
Tiba-tiba mama Viona teringat tentang Agil.
"Apa jangan-jangan Viona nginep di rumah Agil?" Batin mama Viona
Viona memang sering curhat dengan mamanya termasuk tentang masalah asmaranya.
Seperti yang mamanya ketahui, meski putri nya itu sudah menikah tapi mengaku masih tetap menjalin hubungan dengan Agil.
Mama Viona mencoba menghubungi Viona namun panggilannya tidak tersambung.
"Mama kenapa terlihat gelisah begini, mama telfon siapa" tanya pak Surya
"Kok papa masih nanya sih, ya jelas kepikiran Viona lah pa. Ada di mana anak kita sekarang, mama coba hubungin dia tapi ga bisa. Hp nya ga aktif pa"
"Jangan sampe tuh anak bikin ulah ma, bisnis kita baru saja bangkit. Papa ga mau akibat dari kekonyolan nya bisnis kita jadi terancam lagi"
"Kok papa malah nyudutin Viona sih"
"Bagaimana tidak, bisnis kita collapse dan hampir saja bangkrut itu gara-gara siapa? Gara-gara Viona"
"Iya, mama tau. Tapi kan sekarang berkat Viona nikah sama Lucas perusahaan papa normal lagi"
"Ya maka dari itu ma, Viona harus tetap bisa jaga dirinya agar tidak berbuat yang aneh"
"Iya iya pa, mama sering kok nasehatin dia"
*****
Singapura
Di rumah sakit, pak Arman yang beberapa hari belakangan ini kondisinya sudah kini tiba-tiba drop lagi.
Virus yang ada di paru-paru kembali hidup dan menggerogotinya.
Bahkan lebih parahnya lagi di leher pak Arman terdapat benjolan kecil namun cukup keras.
Setelah dokter melakukan beberapa pemeriksaan ternyata di leher pak Arman ada sel kanker yang kini mulai berkembang.
Pak Arman kini sudah benar-benar pasrah akan hidup nya.
Ia sudah lelah menjalani berbagai macam pengobatan.
Suntikan, obat-obatan, infus dan alat-alat medis yang lainnya sudah sangat membuatnya stress.
Pak Arman meminta Dika untuk membawanya pulang.
"Aku sudah muak ada di sini, ayo bawa aku pulang" pinta pak Arman
Suaranya kini mulai serak dan tenggorokannya selalu terasa sakit.
"Bagaimana mungkin kak, kakak harus melakukan pengobatan di sini. Kalo perlu kita pindah ke rumah sakit yang lebih besar dari ini" kata Dika
"Untuk apa? Pengobatan apa? Harus berapa lama lagi aku terus berbaring di sini. Aku tidak mau tau, telfon Lucas sekarang dan suruh dia jemput aku"
"Kakak pikir Lucas akan setuju? Tidak kak. Lucas bahkan mungkin akan kecewa karena kakak menolak untuk di rawat" saut istri Dika
"Kalau kamu dan Lucas ga mau bawa aku pulang, aku akan pulang sendiri!"
Pak Arman melepas paksa selang infusnya dan turun dari tempat tidur.
"Loh kak, kakak mau ngapain, kenapa kakak lepas? Kak..."
Pak Arman dengan tekad bulatnya melangkah keluar, Dika dan istrinya terus mengejar.
Namun karena kondisi nya yang lemah pak Arman akhirnya jatuh pingsan.
Dika langsung meminta bantuan dokter untuk kembali membawa kakak nya itu ke kamarnya.
Dan dokter kembali memasang selang infus nya.
"Kita harus menelfon Lucas pa, Lucas harus tau ini" ucap istrinya Dika
"Iya ma, mama coba telfon Lucas sekarang, biar aku jagain kakak di sini. Aku takut kakak sadar dan akan mencoba melarikan diri lagi"
Berulang kali Lucas coba di hubungi namun tidak bisa.
__ADS_1
"Lucas kemana sih, ga biasanya hp nya ga aktif gini. Dasar pengantin baru"
Istrinya Dika lalu kembali masuk ke kamar pak Arman dan mengatakan pada suaminya kalau Lucas tidak bisa di hubungi.
"Biarlah. Mungkin dia "
*****
Hari ini Lucas yang masih ada di rumah Lia hanya berleha-leha santai menikmati hari hari indah menjadi pengantin baru.
Ia bahkan lupa dengan padatnya pekerjaan dan hp nya yang masih tertinggal di rumahnya.
Hari ini Lucas mengajak Lia untuk jalan-jalan, menikmati hari berdua tanpa ada gangguan dari siapapun.
Lucas memang sengaja tidak meminta Romi untuk mengambilkan hp nya, itu karena ia ingin menikmati hari hanya dengan istrinya saja.
Lia baru saja habis mandi dan sibuk memilih baju di lemarinya
"Kita emangnya mau kemana mas?" Tanya Lia
"Kemana aja, kamu mau kemana? Hari ini aku akan menuruti kemanapun kamu mau. Bahkan ke bulan sekalipun" jawab Lucas
"Ahaha... Bisa aja. Oh ya mas, gimana kalo kita keliling kota sambil kulineran"
Lucas yang tadinya duduk di sofa bangun dan menghampiri Lia yang kesusahan memakai resleting belakang bajunya
"Boleh, kemana pun dan mau apapun hari ini semuanya khusus untuk istri ku"
Lucas lalu membalikkan badannya Lia menghadap dirinya, dengan tangannya yang melingkar di pinggang Lia
"Kamu cantik" ucapnya lalu mencium kening Lia
"Benarkah?"
