Aku Dan Maduku

Aku Dan Maduku
Baru di mulai.


__ADS_3

BAB 85.


Ke esokan hari nya, di pagi hari Rani sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, karna sebelum nya Rani di info kan bahwa akan ada Metting penting dengan perusahaan besar.


Sampai-sampai Ayah Rani pun menghubungi Rani untuk mengikuti Metting itu, Ayah Rani semakin bangga pada Devan saat mengetahui kerja sama nya bersama perusahaan yang di pimpin oleh Alex.


"Sehebat apa sih perusahaan itu !! sampai-sampai Ayah memuji Devan segitu nya. " Gumam Rani dalam langkah nya.


Alex pun sudah bersiap dan mempersiapkan semua nya, walau pun kebusukan Devan akan terungkap Alex akan tetap menjalin kerja sama dengan perusahaan Rani.


Rani sampai di kantor nya, melihat Devan sedang duduk santai dengan gaya so nya menyambut kedatangan Calon Istri itupun hanya menurut nya saja.


"Hy Sayang !! lihatlah bagaimana cara ku untuk membuat perusahaan kedua Orang tua mu semakin besar. " Ucap Devan dengan bangga nya.


"Bukan nama Orang tua yang semakin besar, tapi nama mu bukan !! " Jawab Rani datar sambil duduk di kursi yang lumayan jauh dengan Devan.


Di hadapan sebuah meja panjang semua Orang penting di perusahaan Rani duduk menunggu seorang pimpinan perusahaan ternama dan terbesar di Asia.


Semua orang menunggu dan menunggu, hingga pada akhir nya pintu terbuka tanda ada yang akan masuk.


Rani tak langsung melirik siapa yang datang, saat Rani mulai melihat sosok yang di tunggu-tunggu.


Rani terkejut tapi tidak dengan Alex, Alex bersikap biasa saja layaknya seseorang berpangkat tinggi yang sedang di tunggu oleh bawahan nya.


Devan langsung berdiri dan berjabat tangan dengan Alex, entah kenapa Alex tidak menyambut sambutan tangan dari Devan.


Sedangkan Rani hanya terdiam tak berkedip sedikitpun saat tau Orang yang dia tunggu adalah Alex.


Seketika jantung Rani berdegup kencang, seluruh tubuh nya bergetar hebat. Keringat dingin mulai bercucuran di tubuh Rani.


Ingin rasa nya Rani lari namun itu tidak mungkin, Rani di kelilingi orang terpenting Ayah nya, jika Rani memaksa untuk pergi itu sama saja mencoreng nama baik Ayah nya.


Dengan gugup Rani hanya duduk dan menundukan kepala nya, bahasan demi bahasan Devan bicarakan bersama team nya di meja panjang itu pada Alex.


Namun tatapan Alex hanya tertuju pada Rani, Rani tak banyak berkata apa-apa, dia hanya mendengarkan namun telinga nya tak mau mendengar apapun.

__ADS_1


Sungguh arogan Devan itu, ia hanya mengutarakan pendapat dan keinginan nya saja, tanpa bertanya pada Rani selaku wakil dari pemilik perusahaan itu.


Alex berperan sangat bijaksana sekali di ruangan itu, tidak ada masalah pribadi yang ia bahas saat itu.


Alex bukan tidak ingin, namun Alex tidak mau nama perusahaan Ayah Rani jadi tercoreng nanti nya jika Alex tak bisa mengendalikan emosi nya.


Alex akan bermain secara halus setelah pertemuan itu selesai, Alex yang lebih dulu keluar dari ruangan itu, membuat Rani lega.


Rani berpikir jika Alex sudah pergi, dan di situ lah Rani keluar dan langsung ke toilet untuk menenangkan diri nya.


Sesampai nya di toilet khusus untuk para petinggi perusahaan itu, lengan Rani di tarik sehingga dengan gampang nya tubuh Rani tertarik ke dalam ruangan kecil di sudut toilet itu.


Rani menghembuskan nafas berat nya karna syok tubuh nya lumayan keras saat mendarat di sebuah dada bidang milik laki-laki yang menarik nya.


