Aku Dan Maduku

Aku Dan Maduku
BAB 92. Haru.


__ADS_3

Rani menatap nanar kepergian Sang kekasih, seperti ada yang Hilang walaupun Alex janji akan kembali menemui Rani secepat nya.


Sebuah lambayan tangan terus saja mereka lakukan, perasaan yang sama antar kedua nya memang begitu kuat.


Takut ....


Takut akan jarak yang memisahkan.


Takut akan rasa kehilangan.


Takut jika seandai nya waktu tidak mempertemukan lagi.


Rani seketika sendu, Alex merasakan yang si rasakan oleh Rani dari tatapan mata dan senyuman yang ia berikan pada nya.


Alex menutup pintu mobil nya kembali dan berjalan menghampiri Rani kembali.


Pelukan Alex berikan kepada Rani.


"Jangan sedih ! senyuman bekali aku dengan senyuman indah mu, sungguh itu kekuatan bagi ku. " Bisik Alex mengecup pangkal rambut Rani, dan mengusap lembut punggung Rani.


Isakan tangis mulai terdengar.


"Kenapa bagus ? jangan banyak pikiran Sayang. " Bujuk Alex.


"Aku takut ... " Jawab Rani terbata dengan isakan tangis yang terdengar sakit di telinga Alex.


"Takut kenapa ? kamu aman di sini, jika kamu takut aku akan pergi, itu hanya sementara Sayang, aku pergi untuk membawa kebahagiaan kita. Ingat apa yang aku katakan, kita harus kuat ! Sudah-sudah jangan begini ya ? Sesampai nya di rumah aku akan menghubungi mu. " Pelukan Alex semakin erat.


Ingin rasa nya Alex membawa Rani kemana pun ia pergi, namun itu tidak mungkin, saat mengingat bahaya di luar yang masih mengintai Rani.


"Jangan lama-lama, tetap kasih kabar. " Pinta Rani.


Alex tersenyum. " Iya Sayang, jangan khawatir walaupun aku pergi, aku pun sama merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan. Tenang ya ? "


Alex mengecup kening Rani dan mengusap lembut perut Rani. " Papah pulang dulu ya Nak. " Ucap kecil Alex.


Membuat Rani semakin sedih mendengar nya.


Pelukan erat pun mulai terlepas, jabatan tangan pun mulai terlepas perlahan.


"Senyum .. " Pinta Alex.


"Iya Sayang. " Sebelum Rani melepaskan genggaman nya Rani mengecup lembut punggung tangan Alex.

__ADS_1


Dalam hati Rani. " Jaga dia Tuhan, dia hidup ku. Bawa dia kembali dengan cepat pada ku. " Rani menangis dalam hati nya.


Rani menguatkan diri nya sendiri untuk tersenyum dan melepaskan genggaman nya. " Hati-hati Sayang. "


Kali itu Alex benar-benar pergi, sebuah senyuman mereka semat kan untuk memperkuat hati masing-masing.


Rani melihat nanar kepergian Alex sampai tidak terlihat lagi. Alex yang kini sudah berada di dalam mobil mengambil handphone milik nya yang ia simpan di kantong celana nya.


"Jalan Pak. " Perintah Alex pada sopir yang akan membawa nya pulang.


Alex menghubungi seseorang.


"Hallo Bos ! " Sapa Orang yang di hubungi Alex.


"Bawa 4 orang untuk berjaga di sekitaran rumah Rani, kini Rani sedang berada di rumah kedua Orang tua nya, jangan sampai lengah. Paham ? " Perintah keras Alex pada orang suruhan nya.


"Baik Bos. " Jawab Orang itu.


Alex menutup sambungan Tlp nya, " Pak kita ke rumah Ibu ya langsung. "


"Baik Den. " Jawab Pak Sopir itu.


Alex memijat kening nya, dan menyenderkan badan nya di senderan kursi mobil nya.


Setelah bertemu dengan Ibu nya, Alex akan menemui Petra untuk menanyakan perihal Denis, yang belum sempat ia temui waktu itu.


Karna harus ada persetujuan mutlak dari Alex. " Siall ni kucing satu, kenapa gak diam saja sih dan menerima kenyataan, dia pasti akan lebih gencar jika tau Rani bisa hamil dan tidak mandul, seperti alasan dia meninggalkan Rani waktu itu. Aku tidak akan membiarkan mu menyentuh Rani sedikit pun. "


Sesampai nya di rumah Alex langsung di sambut hangat oleh Kakak nya Kak Vera.


