
Seketika Viona terperanjat dan langsung terbangun.
Dengan menutupi dadanya dengan selimut, Viona duduk mengelap air di wajahnya.
"Lucas, lo apa-apaan sih, kenapa gue di siram?"
"Kenapa? Lo tanya kenapa. Ngapain lo tidur di kamar gue, hah!" Bentak Lucas
"Lo tanya, kenapa gue di sini. Ga usah pura pura deh, lo sendiri yang mengajak gue tidur di sini. Semalam lo pergi ke kamar gue dan menarik paksa gue kemari"
"Bohong! Lo bohong! Gue ga pernah pergi ke kamar lo"
"Oh ya, sekarang kamu pura-pura lupa. Wah, setelah apa yang lo lakukan pada gue semalam, sekarang lo udah lupa. Hebat ya kamu"
Lucas menaiki ranjang dan mencengkeram leher Viona, tatapannya seakan akan memangsanya saat itu juga.
"Berhenti mengoceh dan mengarang cerita, ga mungkin gue mau tidur sama lo meskipun gue dalam keadaan mabuk sekalipun"
"Lepaskan Lucas, gue ga bisa nafas..." Viona mencoba melepas tangan Lucas namun ia tak bisa.
Viona mencoba berteriak dengan sisa suaranya untuk meminta tolong.
Semakin Viona berontak semakin Lucas menguatkan tangannya.
Karena mendengar suara Viona, Romi kembali masuk ke kamar Lucas dan segera melerainya.
"Tuan, jangan tuan. Lepaskan dia, tuan bisa membunuhnya. Lepaskan tuan..."
"Memang itu yang aku mau, dia memang seharusnya mati!"
"Cukup tuan, hentikan. Apa tuan lupa dengan acara hari ini? Hari ini adalah hari yang penting untuk tuan, lepaskan dia tuan..."
Mendengar itu dari Romi, Lucas kini teringat bahwa hari ini ia akan menikah dengan Lia.
Lucas melepaskan tangannya dari leher Viona dan membanting ke kasur.
Dengan nafasnya yang masih menggebu karena kemarahannya, Lucas menatap Viona dengan tatapan mematikan.
"Jangan pernah mencoba memercikkan api sama gue, karena balasannya adalah api dan baranya. Hari ini kamu selamat karena ada hal yang lebih penting dari sekedar mengurus pelac*r seperti mu!"
Viona memegangi lehernya yang kini terasa sangat sakit, bahkan sudah mulai kesusahan untuk bernafas.
"Seret dia keluar dari kamar ku" titah Lucas pada Romi
"Baik tuan"
Romi menarik tangan Viona dan menariknya keluar dari kamar Lucas.
Viona keluar dari kamar Lucas dengan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Bi Narsih dan pak Sanip yang sedari tadi berdiri di depan pintu terkejut melihat Viona yang keluar tanpa busana.
"Lepasin tangan gue, gue bisa jalan sendiri!"
Viona menepis tangan Romi dan berjalan sendiri ke kamarnya.
__ADS_1
"Non Viona tidur di kamar den Lucas? Bagaimana mungkin?" Batin bi Narsih
"Ada apa mas Romi, kenapa tuan seperti marah?" Tanya pak Sanip
"Kembalilah bekerja, dan jangan pernah bahas ini lagi jika tidak mau mendapat kemarahan tuan" jawab Romi
"Maaf mas, dia emang suka kepo. Laki kok kayak perempuan, mau tau terus. Ayo turun, kopinya udah dingin tuh"
Bi Narsih menarik tangan pak Sanip dan mengajaknya turun ke bawah.
Lucas segera mandi dan bersiap karena melihat jam seharusnya ia kini sudah sampai di rumah Lia.
*****
Di rumah Lia
Elda kini mulai di sibukkan dengan semua persiapan pernikahan.
Meski hanya di lakukan di rumah, Elda tetap mendatangkan vendor agar menghias ruang tamu menjadi pelaminan mini.
Bi Ina yang sedari sibuk mengurus katering dan keperluan konsumsi lainnya.
Kini sudah jam 9.15, Lucas seharusnya sudah sampai di sini.
Elda melihat ke depan dan masih belum ada tanda tanda kedatangan dari Lucas.