"Alex !! " Ucap syok Rani.


Alex hanya tersenyum dan mendekap tubuh mungil Rani.


"Sudah lah Lex lepaskan aku, sebaik nya kamu urungkan niat untuk bekerja sama dengan Devan. " Rani memberontak.


Alex menatap wajah Rani sangat dalam, Alex tak mampu membendung ke rinduan nya lagi.


Tanpa aba-aba Alex langsung menciu*m bib*r Rani dengan lembut, seketika usaha Rani untuk lepas dari dekapan Alex melemah.


"Aku merindukan mu Sayang. " Ucap kecil Alex melepaskan panggutan nya, dan mengecup habis seluruh wajah Rani.


"Aku juga Lex. " Batin Rani menatap sendu wajah Alex.


"Katakan lah, keluarkan lah beban yang sedang menghimpit mu Ran, aku ada di sini bahkan tidak ada jarak di antara kita. " Ucap lembut dan kecil Alex mendekap kedua pipi Rani dengan kedua tangan nya, dan mendekatkan kening nya pada kening Rani.


Rani tak mampu berkata apapun, Rani hanya lemas dan langsung memeluk tubuh Alex dengan erat.


"Kita tidak akan bisa bersatu Lex, jangan temui aku lagi karna sungguh ini sangat menyiksa ku, pergilah dan lupakan aku Lex. " Isak tangis Rani dalam pelukan Alex.


Alex tersenyum lembut dan mengusap rambut Rani.

__ADS_1


"Sayang, kita pasti akan bersatu. Jangan pikirkan itu, yang harus kamu lakukan hanya lah diam duduk manis tanpa ada tangisan sedikit pun ok. " Ujar Alex menenagkan Rani.


"Tidak Lex, masalah ini tidak akan membiarkan kita bersatu. Sungguh aku sudah menyerah. " Keluh putus asa Rani mengendurkan pelukan nya.


Kali itu Alex membiarkan Rani pergi dan lepas dari dekapan nya, Alex hanya ingin memastikan apakah Rani masih mencintai nya.


Alex mendapatkan jawaban bahwa Rani masih mencintai nya, walaupun Rani tidak mengucapkan nya. Alex bisa melihat dari tatapan mata Rani.


Alex membenarkan jas nya, dan membiarkan Rani pergi tanpa mencegah nya.


Alex mengeluarkan handphone di dalam kantong jas nya.


"Bilang pada Devan, saya ingin bertemu dengan nya dan juga Nona Rani secara pribadi di ruangan nya, Paham ? " Ucap tegas Alex pada seseorang yang sedang ia hubungi.


Alex menutup sambungan Tlp nya, lalu keluar dari toilet dan di temani oleh kedua ajudan nya.


Di sebuah tangga, Alex di sudah di tunggu oleh Erik, Erik menyambut Alex dengan senang hati dan mengantarkan nya keruangan Devan.


"Saya senang Tuan berada di sini. " Ucap kecil Erik pada Alex.


"Terima kasih Rik, Orang tua mu sudah saya tempatkan di Rumah sakit terbaik. " Jawab kecil Alex pada Erik.


"Terima kasih Tuan, saya sudah mengetahui nya, dan saya tau anda lah yang terbaik. " Timpal Erik sopan.


Alex hanya tersenyum dan menepuk-nepuk pundak kekar Erik yang selalu membungkuk saat berbicara dengan nya.


Sesampai nya di ruangan Devan Alex berjalan santai, dan menyuruh ajudan nya untuk tidak mengikuti nya lagi.


Devan yang mengetahui Alex sudah datang, langsung berdiri dari persinggahan nya dan tersenyum lebar.


"Ruangan yang bagus. " Ucap kagum Alex sambil duduk walaupun belum di persilahkan.


"Ah ... Terima kasih Pak Alex, tidak sebagus ruangan anda Tuan. " Jawan Devan merendah.


Lagi-lagi Alex tidak menyambut jabatan tangan yang di sodorkan Devan untuk menyambut nya.

__ADS_1


__ADS_2