Aku Dan Maduku

Aku Dan Maduku
Rani terjebak.


__ADS_3

BAB 78.


Saat Devan masuk ke dalam kamar mandi, dengan gesit nya Erik menarik lengan Rani dan membawa nya keluar dari ruangan Devan.


"Non, apa yang Non lakukan ? itu bahaya Non. " Ucap khawatir Erik pada Rani.


Rani tidak ingin berbicara pada Erik jika dia sudah mengcopy semua data perusahaan dari perangkat Devan, " Ti-tidak Rik, tadi saya hanya ingin lihat-lihat saja, saat saya hendak kaluar, saya melihat Devan dan kamu datang. Jadi saya sembunyi di belakang lemari itu. " Jelas Rani pada Erik.


Rani masuk kedalam ruangan nya, dan Erik kembali ke ruangan Devan.


Erik sangat gugup melihat sekitar takut ada yang mencurigakan, dan tiba-tiba Erik teringat akan rekaman Cctv yang ada di ruangan Devan, Erik dengan menghapus rekaman Cctv yang ada di ruangan Devan, Erik tau Karna Erik yang memasang nya.


Setelah semua selesai Erik bisa bernafas dengan lega, Erik termasuk orang yang cekatan. Namun di balik itu Erik melihat rekaman Cctv Rani, yang sedang melihat Laptop Devan.


Erik sudah tau apa yang Rani lakukan, Erik harus bicara dengan Rani, karna itu menyangkut hidup Erik juga tentu nya, Devan pasti akan mencurigai Erik terlebih dahulu jika rahasia nya di ketahui oleh Rani.


Devan keluar dari kamar mandi, Devan melihat Erik masih mematung dan melamun di tempat yang sama. " Kenapa Rik ? " Tanya Devan membangunkan lamunan Erik.


"Oh ... tidak Tuan, saya hanya kepikiran Orang tua saja. " Jawab Erik berbohong pada Devan.


Devan duduk dan langsung mengecek semua hal yang bersangkutan dengan pekerjaan nya, Devan melirik Erik kembali.


"Kamu akan seharian berdiri di sana ? " Ucap Devan merasa heran.


"Tidak Tuan, kalau begitu saya permisi ! dan panggil saya jika Tuan memerlukan sesuatu. " Ucap Erik dengan tegas.


"Ya . " jawab Devan.


Erik keluar dari ruangan Devan, dan langsung menemui Rani.


"Non, saya tau apa yang sudah Non lakukan di dalam tadi, beruntunglah saya dengan cepat berpikir pada rekaman CCtv nya, Non tenang saja semua sudah saya hapus. Tapi tolong Non apapun yang sudah Non dapatkan, jangan sampai Non salah dalam melangkah. Tuan Devan banyak memasang perangkap jebakan untuk kita Non. " Jelas Erik sangat pelan.

__ADS_1


Rani tersenyum, tidak ada ke khawatiran sama sekali. " Tenang saja Rik, jika semua terbongkar adik dan Orang tua kamu, masih akan tetap dapat penanganan dari Dokter, jangan takut. "


Wajah Erik berubah menjadi pucat pasi, saat mendengar penjelasan dari Rani. Erik tidak bisa berbicara Apa-apa, Erik hanya terdiam malu pada seorang Anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja.


"Tenang Rik, aku tidak meminta mu untuk membantu ku, tapi jangan khawatir adik dan Orang tua mu akan baik-baik saja. " Sambung Rani tersenyum lalu kembali fokus pada pekerjaan nya.


Erik pergi dari hadapan Rani tanpa ada kata satupun keluar dari mulut Erik, " Tapi Tuan Devan pasti tidak akan tinggal diam Non. " Batin Erik masih belum tenang.


Di jam makan siang Devan sudah mulai mencurigakan, Erik sangat jelas melihat nya.


Erik dengan cekatan mengambil ponsel nya lalu merekam gerak-gerik Devan, Devan masuk kedalam ruangan Rani dan membuka bungkusan kecil yang ada di dalam kantong celana nya.


Devan menumpahkan isi bungkusan itu kedalam minuman Rani, Erik sungguh tidak bisa Apa-apa semoga dengan rekaman yang dia punya bisa menyelamatkan Rani nanti nya.


Devan langsung keluar, tak lama kemudian Rani masuk dan suap siap menyantap makanan yang sudah ia pesan, Rani sangat haus dan juga lapar.


Tanpa berpikiran buruk Rani langsung menyantap makanan dan minuman yang sudah siap untuk di santap.


Erik lebih memilih untuk merekam nya saja, Sementara Devan langsung mengatur beberapa kamera bisa memotretnya dengan otomatis.