Sudah berulang kali Elda menelfon namun hp Lucas tidak aktif.
Gelisah dan mulai cemas, Elda mencobanya menghubungi Romi.
"Non Elda di panggil non Lia, katanya di suruh ke kamarnya sekarang" ucap bi Ina
Elda mematikan panggilannya pada Romi dan menghampiri Lia ke kamarnya.
Lia kini sedang sibuk menghias dirinya, dengan bantuan MUA pilihannya.
"Ada apa Lia, kata bi Ina kamu manggil aku?" Tanya Elda begitu masuk kamar.
"Ini, aku mau minta pendapat mu. Menurut mu lipstik mana yang lebih cocok dengan ku, yang flowless atau yang bold?"
Lia meminta Elda untuk memilihkan lipstik di kedua tangannya.
"Ya ampun Lia, kan di sini udah ada MUA handal"
"Ya kan aku mau tau pendapat mu, yang mana?"
Inggit yang menjadi MUA pun juga meminta Elda untuk mengatakan pendapat nya.
"Maklum lah, namanya juga pengantin pasti menginginkan penampilannya yang sangat paripurna di hari spesialnya. Sok atuh pilihkan"
"Kalo MUA nya udah ngomong gini, pasti nih calon pengantinnya dari tadi udah bikin pusing ya" celetuk Elda
Lia tertawa karena tebakan Elda benar.
Sedari tadi di hias, Lia memang banyak request.
__ADS_1
Untung saja MUA nya adalah temannya sendiri, jadi sudah faham.
Elda akhirnya memilih lipstik yang flowless karena itu di rasa sangat cocok dengan hiasan matanya.
"Pilihan kamu sama kayak pilihan Inggit, aku tadinya mau pilih ini juga tapi aku juga pingin yang bold" ujar Lia
"Astaga Lia, bingung sih boleh tapi jangan terlalu wak. Udah yang ini aja ya, ga usah pusing pusing, kamu itu udah cantik. Makeup ini hanya pelengkap pernikahan. Inggit, kamu paling yang ini aja, kalo Lia masih banyak maunya panggil aku. Biar aku sendiri nanti yang lanjutin makeup, biar kaya badut sekalian hahaha..."
Elda tertawa lalu keluar dari kamarnya, begitu pun dengan Inggit.
Belum rapat Elda menutup pintunya, Lia kembali memanggilnya.
"Eh Elda, tunggu"
Elda hanya memperlihatkan kepalanya saja
"Apa lagi tuan putri, hm..."
"Ee... Lucas belum datang?"
"Belum"
"Kok belum sih. Aku dari tadi coba hubungin dia tapi hp nya ga aktif. Coba kamu hubungin dia, siapa tau bisa. Tanyakan dia ada di mana sekarang, ya."
Elda kini bingun harus menjawab apa. Jangan kan Lia, dia sendiri juga tidak tau di mana Lucas sekarang.
"Oh, tenang aja. Kakak pasti lagi di jalan, bentar lagi sampe kok" jawab Elda mencoba menenangkannya
"Tau dari mana, emangnya hp Lucas udah bisa di hubungi?"
"Aku udah tanya Romi tadi, asisten kakak. Tenang, ga usah pikir yang macem macem. Bentar lagi sampe kok. Aku keluar dulu ya"
Segera Elda menutup pintunya agar Lia tak lagi bertanya.
Elda kembali menghubungi Romi, panggilannya masuk namun tak juga di angkat oleh Romi.
Elda akhirnya menelfon ke telpon rumah dan bi Narsih yang menjawabnya.
"Halo, dengan siapa?" Tanya bi Narsih
"Halo bi, ini Elda. Kakak ada di rumah bi?"
"Oh non Elda, den Lucas ga ada non baru aja pergi"
"Baru pergi, sama siapa bi?"
"Iya non, baru aja den Lucas berangkat sama mas Romi"
"Oh ya udah bi, makasih"
"Iya non, sama-sama"
Telfon pun berakhir.
"Kakak ini gimana sih, bukannya berangkat dari tadi. Kalo berangkatnya sekarang, kapan sampenya. Hp nya juga kenapa ga bisa di hubungin" gerutu Elda.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️