
Di rumah sakit dokter langsung membawa pak Arman ke IGD sedangkan Lucas dan Elda menunggu di luar dengan cemas dan khawatir.
Lucas mondar mandir sambil sesekali menoleh ke arah pintu IGD.
Elda duduk dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, ia tidak bisa menahan air matanya seperti Lucas.
Di balik tangannya yang menutupi wajahnya itu air matanya mengalir deras tanpa mengeluarkan sedikit suara pun.
Lucas duduk di samping Elda lalu meraih tangannya dan membukanya.
Terlihat matanya yang sudah sembab dengan hidungnya yang memerah.
Tanpa berkata apapun Lucas langsung memeluk Elda dengan erat hingga Elda dengan leluasa menangis di pelukan kakaknya.
Meski hatinya merasa sakit melihat kondisi papanya namun Lucas masih kuat menyembunyikan kesedihannya dengan berusaha terlihat kuat.
Ia mengelus kepala Elda mencoba menenangkannya, sesekali Lucas mencium kening Elda saat air matanya hendak keluar dari kelopak matanya.
"Tenang lah Elda, jangan menangis. Papa pasti akan baik-baik aja, tenanglah..." ucap Lucas
Elda mengangguk dan berusaha menghentikan air matanya, namun apa boleh buat air matanya tetap mengalir.
Elda mengusap air matanya dan mengatur nafasnya agar bisa lebih tenang
"Kak, aku mau telfon mama tapi aku lupa ga bawa hp. Kakak bawa?" tanya Elda
__ADS_1
Lucas juga baru ingat kalau dirinya juga tidak membawa hp, ia juga ingin menelfon Lia.
"Aku juga lupa, mana aku ga bawa dompet lagi" kata Lucas
Mereka benar benar lupa segalanya, karena saking paniknya tadi.
Tak banyak yang bisa mereka lakukan saat ini selain menunggu dokter keluar dari kamar IGD.
Berdiri di depan kaca sembari melihat dokter yang sedang berusaha menolong papanya.
"Lia...." panggil Elda
Lucas langsung menoleh dan istrinya tampak berjalan mendekat padanya.
"Kenapa kamu kesini sayang, kamu ga boleh kecapekan..."
"Aku kepikiran sama papa mas. Bagaimana papa sekarang? apa kata dokter? Papa baik-baik aja kan?"
Lia nyerocos dengan melempar semua pertanyaan nya pada Lucas.
Lucas memegang pipi Lia dan meletakkan jari telunjuk nya di bibir Lia.
"Shuttt.... Sebelum aku jawab semua itu, aku mau tanya. Kamu ke sini sama siapa?"
Lia menunjuk seseorang di belakangnya yang tak lain adalah Romi.
__ADS_1
"Romi?"
"Selamat malam tuan" sapa Romi
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau papa ku di bawa ke rumah sakit?" tanya Lucas
"Maaf tuan, saya sebenarnya tidak tau kalau pak Arman ada di sini. Nona Lia hanya mengajak saya untuk mengantarnya ke sini" jawab Romi
"Iya mas, tadi Romi datang ke rumah untuk mengantarkan beberapa berkas dan aku langsung mengajaknya ke sini. Aku khawatir sama papa apa lagi kamu sama Elda sama-sama ga ada yang bawa hp"
Lia lalu mengeluarkan 2 hp dari dalam tasnya, 1 milik Elda dan satunya lagi milik suaminya.
"Makasih ya Lia, aku sama kakak benar-benar bingung sejak tadi" ucap Elda setelah menerima hp nya
Tak lama dokter pun keluar, segera mereka mendekat dan melempar banyak pertanyaan tentang pak Arman padanya.
"Bagaimana dengan kondisi papa saya dok? Apa yang terjadi dengan papa saya?" tanya Lucas
"Ya katakan dok, bagaimana dengan kondisi papa kami sekarang?" imbuh Lia
Dokter menghela nafasnya dan memerhatikan satu persatu dari wajah mereka dengan bergantian.
Wajah dokter yang begitu jelas terlihat lemas membuat Lucas, Lia dan Elda semakin khawatir, terlebih dokter tidak langsung menjawab dan hanya memilih diam di depan mereka.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1