Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 107


__ADS_3

Lia memegang lengan suaminya lalu menyandarkan kepalanya di sana.


Lia mengerti bagaimana kacaunya perasaan suaminya saat ini, tanpa banyak berkata Lia hanya memeluk Lucas dan berharap agar Lucas bisa tenang.


Setelah beberapa saat menunggu dokter akhirnya keluar dari ruang ICU.


"Bagaimana dengan papa saya dok? Bagaimana?" tanya Lucas yang langsung menghadang dokter di depan pintu


"Bagaimana dengan kakak saya dok, apa dia sekarang sudah baik baik saja" timpal Dika


Terlihat buliran keringat yang masih ada di kening dokter belum sempat di seka, raut wajah yang sudah berbeda dari sebelumnya membuat semuanya menjadi bertambah cemas.


Dan benar saja, dokter mengatakan bahwa pak Arman sudah tiada.


"Saya mewakili tim medis yang lain meminta maaf karena kami tidak bisa melakukan hal lebih. Pasien sudah meninggal dunia" ucap dokter


Deg...


Bagaikan tersambar petir di siang bolong membuat mereka terpaku dan menganga.


Kabar yang tidak pernah mereka ingin dengar dari dokter kini harus mereka dengar.


Lucas menarik jas dokter dan mengamuk pada nya.


"Apa yang dokter katakan?! Bagaimana mungkin papa saya meninggal! Sekarang saya minta dokter periksa kembali papa saya, dokter pasti sudah melakukan kesalahan. Cepat periksa kembali...!!" bentaknya

__ADS_1


Dika langsung melerai Lucas dan mencoba melepaskan cengkeraman nya pada dokter.


"Tenang Lucas, tenang. Jangan emosi begini, dia dokter..."


"Tidak paman, tidak. Dia pasti salah, suruh dia untuk kembali memeriksa papa!"


Lia sudah sangat terkejut dengan kabar dari dokter apa lagi saat melihat reaksi suaminya yang seperti itu membuatnya semakin sedih.


Mama Elda langsung memeluknya, Lia menangis dalam pelukan bibinya.


"Maaf pak, kami sudah melakukan sebisa kami dengan semaksimal mungkin, tapi yang maha kuasa berkata lain" kata dokter


"Tidak!! Papa saya tidak mungkin meninggal, dokter pasti salah, salah!!" teriak Lucas


Dika sekuat tenaga menahan tubuh Lucas yang hendak kembali mengamuk pada dokter.


"Ini catatan kematian pasien dok"


"Baiklah, pindahkan pasien ke ruang jenazah" perintah dokter


"Tidak!! Jangan berani berani kalian membawa papa ke ruang jenazah, papa ku belum meninggal, tidak!!"


Lucas berteriak dan tidak terima dengan kenyataan ini.


Dika memeluk nya dengan erat mencoba menenangkan Lucas yang berontak, hingga brankar yang di tutupi kain putih itu keluar dari ruang ICU.

__ADS_1


Lia menutup mulutnya menahan diri agar tidak berteriak, melihat kain putih itu ia kembali teringat almarhumah bundanya dulu.


Lucas dan pamannya berdiri di samping brankar itu, menatap kain putih yang menjulang ke lantai dengan tanpa mengedipkan mata.


Lucas menatap pamannya meminta izin untuk membuka kain putih itu dan pamannya pun mengangguk setuju.


Lucas melangkah mendekati brankar itu, tangannya mencoba meraih kainnya dan hendak menyingkap nya.


Namun rasanya ia tidak sanggup, tangannya tidak bisa meraih kain itu dan Lucas terjatuh ke lantai.


Bersamaan dengan itu air matanya pun ikut jatuh membasahi pipinya.


Dika merangkul bahu Lucas dan membantunya berdiri.


Setelah mengatur nafasnya Lucas lalu memberanikan diri membuka kain itu dan terlihat lah wajah papa nya yang sudah pucat dan kaku dengan mata yang tertutup rapat.


Lia menyembunyikan wajahnya di pelukan bibinya dengan air mata yang terus mengalir membasahi baju.


Mama Elda pun juga berurai air mata dan tidak sanggup melihatnya memilih memalingkan wajahnya.


Sakit rasanya hingga tidak bisa di ungkapkan dengan kata, begitu kedua bola matanya menangkap wajah papanya Lucas kembali terjatuh ke lantai.


Rasanya ia sudah tidak ada lagi kekuatan untuk berdiri, lemas dan tak berdaya hingga membuatnya tersungkur.


Tangisan kian pecah karena tidak tega melihat bagaimana keadaan Lucas saat ini.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2