meludahi Devan.


"Lepas. " Rani melepaskan sentuhan tangan Devan yang menyakiti pundak nya.

__ADS_1


Rani metap dengan mata berkaca-kaca pada Alex, ingin rasa nya Rani berteriak jika dia sebenar nya sudah tidak sanggup.


"Oh, hebat yah anda Pak Devan. Sudah mendapatkan kepercayaan perusahaan, sekarang anda akan memperistri anak dari pemilik perusahaan, Uhh ... kali ini saya yang ada di bawah anda. " Puji Alex namun badan nya sudah bergetar hebat, saat melihat wajah Rani yang sangat tertekan.


"Silahkan duduk Nona Rani, saya yang akan menyaksikan kebahagiaan anda di sini. " Ujar Alex membut Rani semakin sakit hati dan kecewa pada diri nya sendiri.


Ingin sekali Rani menjelaskan nya pada Alex namun bibir nya tak mampu berkata apa pun.


Rani masih berdiri tegap, walaupun Devan sudah meminta nya untuk duduk.


Kali ini Alex yang beranjank dari duduk nya.


"Dia cantik sekali Pak. " Ucap Alex tersenyum pada Devan.


Alex langsung mengulurkan tangan nya, namun Rani enggan menjemput uluran tangan Alex, sehingga Alex yang memaksa menjemput tangan Rani, dan membawa nya duduk di samping nya.


Devan masih terpaku melihat sikap Alex dan tatapan Rani pada Alex, namun Devan hanya mengartikan itu sebagai rasa kagum Alex pada Rani.


Devan kembali duduk, namun sebelum ia duduk Devan ingin menarik Rani dahulu dan duduk di samping nya.


Namun sayang Alex mencegah nya. " Jika dia nyaman, biarkan lah dia duduk di sini bersama saya. " Ucap datar Alex pada Devan.


Devan mulai tidak terima, karna Alex begitu dekat saat duduk bersama dengan Rani.


"Baiklah Pak Alex, kita akan membahas apa ? apa ada yang perlu saya jelaskan lagi, selain di ruangan Metting tadi ? " Ucap serius Devan mulai terlihat kesal.


"Masih banyak yang perlu kita bahas Pak Devan, apa anda sudah siap ? " Tanya Alex memajukan posisi duduk nya.


"Ya tentu saja. " Jawab Devan masih percaya diri.


Alex menatap Rani lalu menatap Devan. "Kita kembali pada topik pembicaraan kita di awal tadi tentang kejujuran. "


"Kejujuran ? "Devan mulai tersinggung karna memang dia banyak melakukan ketidak jujuran dalam perusahaan bahkan dalam hidup nya.


"Maaf Pak, tapi saya tidak suka jika ada yang mencampuri usuram Pribadi saya, bukan kah itu Privesi masing-masing. " Timpal Devan langsung terpancing.

__ADS_1


__ADS_2