Devan membuka baju nya , sementara Rani yang sudah terlihat acak-acakan, Devan letakan di atas tubuh nya, walaupun Rani tidak sampai telanjang bulat, tapi bagi siapa yang melihat fhoto itu, pasti beranggapan bahwa mereka berdua sudah melakukan rutinitas panas.


Setelah selesai Devan memakai baju nya sendiri, dan membiarkan Rani tergeletak begitu saja di atas Sofa, Devan mengambil kamera nya, lalu meninggalkan Rani yang belum sadarkan diri.


Erik menggelengkan kepala nya," Beruntunglah Non Rani tidak sampai di sentuh oleh Devan, jadi ini senjata dia untuk melumpuhkan Non Rani. " Dengus Erik merasa jijik pada Devan.


Erik menyimpan rekaman itu dengan baik-baik, sementara Devan dengan bangga nya mengcopy dan mwncwtak hasil kelicikan nya. Devan menelpon Erik agar segera menghadap ke ruangan nya.


Erik pun datang, dan berlaga polos. "Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu ? " Ucap Erik.


"Saya mau kamu urus pekerjaan ini, dan saya tidak mau tau kamu harus membawa kabar baik setelah kembali dari sana. " Ucap Devan menyodorkan berkas pada Erik.

__ADS_1


Erik mengambil nya, "Ini kan pekerjaan yang tempat nya lumayan jauh, bisa 3 sampai 5 hari untuk mengurus pekerjaan ini. Bagaimana ini ? bagaimana dengan Non Rani. " Batin Erik merasa bingung.


"Jika kamu banyak mikir, besok tagihan Rumah sakit tidak akan saya bayar, apa kamu mau Orangtua kamu di rawat di luar Rumah sakit. Hah ? " Tanya Devan keras pada Erik.


Devan tidak mau rencana nya gagal, hanya karna seorang Erik.


Erik menerima pekerjaan yang di tawarkan oleh Devan, lalu Erik pergi untuk bersiap karna dia tidak akan pulang untuk beberapa hari.


Waktu pulang kantor Devan sengaja menunggu Rani sampai sadar, dan saat Rani sadar Rani merasa sangat pusing, Rani melihat ke sekitar tempat dia berada, Rani tau dia masih ada di dalam kantor nya, namun Saat Rani berusaha bangun, Rani melihat Devan dengan santai nya melihat Rani dengan kemaja terbuka hingga bagian dada dan perut Devan yang terlihat kekar itu, terlihat jelas oleh Rani.


Rani Syok dan langsung terbangun, Rani melihat kemeja baju bagian atas nya terbuka. Rani langsung Histeris, sudah paham apa yang sudah terjadi.


Rani mendekat pada Devan. " Van jangan bilang ...... " Ucap Rani emosi pada Devan.


Devan tersenyum. " Apa Sayang, Iya kamu sudah melayani ku dengan baik. Uuuhhhh ... aku sangat suka dengan tubuh mu itu. " Ucap Devan seperti urang mabuk.


Rani sangat emosi, "Sialan kau Van, aku tidak terima, aku akan melaporkan semua ini pada Daddy, agar kau di pecat dan masuk kedalam penjara Bajingannnnnn !! " Teriak Rani sekuat tenaga dengan wajah yang memerah.


Devan langsung memutar Vidio dan Fhoto yang sudah ia Setting sebelum nya, terlihat seperti Rani dan Devan melakukan nya atas dasar suka sama suka.


Rani melihat penggalan Vidio itu dan Fhoto-fhoto yang Devan perlihatkan pada nya, dengan wajah memerah, tak kuat menahan tangis dan emosi, Rani melempar ponsel Devan.


Tapi Devan sudah mengantisipasi itu, " Ow .... kenapa di lempar Sayang ? Uuhh ... tapi tenang, aku masih ada yang asli nya itu hanya Copy an nya saja. Sebentar lagi kita akan menikah atau tidak Perusahaan dan nama Ayah mu akan hancur. Paham !! " Ancam Devan sambil meninggalkan Rani yang masih terlihat Syok dan emosi.


Rani duduk kembali di atas sofa, Rani menangis seperti jijik pada diri nya sendiri, Rani membenarkan kancing baju nya dengan lemas, teringat akan sosok Alex saat itu juga.


"Maaf kan aku Lex, aku telah mengkhianati mu , Aaaaaaaaaaa ..... bodoh kamu Rani . " Umpat Rani pada diri nya sendiri.


Sementara Alex di Ibu kota masih belum bisa tenang sebelum diri nya berhasil melumpuhkan Denis, Alex ingin saat Rani kembali Denis sudah kapok untuk mengganggu Rani.


Alex akan langsung menemui Rani, setelah Alex sudah menghajar Denis dan memberikan nya peringatan untuk tidak mengganggu Rani dan juga Ibu nya.

__ADS_1


__ADS_2