Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 108


__ADS_3

Jenazah pak Arman harus segera di kebumikan, terima atau tidak proses pengurusan jenazah akan tetap di lakukan.


Pak Arman akan di kebumikan sore ini juga di tempat pemakaman yang jaraknya tidak cukup jauh dari kediaman Danuarta.


Iring iringan mobil pun mulai menuju ke pemakaman dengan mobil ambulans yang berada di paling depan.


Tidak lama pun kini iringan mobil itu sudah sampai di pemakaman.


Petugas membawa keranda turun dari ambulans dan menuju tempat peristirahatan terakhir almarhumah. Lucas, lia dan lainnya berjalan di belakangnya dengan membawa bingkai foto dan bunga.


Demi menunjukkan kasih sayangnya terhadap papa nya Lucas turun ke liang lahat untuk menyambut jenazah papa nya, di temani oleh pamannya dan juga Romi yang siap membantunya.


Lia duduk di samping pemakaman dan di samping nya ada Elda dan mamanya.


Dengan memakai kaca mata hitam nya Lia mencoba menutupi sembab di matanya, namun itu percuma.


Air mata nya tetap mengalir meski ia ingin berhenti untuk menangis.


Begitu tumpukan tanah sudah menggunung mengubur pak Arman di dalamnya, bersamaan itu pula air mata Lucas kembali mengalir.


Rasanya separuh dirinya juga ikut terkubur bersama dengan jasad papanya.


Semua orang kini mulai menaburi bunga di atas gundukan tanah itu, batu nisan pun sudah terpasang sempurna dengan ukiran nama ARMAN DANUARTA di atasnya.

__ADS_1


Sebagian besar pelayat kini sudah membubarkan diri setelah pak ustadz selesai memimpin doa, kini tinggallah hanya keluarga inti saja yang masih ada di sana.


Lucas menjatuhkan dirinya tepat di samping gundukan tanah itu, ia tak lagi bisa berdiri lalu pingsan di sana.


"Mas..." teriak Lia


******


Kini Lucas sudah ada di kamarnya pun dengan pakaian yang sudah bersih.


Ia membuka matanya dengan pelan dan terlihat lah wajah istrinya yang sedang duduk di sisinya.


"Mas...." panggil Lia


Tanpa berkata Lucas langsung memeluk Lia dan menenggelamkan wajahnya di pelukan hangat istrinya.


Sekuat apapun fisiknya mencoba menutupi namun hatinya tetaplah lemah.


Lucas menangis di pelukan Lia hingga tersedu-sedu.


"Mengangis lah mas, keluarkan semua nya..." ucap Lia sambil terus mengelus bagian belakang kepala Lucas.


Lia paham betul bagaimana sakitnya saat ini hati suaminya itu, dirinya saja hanya seorang menantu tapi sangat kehilangan apalagi dengan suaminya.

__ADS_1


Hari hari pertama tanpa pak Arman membuat suasana rumah berbeda.


Elda memutuskan untuk break dari pekerjaan nya selama beberapa hari ke depan, begitupun dengan papa dan mamanya yang juga memilih tidak pulang ke Bali untuk beberapa waktu ke depan.


1 minggu Lucas hanya berdiam diri di rumah dan tidak mau menyentuh urusan kantornya sama sekali.


Pagi itu Lucas duduk di balkon utama dengan secangkir kopi hitam di atas meja.


"Paman..." sapa Lucas begitu Dika duduk di sampingnya


"Sedang apa kamu di sini" tanya pamannya


Lucas menggeleng lalu menatap pohon besar di depannya yang bergoyang karena tertiup angin.


"Tidak ada paman, hanya ingin duduk santai dengan menikmati angin segar di sini"


"Lucas, paman ngerti bagaimana terlukanya menjadi kamu. Aku paham, paham betul rasanya kehilangan. Paman cuma mau bilang kalau kehidupan tidak akan berhenti di sini"


Lucas menoleh memerhatikan wajah pamannya yang kini tampak serius.


Lucas mengerti pamannya mengatakan itu karena dirinya sudah 1 minggu ini mengurung diri dan tidak mau keluar rumah.


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2