
BAB 82.
Dalam diam Alex menyendiri di sebuah ruangan kerja nya, setelah kepergian Erik, Alex merasa lega karna setidak nya Rani belum sempat terjamah oleh bajingan Devan itu.
Alex berpikir keras. " Jadi Anak siapa yang ada dalam rahim Rani ? ....... jangan-jangan itu adalah anak ku !! "
Alex merasa lemas dan seluruh tubuh nya bergetar saat tau diri nya akan mendapatkan keturunan dari Wanita yang sangat ia cintai.
Alex menirukan air mata kebahagiaan, dan Alex merasa beruntuk bertemu dengan Erik, Erik datang di waktu yang tepat.
Di waktu dimana Alex ingin merubah rasa cinta pada Rani menjadi rasa kekecawaan yang teramat dalam.
Namun itu tidak sempat Alex utarakan pada Rani, Alex akan segera menemui Rani dan ingin membicarakan nya pada Rani.
Kesokan hari nya Erik sudah bisa masuk kantor seperti biasa nya, entah kenapa langkah Erik kini semakin ringan saat hendak masuk kedalam perusahaan yang di kendalikan oleh Devan.
Erik belum melihat sosok Rani di kantor tapi Erik sudah mendapati atasan nya Devan datang lebih awal di banding dengan diri nya.
"Rik ... bagaimana ? apa hasil nya sesuai dengan yang di harap kan ? " Tanya Devan pada Erik dengan cepat nya.
"Iya Tuan, Perusahaan yang tuan tunjuk bersedia bekerja sama dengan perusahaan kita. " Jawab Erik dengan percaya diri.
Devan menegak kan badan nya, dan melihat tidak yakin atas apa yang Erik katakan.
"Kanu serius Rik ? segampang itu ? " Tanya Devan kembali dengan nada tinggi.
"Benar Tuan ! Kita di minta untuk mempersiapkan semua berkas nya, sambil menunggu waktu yang Pas untuk bertemu. " Jawab Erik dengan percaya diri.
Devan terseyum dan bertepuk tangan di hadapan Erik.
Sementara Erik yang sudah tau kesialan apa yang akan menghajar Devan pun di dalam hati nya tertawa terbahak.
"Tidak salah aku menunjukku untuk melakukan nya, dengan begitu kita pasti akan untung lebih banyak lagi. " Ucap Devan merasa beruntung.
Erik hanya tersenyum datar lalu pamit ke luar ruangan untuk kembali ke ruangan nya.
__ADS_1
Devan yang langsung membaca semua article tentang perusahaan Alex pun semakin semangat menata masa depan yang harus sesuai dengan rencana nya.
Sementara Erik berusaha menemui Rani yang sedang terlihat pucat di ruangan nya. Erik menghampiri dengan membawakan Teh hangat untuk atasan nya itu.
"Non !! ini saya bawakan teh hangat, saya lihat Non Rani pucat !! apa sedang sakit Non ?? " Tanya Erik meletakan segelas teh itu di atas meja Rani.
Rani tersenyum kecil saat melihat kedatangan Erik, lalu tangan nya dengan cepat mencari kesibukan dengan mengaktifkan perangkat laptop nya, agar terlihat sedang sibuk.
Erik menghela nafas dalam, " Kasian Non Rani, tapi tidak apa !! sebentar lagi kebahagiaan akan menghampiri Non Rani. " Gumam Erik dalam hati nya.
"Saya tidak apa-apa kok Rik !! " Rani menyangkal atas apa yang sedang ia rasakan pada tubuh nya.
Erik mengerti jika atasan nya itu sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.
"Emm ... ya sudah Non !! kalau begitu saya kembali ke ruangan saya !! jika perlu sesuatu Non bisa hubungi saya. " Ucap Erik sopan.
Rani tersenyum " Iya Rik !! "
Dalam kesendirian nya Rani bergelut dalam perasaan yang membuat nya tersudut dalam posisi apapun.
