Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 70


__ADS_3

Viona menunggu di luar dengan mondar mandir kesana kemari sambil terus mencoba menghubungi Agil.


Tiba-tiba Viona merasakan sakit di perutnya, ia lalu duduk dengan tangannya yang mulai meremas baju di bagian perutnya.


Dahinya mulai mengerut dan bibir nya mulai berseru karena menahan sakit.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang UGD, Viona segera bangun dan langsung menghampiri.


Dengan tangan kanan yang memegang perutnya dan tangan kiri memegang lengan dokter.


"Dokter, bagaimana dengan mama saya. Apakah mama saya baik-baik aja? Bagaimana dengan nya sekarang dok?" Tanya Viona dengan cemas


Dokter hanya diam dan menggelengkan kepala membuat Viona bingung.


"Ada apa dok, kenapa dokter hanya diam saja! Jawab dong dok!"


"Ibu kamu sudah meninggal sebelum sampai di rumah sakit" perkataan yang keluar dari mulut dokter langsung menusuk telinganya hingga membuat dada nya merasa sakit.


Deg....


Detak jantung Viona seakan berhenti untuk beberapa detik.


Lututnya seperti langsung kehabisan energi hingga membuatnya tak lagi mampu berdiri.


Genggaman tangan Viona pada lengan dokter pun perlahan ia lepas sebelum dirinya terjatuh ke lantai.


Saat air matanya jatuh membasahi pipinya saat itu pula jatuhlah juga semua harapan nya.


Bagaikan mimpi buruk di siang bolong, hatinya sakit bagaikan tersayat namun tak berdarah.


Viona duduk di lantai dengan tatapan matanya yang kosong.


Air matanya terus mengalir dengan deras sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.


Dokter segera membawa mya masuk ke UGD untuk di periksa kondisi nya.


Sekitar 25 menit kemudian Viona tersadar, ia kembali menangis lalu bangun untuk menghampiri jasad mama nya.


Mama Viona meninggal karena telah bunuh diri dengan minun sebotol obat nyamuk.


Dugaan kuat ia mengakhiri hidupnya karena depresi.


Jiwa dan raganya tidak sanggup untuk menjalani hidup yang sudah berubah 180° daru sebelum nya.


Jika sebelum nya yang mengurus kematian papa nya adalah dirinya dan mama nya.


Kini hanya Viona sendiri yang mengurus pemakaman mama nya.

__ADS_1


Kini jasad mama Viona di antarkan menuju tempat pemakaman umum bersebelahan dengan makam suaminya, pak Surya.


Melihat jasad mama nya yang kini sudah tertimbun oleh tanah membuat dada Viona terasa sesak.


Semua pelayat menaburi bunga di atas makam baru itu setelah ustadz memimpin doa.


Satu persatu pelayat menyampaikan bela sungkawa pada Viona sebelum mereka pulang.


Kini hanya tingga Viona seorang di sana.


Dengan tatapan kosongnya Viona menatap dua nisan yang bertuliskan nama dari kedua orang tuanya.


Viona kembali menangis dengan memeluk kedua batu nisan itu.


Tangisannya pecah hingga membuat matanya menjadi bengak.


Meski Viona memang sangat nakal dan suka bertingkah tapi sebenarnya dia anak yang sangat menyayangi papa mama nya.


Viona menagis hingga membuatnya kembali jatuh pingsan di tengah-tengah kuburan kedua orang tuanya.


Viona yang pingsan di tengah kuburan kini ia siuman dan membuka matanya.


Dengan agak namun perlahan mulai jelas melihat bahwa kini ia berada di dalam kamarnya.


Karena tidak percaya Viona mengucek matanya berulang ulang hingga ia benar-benar percaya kalau ia saat ini memang ada di dalam kamarnya sendiri.


"Kok gue ada di kamar, bukannya tadi gue masih ada di makam mama sama papa? Siapa yang udah bawa gue pulang?" Gumam Viona di dalam hatinya


"Akhirnya lo udah siuman?" Sapa orang yang baru masuk itu


Viona langsung menoleh ke asal suara dan ternyata itu adalah Agil.


