
Lia dan Elda berpamitan pada pak Arman sebelum pergi ke butiknya.
"Kalian hati-hati ya" kata pak Arman
Lia lalu menyalami tangan papa mertuanya
"Iya pa, papa mau nitip sesuatu?"
"Sesuatu apa nak, ngak. Ga usah, kamu cepat selesai kan keperluan kamu lalu segera pulang"
"Iya pa, kami berangkat dulu ya"
"Bye om Arman..." Pamit Elda setelah memeluknya
Mereka pergi berdua dengan Elda yang mengemudi.
Sepanjang perjalanan mereka terus membahas tentang resepsi nanti.
"Nanti papa sama mama kamu bajunya kan sepasang, aku sama mas Lucas juga sepasang, terus kamu sepasang sama siapa?" Celetuk Lia yang membuat Elda terkejut.
Elda langsung melirik ke arah Lia dengan bibir nya yang di majukan.
"Oh iya ya, kamu kan ga ada pasangan. Terus masak kamu bajunya samaan sama papa?"
Lia menggoda Elda dan memintanya untuk membawa pacarnya ke acara resepsi nanti.
Elda langsung memukul lengan Lia "Mentang mentang situ udah punya pasangan, seenaknya aja ya. Tunggu aja, cepat atau lambat aku pasti bakal ngenalin pacar aku ke semua orang, terutama sama kamu"
Lia tersenyum sepele sambil mengangguk
"Eh tapi kalo nunggu kamu cari pacar dulu kelamaan tau El. Gimana kalo kamu pasangan aja sama Romi, cocok tau"
Elda lagi lagi memukul Lia kali ini dengan mencubitnya.
"Sekali lagi kau lanjutkan perkataan mu, ku putar balik nih mobil" ancam Elda
Bukannya takut Lia malah semakin mengejek Elda yang masih tetap jomblo di usianya yang kini sudah 20 tahun lebih.
Lia terus mengejek Elda sampe mobil yang mereka naiki terparkir rapi di depan butik Lia.
"Sudah sampe nona, silahkan turun dan berhentilah terus mengeceng ku" ucap Elda
Lia sampe sakit perut karena tertawa hingga ia tidak kuat untuk membuka safety belt nya.
"Aduh... El, bantuin aku dong. Sumpah tenaga ku habis karena terus tertawa"
Bukannya membantu Elda malah langsung turun dan membiarkan Lia di dalam.
Bukannya marah, Lia malah makin tertawa dan benar-benar tidak punya tenaga.
__ADS_1
Lia bahkan sampe mencubit dirinya sendiri agar bisa berhenti tertawa.
Barulah beberapa saat Lia berhasil berhenti tertawa dan bisa membuka safety belt lalu turun dari mobilnya.
Elda dengan wajahnya yang datar menunggu Lia di depan pintu butik nya.
Hampir saja Lia kembali tertawa namun ia langsung mencoba mengatur nafasnya dan mengontrol diri.
Begitu Lia sampai di depan Elda, Lia tersenyum biasa padanya.
"Puas ya anda tertawa dari tadi?"
Ekspresi marahnya Elda sama sekali tidak membuat orang takut, yang ada malah tertawa.
"Sory sory... Aku janji ga bakal gitu lagi" ucap Lia sambil memegang kedua telinganya.
Elda menarik satu dari ujung bibirnya lalu memutar bola matanya
"Iya deh di maafin. Ayo cepetan masuk keburu kering nih kulit ku kelamaan di luar"
Elda menarik tangan Lia mengajaknya untuk segera masuk karena di luar matahari sudah mulai terik.
Di sana Lia langsung mengajak asisten nya untuk membicarakan tentang gaun yang akan ia buat.
Elda yang tidak terlalu paham masalah gaun, dia hanya duduk di samping Lia sambil terus menyimak nya.
*****
Meski Viona sudah mengganti semua identitas nya termasuk dengan nomor hp dan akun yang ia pakai untuk menyebarkan rumor tentang Lucas.