Kak Vera menanyakan kabar Alex, dan Alex menjawab nya dengan sangat yakin bahwa dia baik-baik saja.


"Kemana Mommy Kak ? " Tanya Alex.


"Ada, Mommy lagi di kamar nya. Kaki nya sedikit sakit Lex. " Jawab Kak Vera.


"Ya sudah aku ke kamar Mommy dulu kak. " Ujar Alex.


"Mau kakak bikin kan apa ? " Teriak kecil Kak Vera.


Alex menengok ke arah Kak Vera. " Tidak usah Kak, aku sudah makan dan masih kenyang. "


"Ya sudah. " Jawab lembut Kak Vera.

__ADS_1


Alex menaiki anak Tangga menuju kamar Ibu nya, lelah sebenar nya tapi Alex tidak mau mengecewakan Ibu nya.


Alex membuka pintu kamar Ibu nya. " Hy Mom ... "


Ibu nya Alex tersenyum saat anak kesayangan nya sudah datang.


"Syukur lah kamu baik-baik saja Nak. " Kecupan Alex dapatkan dari Ibu nya.


"Apa Mommy mau ke dokter ? " Tawaran Alex pada Ibu nya.


Ibu nya Alex menggelengkan kepala nya. " Tidak usah Nak, tadi Dokter sudah kesini dan Mommy cuma harus istirahat saja. "


"Ya sudah, Mommy mau apa ? biasr Alex Carikan. " Tanya Alex penuh kasih sayang.


"Mommy mau kamu segera menikah, dan beri Mommy cucu sama seperti Kakak kamu itu. " Jawab hangat Ibu nya Alex.


Alex tersenyum hambar, " Iya Mom, nanti Alex berikan. Tenang saja. " Jawab Alex santai.


"Bagai mana hubungan kamu dengan wanita itu ? Mommy harap kamu sudah tidak menghubungi dia lagi. " Jawab ketus Ibu nya Alex.


"Deggg ... " Alex tetap bersikap tenang menanggapi ucapan Ibu nga.


"Sudah lah Mom, jangan Marah-marah dulu nanti sakit nya gak bakalan hilang, Mommy harua yakin Alex tau mana yang terbaik untuk Alex dan tidak. Jika Alex sudah menemukan yang Pas Alex akan memperjuangkan nya karna itu sudah menjadi tanggung jawab Alex, Alex harap Mommy bisa mengerti. " Alex berbicara serius dan dari wajah nya tersirat jika dia sudah sangat lelah.


"Ya sudah Alex istirahat dulu Mom, besok Alex harus menyelesaikan pekerjaan yang lain nya. " Ujar Alex mengecup kening Ibu nya lalu pergi keluar dari kamar Ibu nya.


"Belum saat nya aku berdebat dengan Mommy, lagian aku harus mengumpulkan tenaga ku dulu, untuk menghadapi sifat mommy yang keras ituh. " Gumam Alex mengusap kasar wajah nya.


Kak Vera yang memperhatikan Alex, sadar jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan adik nya itu.


"Pasti Mommy. " Ucap Kak Vera menggelengkan kepala nya.


"Biar nanti aku tanyakan, Mommy emang sifat nya gak berubah selalu saja begitu, aku tidak akan membiarkan Mommy memperlakukan Alex seperti Mommy memperlakukan ku. " Sambung kecil Kak Vera.


"Biar kan saja dulu dia istirahat. " Sambung Kak Vera lagi.


Alex membuka pintu kamar nya, di lepaskan nya jas dan di buka nya kancing baju bagian atas leher Alex.


Alex duduk di sudut tempat tidur nya, mamikirkan sifat Ibu nya yang selalu begitu.


"Andai Papah masih ada, mungkin Mommy tidak akan seperti ini, dan Kak Vera pun pasti tidak akan seperti ini. " Keluh Alex dalam diam nya.


Tiba-tiba suara ponsel nya berdering, Alex melihat bahwa itu adalah Rani, kekuatan pun muncul kembali dalam diri Alex.

__ADS_1


Alex mengangkat sambungan Tlp itu, dan mereka berbicara dengan posisi yang sama, Sama-sama membaringkan tubuh mereka.


Canda tawa terjalin kembali walau pun hanya lewat sambungan Tlp.


__ADS_2