
Viona hanya diam terpaku melihat pintunya yang di tutup dengan keras oleh Agil.
Matanya mulai mengeluarkan bulir bening dan jatuh membasahi pipinya.
Hampir 3 tahun ia pacaran dengan Agil tak pernah sekali pun Agil berkata kasar padanya.
Viona sangat mencintai dan menyayangi Agil melebihi apapun.
Karena Agil yang selalu ada untuk nya di saat papa dan mama nya sibuk sendiri.
Viona duduk di sofa sambil terus menangis
"Gak mungkin kalo Agil ga cinta sama gue, mungkin dia sedang merasa stress. Makanya dia kasar sama gue. Gue yakin nanti Agil pulang pasti udah dengan lebih baik dan ga akan marah-marah lagi sama gue"
Viona menghapus air matanya dan tetap mencoba berpikir positif tentang Agil.
Meski Agil sudah jelas-jelas menunjukkan sikap aslinya namun Viona tetap buta karena cintanya.
Mama Viona sejak kematian suaminya kini jarang bicara.
Dia lebih sering diam dan mengurung diri di kamarnya.
Mau bagaimana pun kehidupannya sudah sangat jauh berbeda, ia menjadi janda karena di tinggal suami dan juga semua hartanya.
Hanya rumah besar ini yang menjadi satu-satunya harta mereka.
Semua tabungan kini perlahan mulai terkuras.
Karena sudah tak ada lagi pemasukan sedangkan pengeluaran tetap berjalan.
Perlahan mama Viona seperti orang stres, tidak nafsu makan, jarang mandi, pun jarang berbicara meski itu dengan putri kesayangan nya sendiri.
Kini di rumah besar itu tak lagi ada pembantu, karena ekonomi mereka tidak sanggup untuk membayar gajinya.
Viona terpaksa memasak sendiri meski ia kurang tau tentang isi dapur dan bahan masakan.
Tak jarang Viona sering tekena minyak panas saat menggoreng telur.
Bosan, kesal dan tudak ingin kehidupan yang seperti ini tetap berlanjut.
Viona berpikir keras dan harus mencari cara bagaimana agar ia bisa mendapatkan uang kembali.
Saat Viona hendak pergi ke kamarnya, mama nya tiba-tiba berteriak dengan keras hingga suaranya menggema di seisi rumah.
__ADS_1
"Aaa......"
Viona segera berlari ke kamar mama nya, namun ia tidak bisa masuk karena pintu kamar nya terkunci dari dalam.
Viona langsung menggedor gedor pintu kamarnya dan terus memanggil manggil mama nya
Toktoktok.... "Mama.... Ma. Buka pintunya ma. Mama.... Ma"
Tak ada jawaban dari dalam membuat Viona semakin khawatir.
Viona mengambil sesuatu untuk ia gunakan mendobrak pintunya.
Begitu pintu nya berhasil ia buka segera Viona masuk. "Mama....." Teriak Viona
Viona berlari dan naik ke kasur karena mama nya sudah tergeletak di sana.
Mencoba menepuk pipi mama nya untuk membangunkannya.
Betapa terkejutnya Viona melihat mama nya yang sudah terlentang dengan busa yang keluar dari mulutnya dan di tangannya ada sebotol obat nyamuk.
Viona mengambil botol itu dari tangan mama nya dan ternyata isinya sudah kosong.
Tubuh mama nya mulai kejang dengan matanya yang melotot menghadap langit-langit kamar nya.
"Mama... Mama bangun ma, ini... Ini apa. Apa yang mama minum? Kenapa mama bisa begini?"
Namun sayang, jangan kan menyuruhnya pulang. Telfonnya saja tidak bisa tersambung.
Viona panik, jika semakin lama mama nya di biarkan di sini sudah pasti kondisinya akan memburuk
Tapi bagaimana caranya ia untuk membawa mama nya jika hanya ada dia seorang di rumah itu.
Terpaksa Viona berusaha sendiri untuk membawa mama nya ke mobil.
Busa putih semakin banyak keluar dari mulutnya membuat Viona semakin panik.
Viona mengemudi dengan tidak fokus gara gara ia mengemudi sambil terus menoleh ke kursi belakang.
Di dalam perjalanan ke rumah sakit mama Viona sudah tak lagi mengeluarkan busa dari mulut nya namun kondisinya mulai lemas, wajahnya mulai memucat.
"Mama... Mama dengar Vio kan, mama bertahan ya ma. Vio akan segera sampe di rumah sakit kok. Mama... Mama yang kuat ya ma, mama harus kuat. Bentar lagi kita sampek kok..."
Perjalanan ke rumah sakit seakan terasa begitu panjang hingga membutuhkan waktu yang sangat lama.
__ADS_1
Viona mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga ia hampir saja akan menabrak pejalan kaki yang hendak menyebrang.
Beruntung dengan cepat Viona menginjak rem nya tepat waktu. "Sialan!!"
Begitu mobil berhenti Viona membuka kaca pintu mobilnya dan menatap orang itu dengan kesal.
"Woi...! Nyebrang tuh liat liat. Punya mata ga di pake!" Bentak Viona pada nya
"Eh elu yang bawa mobilnya ngebut banget, udah tau jalanan rame" jawab pejalan kaki itu
"Heh. Kalo gue ga lagi buru-buru gue robek mulut lo"
"Alah, lo yang ugal-ugalan lo juga yang marah-marah. Dasar gila!!"
"Eh gue tandain lo ya, awas lo!"
Meski sangat kesal dan ingin mengamuk pada pejalan kaki itu, Viona memilih untuk segera pergi ke rumah sakit.
Ia tidak bisa mengulur waktu berharga untuk mama nya hanya demi pejalan kaki itu.
Viona kembali tancap gas agar bisa segera sampai.
Begitu sampai di rumah sakit, Viona berteriak memanggil suster dan dokter untuk membantunya mengeluarkan mama nya dari mobil.
Suster segera membawa brankar agar lebih mudah membawa mama Viona ke dalam.
Segera mama Viona di bawa ke UGD untuk segera di lakukan pemeriksaan.
Viona yang ikut mendorong brankar itu juga ingin masuk namun di cegah oleh suster.
"Maaf bu, ibu di larang masuk. Hanya dokter fan suster saja yang boleh masuk ke dalam" ucap salah satu suster
Merasa kesal karena di larang Viona menjadi marah
"Apa maksud nya sus, itu mama saya. Saya cuma mau nemenin mama saya!" Bentak Viona
"Iya saya faham bagaimana khawatirnya yang anda rasakan. Tapi ini adalah peraturan rumah sakit, jadi mohon untuk kooperatif agar dokter bisa segera menangani mama anda dengaj cepat"
Viona mencengkeram lengan suster itu denga kuat sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
"Oke, saya akan menunggu di sini. Tapi kamu harus pastikan kalau mama saya akan baik-baik aja. Cepat masuk sana!" Ujar Viona lalu mendorong suster itu ke dalam.
Suster itu hanya diam dan langsung masuk lalu menutup pintunya.
__ADS_1
Meski jauh di dalam hati si suster itu ia ingin sekali membalas Viona dengan kata-kata yang juga menohok namun terhalang dengan sumpah atas pekerjaan.
☀️☀️☀️☀️☀️