Viona mulai kembali membuat rencana agar meski ia tertangkap oleh polisi ia akaj segera bisa kembali bebas.
Saat Viona sedang hendak pergi ke supermarket polisi langsung membekuknya dan langsung membawanya.
Viona mencoba memberontak dan tidak mau di bawa namun ia tidak mampu untuk berkelit dan tetap ikut ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Romi dengan tegap menyambut kedatangan nya.
Romi ada di kantor polisi hanya untuk memastikan bahwa Viona benar-benar akan di masukkan ke dalam sel tahanan.
Dengan senyum sinis Romi menatap Viona dari ujung kepala hingga ujung kaki nya.
"Saat nya anda mendapat balasan dari apa yang telah anda perbuat, selamat menikmati dinginnya lantai penjara nona" ucap Romi
Melihat Romi, wajah Viona memerah karena marah.
Ia mengepalkan tangannya dan langsung memukul Romi.
Namun Romi yang sigap langsung menangkis tangan Viona.
__ADS_1
"Berpikir lah sebelum bertindak nona, jangan sampai otot mu lebih berkuasa dari pada otak"
Viona mengacungkan jari telunjuk nya ke arah wajah Romi dan dengan tegas Viona malah mengancamnya
"Lo dan tuan lo itu mungkin bisa senang sekarang karena gue di sini. Tapi ingat, gue ga akan pernah menyerah jika gue belum membuat Lucas dan keluarga nya menderita dan merasakan apa yang gue rasakan" ancam Viona
Polisi segera membawa Viona masuk ke dalam sel, Viona menoleh ke belakang dan berteriak Tunggu aja pembalasan dari gue. Gue akan buat pak Arman lo itu segera pergi ke neraka. Lihat aja nanti!!"
Romi hanya diam dan mengangkat sebelah alisnya mantap remeh Viona.
Lalu ia pergi dan kembali ke kantor untuk melaporkan pada Lucas.
*****
Pak Arman yang kini sedang sendirian di rumah, ia duduk di kursi goyang di samping kolam renang.
Pak Arman memandangi beberapa obat yang bi Narsih siapkan untuk nya.
"Mungkinkah hanya dengan meminum obat ini aku akan sembuh? Sementara setiap hari rasa sakit yang aku rasa tak kunjung mereda.
Maaf kan papa nak, bukan maksud papa untuk tidak ingin sembuh tapi semua ini percuma saja" gumam pak Arman.
Beliau mengambil obat itu dan meletakkan nya di saku bajunya, yang nantinya obat itu akan beliau buang di kamar mandi di kamarnya.
Pak Arman duduk dengan menyandarkan kepalanya dengan matanya yang terpejam menikmati angin sepoi yang menerpa tubuh nya.
Kini sudah tiba waktunya untuk makan siang, bi Narsih yang sudah menyiapkan makanan di atas meja makan segera menghampiri pak Arman.
Tapi melihat pak Arman yang memejamkan matanya bi Narsih jadi tidak enak jika harus membangunkannya.
Bi Narsih akhirnya kembali ke dapur untuk lanjut membersihkan dapur.
Ternyata tidak lama kemudian pak Arman terbangun karena perutnya merasa lapar.
Pak Arman makan sendirian karena memang tidak ada orang lagi di rumah saat ini.
Sore harinya Lucas pulang lebih awal dari oada Lia dan Elda.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya Lucas duduk bersama di ruang keluarga dengan papanya.
Pak Arman menanyakan bagaimana persiapan untuk resepsinya.
"Semuanya sudah beres pa hanya tinggal bikin undangan nya aja. Oh ya teman-teman papa siapa aja yang mau di undang? Lucas sampe lupa nanyain itu ke papa"
Pak Arman kemudian mengambil buku kecil dan pulpen yang ada di laci di sebelahnya sofanya.
Banyak nama dari teman teman nya yang sudah pak Arman tulis.
Buku itu lalu beliau berikan pada Lucas.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️