Rani tetap beranggapan jika Devan lah ayah dari anak yang ia kandung, karna setau Rani Devan lah yang terakhir meniduri nya.
Rasa mual dan pusing kini menyatu dalam diri Rani, Rani tak tahan rasa nya jika harus terus bekerja dalam kondisi nya yang sekarang.
Rani memilih untuk pulang ke apartemen nya lebih awal tanpa menghiraukan pekerjaan nya, bahkan Rani tidak mau perduli.
Saat Rani hendak pergi, sosok laki-laki yang sangat ia benci tiba-tiba nampak di hadapan nya.
"Loh Sayang !! mau kemana ?? "Tanya Devan dengan sok perhatian.
"Diam jangan mendekati ku !! aku ingin muntah melihat mu !! " Jawab Rani ketus.
"Jangan ngambek terus dong, kasian Baby nya, dia kan butuh sentuhan lembut dari Dady nya. " Jawab Devan menghampiri Rani.
Rani tercengang kaget saat mengetahui ternyata Devan sudah mengetahui tentang kehamilan diri nya.
__ADS_1
"Diam kau bajingan !! tidak sudi aku menganggapmu sebagai ayah dari anak ku ini. " Teriak geram Rani sambil menunjuk keras Devan.
Devan tak mundur satu langkah pun, Devan malah tertawa. " Hahahaha ... Tapi bagaimana dengan orang tua mu dan Publik setelah mengetahui anak seorang pengusaha hebat hamil tanpa seorang laki-laki di samping nya. " Ujar Devan dengan lantang nya.
Rani terdiam namun tatapan amarah nya pada Devan terus menggebu dan susah untuk di hentikan.
"Aku tidak perduli !! " Teriak Rani dengan nada berat nya lalu meninggalkan Devan dan keluar dari ruangan itu.
Tetesan air mata tanpa suara mengiringi langkah Rani, Rani terus menyeka setiap air mata itu.
Langkah yang penuh amarah membuat Rani lupa jika diri nya sedang hamil muda, bisa saja itu membahayakan diri nya sendiri.
Pikiran Rani kini hanya ingin menyendiri tanpa ada orang yang menanyakan kenapa dan bagaimana.
Dalam perjalanan pulang Rani hanya terdiam sampai supir yang sedang mengantar nya pulang berkata jika kini sudah sampai.
Rani mengucapkan terima kasih, lalu bergegas menuju Apartemen nya, tak sabar ingin segera menjatuhkan badan nya di atas tempat tidur milik nya.
Rani pun sampai di dalam Apartemen nya.
"Arrggghhhh .... kenapa harus Devan !! kenapa harus bajingan itu !! Hiks ... hiks .... " Teriak Rani sambil menjatuhkan badan nya di atas tempat tidur.
Tagisan Rani tak bisa di hindari lagi, tidak ada satu pun orang yang menyaksikan kepiluan Rani, hanya benda mati yang ada di kamar Rani saja yang menjadi saksi kepiluan Rani.
Teramat pilu kehidupan Rani, di saat Rani mengetahui bahwa diri nya bisa menjadi seorang Ibu justru di sana pula Rani tidak bisa bahagia.
Tidak bahagia jika harus bersama dengan Lali-laki yang sama sekali tidak ia cintai.
Hari itu Rani sampai ke tiduran tak sempat membersihkan diri, Rani terlihat kusut dan tidak terawat belakangan ini.
Tepat pukul 9 malam, Alex sampai di Apartemen Rani, Alex sudah mencoba menghubungi ponsel Rani namun tidak dapat tersambung.
Rencana Alex untuk mengajak ketemu Rani di esok hari pun Alex urungkan, Alex merasa khawatir sehingga Alex langsung bergegas melihat Rani ke Apartemen nya.
Terkejutlah Alex saat mendapati pintu Apartemen Rani tidak di Kunci, Alex segera membuka kamar Rani berharap Rani baik-baik saja.
__ADS_1