
Lucas tetap di kamar Lia duduk diam menatap buket bunga mawar yang ia beli tadi.
Sembari memberi waktu Lia untuk Lia, ia berdiam diri di sama agar dirinya juga bisa lebih tenang.
Lucas tidak mau menghadapi kemarahan Lia dengan kemarahan juga.
Jam 01 siang Lucas mencoba menghampiri Lia di kamar bunda.
Dengan pelan Lucas membuka pintu kamar yang tidak di kunci.
Di sana terlihat Lia yang terbaring tidur di atas kasur dengan posisi telungkup.
Perlahan Lucas mendekat dan duduk di sampingnya.
Lucas membelai rambut Lia yang menutupi wajah cantiknya.
Matanya sembab dan hidung kemerahan karena terlalu lama menangis.
Sambil memegang tangan Lia Lucas meminta maaf padanya dengan suara pelan.
"Aku minta maaf sayang, aku tau aku salah telah merahasiakan ini dari mu. Maaf kan aku... Jika saja kamu mau memberi ku kesempatan untuk menceritakan semuanya kamu pasti akan mengerti bagaimana keadaan ku..."
Lia kini mulai menyadari bahwa ada seseorang di samping nya.
Saat Lia membuka matanya ternyata Lucas lah yang ada di sampingnya.
Segera Lia melepas tangan Lucas dan bangun dari tidurnya.
"Ngapain kamu di sini mas? Bukan kah aku sudah bilang lebih baik kamu pergi dari sini!" Kata Lia
"Sayang, aku tau kamu marah. Tapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, ya semuanya"
"Cukup mas, sudah, hentikan. Tak ada lagi yang perlu kamu jelaskan. Semuanya sudah jelas, dan aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mu"
"Tapi..."
"Pergi mas, aku mohon. Biarkan aku sendiri di"
Lia menyatukan tangannya meminta dan memohon agar Lucas pergi dari rumah ini.
Ia sangat terluka dengan kenyataan nya ini.
Setiap kali ia melihat Lucas sakit hatinya semakin menjadi.
Lia bahkan menarik tangan Lucas keluar dari rumah lalu mengunci pintu rumah.
Lucas mencoba membuka pintunya tapi Lia menahannya dadi dalam.
Dengan deraian air mata Lia menahan pintunya
"Pergi mas, aku tidak mau melihat mu. Untuk saat ini jauhi aku!"
"Lia sayang, mengertilah. Aku menikah dengannya hanya karena terpaksa, itu demi membalas hutang budi papa pada pak Surya. Buka pintunya sayang, biarkan aku menjelaskan semuanya sama kamu, Lia... Buka sayang..."
"Pergi mas. Apapun yang kamu katakan saat ini tak akan membuat luka ku sembuh, semakin aku melihat mu semakin sakit hati ku. Pergi mas, biarkan aku sendiri, pergi"
Bi Ina yang hendak membuang sampah kasihan melihat Lucas di luar pintu.
__ADS_1
Bi Ina menaruh kresek sampahnya dan menghampiri Lucas.
"Baiklah, aku akan pergi dari sini. Tenangkan dirimu, dan jika kamu sudah merasa lebih baik ijinkan aku menjelaskan semuanya pada mu. Ya sayang... Aku pergi. Jaga dirimu"
Bi Ina menepuk pundak Lucas dan memberi isyarat agar mengikutinya.
Bi mengajak Lucas ke samping rumah dan mengatakan sesuatu pada nya.
"Ada apa bibi mengajak ku kemari?"
"Begini tuan, bukan maksud saya mau ikut campur masalah rumah tangga tuan dan non Lia. Bibi cuma mau memberi saran" ucap bi Ina
"Saran apa bi?"
"Untuk saat ini mungkin non Lia sangat marah pada tuan, karena dia merasa tuan membohongi nya. Saya saran kan tuan pulang saja dulu, nanti kalau non Lia sudah lebih tenang bibi akan hubungin tuan"
"Saya mau tanya, siapa yang Lia temui kemarin? Siapa yang memberi tahunya tentang saya?"
"Begini tuan, kemari saat saya dan non Lia baru pulang berbelanja di depan gerbang sudah ada seorang wanita yang menunggu.
