Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 29


__ADS_3

Setelah menghabiskan seharian di rumah Lia, kini Lucas pulang ke rumah.


Ia masuk ke rumah di sambut oleh bi Narsih yang membukakan pintu untuk nya.


Begitu Lucas menaiki tangga hendak ke kamarnya, terdengar suara seseorang yang sedang muntah-muntah.


Lucas melihat ke bawah dan bi Narsih masih ada di sana.


"Suara siapa itu bi?" Tanya Lucas


"Itu den, non Viona muntah muntah"


"Ada apa dengannya"


"Bibi juga tidak tau den, udah 3 hari belakangan ini non Viona sering mual muntah"


"Bibi periksa dia, jangan sampai dia mati di rumah ini"


"Baik den"


Lucas terus melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


Membersihkan diri lalu masuk ke ruang kerjanya.


Karena lusa adalah hari terpenting baginya, maka ia akan menyelesaikan pekerjaannya lebih awal.


Lucas juga memerintahkan Romi agar semua meeting di hari itu di majukan, atau jika tidak bisa maka di mundur kan saja.


Bi Narsih mengetuk pintu kamar Viona sambil membawakan teh jahe.


Toktoktok


"Permisi non...." Panggil bi Narsih dari luar pintu


"Apa sih bi, aku ga mau di ganggu!"


Jawab Viona kesal dari dalam kamarnya


"Ini non, bibi bawakan teh jahe untuk non Viona"


"Ga perlu, pergi sana!"


"Ini bisa membantu menghilangkan mual non Viona, buka pintunya non"


"Kamu itu budek apa gimana sih bi. Aku bilang pergi ya pergi, jangan ganggu aku!"


Karena niat baiknya hanya mendapat kemarahan, bi Narsih akhirnya kembali ke dapur.

__ADS_1


"Ampun deh kalo sama non Viona, ga ada lembut lembut nya sama sekali. Bagaimana den Lucas mau cinta sama dia" gerutu bi Narsih sambil meminum teh jahenya.


Memang sudah beberapa hari ini Viona sering merasa pusing dan sering muak muntah.


Ia jadi sering marah marah dan tidak suka bau dapur.


Ia duduk di depan cermin menatap dirinya yang terlihat sangat pucat.


Sambil terus menahan rasa mual, Viona mencoba memakan permen.


Ia lalu teringat bahwa ia sudah telat mens.


Segera Viona melihat kalender di hp nya dan benar saja ia sudah telat 3 minggu.


"Sial! Gue udah telat 3 minggu. Apa jangan-jangan aku sekarang hamil? Tidak tidak... Aku tidak boleh hamil. Ga ga ga mungkin ga mungkin"


Viona lalu memesan testpack secara online dari hp nya.


Sambil menunggu paketnya di antar, perasaan Viona sangat cemas dan tidak karuan.


Ia mondar mandir di halaman rumah sambil terus mengirim pesan pada kurirnya agar segera sampai.


Lucas yang sedang menikmati angin sepoi di balkon tak sengaja melihat Viona.


"Ngapain dia mondar-mandir di halaman, siapa yang dia tunggu" batin Lucas


Setelah 10 menit ia mondar mandir di halaman, kini pesanannya sudah datang.


Lucas semakin curiga karena begitu ia menerima paket dari kurir itu, Viona celingak-celinguk seperti takut ketahuan oleh seseorang.


Karena penasaran Lucas akan pergi ke bawah untuk menyuruh bi Narsih mencari tahu.


Namun itu urung karena hp menerima panggilan video dari calon istrinya, Lia.


Lucas menjawab telfon Lia dan lupa dengan rasa penasaran atas Viona.


Di kamar Viona alat testpack yang sudah ia beli segera ia pakai.


Menunggu hasil dari tes itu Viona sangat gelisah dan ketakutan.


"Jangan sampai garis 2, plis... Jangan sampai, jangan...."


Selang beberapa waktu alat itu sudah menunjukkan hasilnya.


Dan benar saja dugaannya, ia hamil.


Viona membuang alat itu ke lantai dan tubuhnya seketika jatuh.

__ADS_1


Ia jadi gemetar dan takut, bagaimana jika sampai Lucas mengetahui kehamilannya.


Kehamilan akan membawa nasib buruk baginya dan juga ke dua orang tuanya.


"Apa ini.. Kenapa, kenapa bisa positif?... Tidak tidak, bagaimana nasib ku selanjutnya. Aku tidak akan bisa menjadi nyonya Danuarta.


Agil, ya aku harus memberi tahu Agil"


Viona keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil hpnya untuk menghubungi Agil.


Agil adalah pacarnya, sebelum ia menikah dengan Lucas ia sudah menjalin hubungan dengan Agil.


Telfonnya tersambung namun tak juga di angkat oleh Agil.


"Ish... Kemana sih Agil, dari tadi juga di telfon ga di angkat angkat" gerutu Viona


Viona terus menerus mencoba menelfon Agil hingga akhirnya telfonnya terjawab.


"Heh, kemana aja sih lo. Dari tadi gue telfonin lo ga di jawab?" Viona langsung marah marah


"Apa sih sayang... Kenapa kamu marah marah"


Ujar Agil dengan santainya


"Gimana gue ga marah, gue telat!"


"Telat, telat apa nya sih. Emangnya lo mau kemana ha..."


"Eh ga usah belaga ga ngerti deh. Maksud gue bukan itu"


"Terus apa sayang...."


"Gil, lo mabuk ya?! Jawab!" Bentak Viona


"Apa sih beb, kalo lo mau gabung, sini. Gue tungguin lo di tempat biasa, oke..." Agil langsung mematikan panggilannya dan melanjutkan pesta minumnya.


Saat ini Agil sedang mabuk parah, ia berada di diskotik bersama dengan banyak wanita di sekelilingnya.


Sedangkan Viona ia semakin marah karena telfonnya di matikan begitu saja oleh Agil.


"Kurang ajar, berani-beraninya Agil matiin telfon gue"


Viona membanting hp nya ke kasur dan duduk di lantai.


Ia bingung, apa yang harus ia lakukan.


Tidak mungkin ia membiarkan kehamilan untuk berkembang.

__ADS_1


"Apa gue coba kasih tau mama, tapi... Tapi mama pasti akan marah sama gue, apa lagi papa"


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2