Lucas mengangguk dan kembali mencium Lia
"Kapan kita akan berangkat?"
"Terserah kamu maunya kapan?"
"Kita berangkat sekarang aja yuk" ajak Lia
"Kamu ga mau lepasin aku? Hm..."
"Ga mau"
"Terus gimana kita mau berangkat suami ku sayang..."
"Saking nyamannya, aku sampe lupa segalanya"
Lucas melepas pelukannya dan mengambil dompetnya yang ada di laci.
Mereka berjalan-jalan menikmati hari dari jam 10 pagi hingga larut malam.
Lucas ingin libur dari segala pekerjaan nya setidaknya seminggu demi menghabiskan waktu sebagai pengantin baru.
Itu Lucas lakukan sebagai pengganti karena mereka belum bulan madu.
Jam 11 malam Lucas dan Lia sudah capek dan ingin pulang.
Di persimpangan jalan mobil mereka berhenti karena lampu merah, tanpa sengaja Lucas melihat Viona di seberang jalan yang baru keluar dari bar.
Viona keluar dari bar itu bersama laki-laki.
Viona berjalan sempoyongan terlihat jelas bahwa dia sedang mabuk berat.
Viona dan laki-laki itu terlihat sangat mesra layaknya sepasang kekasih.
Laki-laki itu membawa Viona masuk ke mobilnya kemudian melaju begitu saja.
Lucas memperhatikan dengan jelas wajah dari laki-laki itu hingga ia tidak sadar bahwa lampu sudah hijau.
"Sayang, ayo jalan"
Lia menepuk paha nya dan membuat Lucas sadar
__ADS_1
Lia bingung kenapa tiba-tiba suaminya itu bengong
"Ada apa mas?" Tanya Lia
"Ga papa sayang, ga ada apa apa"
"Ga ada apa apa tapi kamu seperti sedang memikirkan sesuatu"
"Oh ini mungkin karena aku yang biasanya selalu sibuk bekerja dan sekarang hanya jalan-jalan santai aku jadi keingat kantor aja sih"
Alibinya agar Lia tidak curiga
"Ou gitu. Oh ya mas gimana kabar papa?"
"Kata paman sih kondisi papa sudah berangsur membaik. Dokter mengizinkan papa untuk pulang jika sudah melakukan beberapa kali pemeriksaan rutin" jelas Lucas
"Syukur lah kalo gitu. Oh ya mas, kamu ga mau ajak aku ketemu sama papa?"
"Siapa bilang ga mau, ya pasti mau lah sayang"
"Terus kapan aku bisa ketemu sama papa?"
"Sabar ya sayang, kita atur waktu dulu" Lucas mengelus kepala Lia agar ia mau bersabar.
Tak lama mereka lun sampai di rumah.
Setelah membersihkan dan berganti baju mereka naik ke kasur dan akan beristirahat karena merasa capek.
Baru saja mereka terlelap tidur hp Lia berdering karena panggilan masuk.
Lucas terbangun dan berniat untuk mematikan hp nya karena tidak mau mengganggu tidur Lia.
Namun setelah melihat nama yang menelfon, Lucas urungkan niatnya.
Ia lalu menjawab telfonnya karena yang menelfon Adalah Elda.
"Halo Lia, kamu udah tidur?" Tanya Elda begitu telfonnya terjawab
"Ini kakak, ada apa telfon malam-malam?"
"Oh syukur lah kakak yang angkat, hp kakak masih ada di rumah?"
"Iya, ada apa. Kenapa suara mu terdengar cemas?"
"Pantesan. Sejak pagi papa sama mama coba telfonin kakak tapi ga bisa"
"Iya emangnya ada apa sih"
"Om Arman kak"
Lucas beranjak dari kasur dan sedikit menjauh dari Lia
"Papa, ada apa sama papa. Papa baik-baik aja kan?"
"Om Arman tadi sempat mau kabur dari rumah sakit kak"
Elda lalu juga memberi tahu pada Lucas bahwa dokter menemukan sel kanker yang sudah berkembang di leher pak Arman.
DEG
Jantung Lucas rasanya seperti berhenti berdetak untuk beberapa saat.
Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan duduk dengan pandangan kosong.
"Kalo bisa kakak besok ke Singapura demi om Arman. Dia sudah tidak mau lagi di rawat kak. Papa sama mama ga bisa menahan om Arman lebih lama. Cuma kakak yang bisa buat om Arman tenang dan mau kembali untuk melakukan pengobatan"
Lucas mengusap kasar wajahnya, menarik nafas dan membuangnya kasar.
"Kakak besok akan ke Singapura. Tolong katakan sama paman dan bibi jaga papa sampai aku tiba di sana"
"Iya kak, nanti aku bilangin sama mama dan papa"
Lucas lalu mematikan telfonnya dan kembali ke kasur.
Ia menatap Lia yang sudah tertidur pulas.
__ADS_1
Mengelus lembut rambut dan pipinya.
☀️☀️☀️☀️☀️