Dia meminta waktu untuk berbicara dengan non Lia"
"Wanita? Siapa dia bi?" Tanya Lucas penasaran
"Bibi kurang tau tuan, karena saat non Lia berbicara dengannya bibi sibuk menata belanjaan di belakang. Tapi kalo ga salah bibi denger gini, katanya tuan Lucas sudah menikah dengannya dan bahkan dia saat ini sedang hamil anak tuan"
"Apa??!" Lucas tekejut mendengarnya.
Ia mengepalkan tangannya dan wajahnya mulai terlihat sangar.
"Apa lagi yang dia katakan pada Lia"
"Bibi kurang jelas mendengar nya tuan"
"Bi Ina jaga Lia di sini. Pastikan dia makan dan istirahat dengan baik. Saya akan pergi, segera kabari saya apapun yang terjadi pada Lia"
"Baik tuan"
Dengan buru-buru Lucas pergi dari rumah Lia.
Bi Ina sedikit takut melihat wajah Lucas saat ini karena wajahnya terlihat begitu marah dan sangar.
Lucas mengemudi dengan cepat sambil menelfon Romi.
"Romi, cari tahu di mana keberadaan Viona sekarang!"
Titahnya pada Romi, tanpa menunggu jawaban dari Romi Lucas langsung memutuskan panggilannya.
Dengan cepat Romi bergerak, tak mungkin jika Viona berada di rumah pak Surya, Lucas akan menyuruhnya untuk mencari.
Tanpa tau alasan kenapa Lucas menyuruhnya, Romi langsung melaksanakan perintah Lucas.
Romi pergi ke kontrakan Agil dan di sana sepi tak ada siapapun.
Bahkan barang-barang Agil pun sudah bersih tak bersisa.
Romi mencoba mencari tahu keberadaan Viona melalui hp nya.
__ADS_1
Dengan cepat, Romi mengetahui keberadaan Viona.
Segera Romi mengirim alamatnya pada Lucas.
"Dia ada di rumah sakit ini tuan" tulis pesan Romi dengan mengimbuhkan alamat rumah sakitnya.
Segera Lucas menuju alamat tersebut untuk mencari Viona.
Romi pun menyusul Lucas ke rumah sakit, untuk menemani Lucas.
Saat Romi baru turun dari mobilnya, ia melihat Lucas yang sudah ada di lobby rumah sakit dan hendak masuk.
Romi berlari mengejarnya
"Tuan..." Panggil Romi
"Di mana dia berada?" Tanya Lucas dengan menahan suara amarahnya
"Saya tidak tau ada di kamar mana tuan, biar saya tanyakan dulu"
Romi pergi ke resepsionis dan langsung bertanya.
Tak lama ia berhasil mendapatkan informasi di mana Viona saat ini.
"Dia ada di kamar melati 15 tuan, lantai 7"
Dengan langkah cepat Lucas menuju lantai 7.
Tidak perlu jauh-jauh mencari ke kamar pasien, Lucas melihat Viona baru saja keluar dari kamar dan hendak pergi.
Viona di buat terkejut karena Lucas dan Romi menghalangi jalannya.
Seketika Viona panik, ia mencoba melangkah mundur untuk kabur tapi denga cepat Romi memegang tangannya.
"Bawa dia ke mobil!" Titah Lucas
Viona berontak dan tidak mau, ia bahkan hendak berteriak seolah Lucas dan Romi akan menculiknya.
Segera Romi memyumpal mulut Viona dan membisikkan sesuatu di telinga nya.
"Diam! Atau kamu akan melihat pak Surya akan menemui ajalnya sekarang!"
Viona seketika langsung terdiam.
Dengan tetap menggandeng tangan Viona, Romi berjalan menyusul Lucas yang berjalan duluan di depannya.
Romi menyuruh Viona masuk ke mobil Lucas, Lucas yang sudah siap di kursi kemudi langsung tancap gas ketika Viona sudah duduk di samping nya.
Romi mengejar mobil Lucas dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Meski merasa takut dan panik, Viona mencoba terlihat tenang.
"Lo mau bawa gue kemana? Belum puas lo udah talak gue, udah hancurin perusahaan bokap gue. Sekarang lo mau apa lagi, hah?" tanya Viona
Bukannya menjawab Lucas malah semakin menambah kecepatan nya hingga membuat Viona berteriak ketakutan.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1