Ya Agil kah yang membawa Viona pulang dari makam.


"Lo yang bawa gue pulang?" Tanya Viona


Dengan melangkah mendekat lalu duduk di samping Viona "menurut lo siapa lagi yang akan membawa lo pulang kalo bukan gue? Emang masih ada yang peduli sama lo selain gue?"


Viona hanya diam.


Memang benar tak ada lagi yang peduli sama dia kecuali Agil.


Bahkan Viona tidak punya satu teman perempuan pun yang dekat dengannya.


Viona langsung memeluk Agil dan kembali menangis.


Agil sebenarnya sudah bosan dengan Viona namun terpaksa ia harus tetap pura pura peduli hingga ia bisa mengambil sertifikat rumah nya.

__ADS_1


Agil mengelus kepala Viona lalu menghapus air matanya


"Dah, jangan nangis lagi. Percuma tau gak. Yang mati ga akan bisa hidup lagi meski lo nangis sampe mata lo kering. Kita keluar yuk, udah lama kan lo ga main ke club? Semuanya pada nanyain lo" ajaknya dengan tanpa beban


Viona mengernyitkan dahinya dan menatap Agil dengan bingung


"Nyokap gue baru aja di makamkan, jangankan tanahnya mengering bahkan bunganya pun masih belum layu. Dan lo udah mau ngajakin gue ke club? Lo sadar ga sih kalo gue sekarang lagi sangat berduka?"


Agil melepas tangan Viona lalu berdiri di samping nya


"Ya, gue tau lo baru aja kehilangan nyokap lo dan lo sedang berduka. Tapi mau sampai kapan? Seminggu, sebulan, atau bahkan setahun? Apa gunanya coba"


Dengan entengnya Agil mengatakan itu pada Viona.


Belum sebulan papa nya meninggal dan baru saja mama nya juga selesai di makam kan.


Viona semakin tidak mengerti dengan Agil, dia memang satu-satunya yang masih peduli padanya tapi terkadang kata-kata dan perbuatan nya membuat Viona menggelengkan kepala.


Viona diam dan memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela.


Agil menarik panjang nafasnya sebelum membuangnya dengan kasar.


Agil kembali duduk di samping Viona dengan tangannya yang merangkul bahu Viona.


"Sory sayang, sory. Ga seharusnya gue katakan itu sama lo, sory...." Ucap nya


Viona tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan tetap memandang ke luar jendela.


"Gue bilang kek gitu karena gue mau lo sadar, berlarut larut dalam duka itu ga baik. Yang ada lo malah bisa sakit bahkan stress" sambungnya


"Ya gue ngerti maksud lo, tapi untuk sekarang gue ga mau kemana-mana. Kalo lo mau ke club pergia aja sana ga usah ajak gue"


Viona melepas tangan Agil dan langsung berbaring dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Oke oke, kalo lo masih mau berduka dan tetap di sini sendirian ga papa. Gue pergi dulu ya, dan kalo nanti lo butuh sesuatu telfon gue dan gue pasti akan langsung pulang" ucap Agil lalu keluar dari kamar Viona


Setelah Agil menutup pintu kamarnya Viona membuka selimutnya.


Ia lalu duduk dan mengambil hp nya.


"Perkataan Agil memang ada benarnya juga, percuma gue berlarut dalam kesedihan ga akan membuat papa dan mama kembali. Lebih baik gue mencari cara gimana gue bisa punya uang lagi"


Viona mencari sesuatu yang bisa membuatnya kembali mempunyai banyak uang melalui Internet.


Bermacam-macam jenis pekerjaan muncul di layar hp nya.


Tapi Viona teringat dengan perutnya, di sana kini bersemayam nyawa baru yang ia tak tahu bagaimana kedepannya.

__ADS_1


Jangan kan untuk mengurus keperluan anak, mengurus keperluan dirinya sendiri kini Viona sangat kesulitan.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2