
Hari ini vila mulai di hias.
Tukang vendor sudah tiba dan mulai melakukan pemasangan dekorasi pelaminan.
Dika sibuk mengurus semuanya agar tampak sempurna.
Pak Arman mengontrol dengan berkeliling vila.
Lucas dan Romi ada di depan vila sambil membicarakan tentang keamanan saat acara berlangsung.
"Semuanya sudah saya siapkan tuan, saya sudah menyiapkan sekitar 50 penjaga yang siap berjaga di dalam maupun luar vila sebelum hingga acara selesai"
"Bagus. Jangan sampai ada hal hal yang tak di inginkan terjadi. Jika sampai ada sesuatu yang mencurigakan kamu suruh para penjaga untuk langsung membereskan nya" titah Lucas
"Baik tuan"
Karena acara resepsi akan di mulai besok sore, hari Vira asisten Lia datang ke Vila bersama supir Lia.
Vira datang dengan membawa koper berisi gaun milik Lia dan juga jas milik Lucas.
Lia menyambut kedatangan Vira dan memintanya untuk membawa koper itu ke kamarnya.
Vira juga akan stay di sini selama acara berlangsung karena Vira sudah seperti saudara bagi Lia.
Pagi ini mama Elda sengaja mendatangkan orang orang dari salonnya untuk melalukan treatment di vila.
Lia, Elda dan dirinya sudah siap di salah satu ruangan untuk spa, pedikur dan manikur agar membantu mereka untuk relaks dan saat acara nanti malam wajah dan tubuh mereka terlihat fresh dan bersinar.
Setelah treatment di wajahnya selesai Lia meminta kukunya untuk di warnai dengan warna yang senada dengan gaun nya nanti malam.
Warna putih dengan gradasi warna biru muda, selain itu Lia juga meminta untuk di hiasi dengan manik manik agar terlihat seperti kuku palsu.
Jam 5 sore sudah waktunya untuk Lia di rias.
Dengan hanya menggunakan baju pajamas Lia duduk di depan meja rias dengan lampu yang terang.
MUA pun mulai memainkan jemarinya di wajah Lia dengan bermacam-macam kuas di tangannya.
Lia begitu menikmati sentuhan lembut dari kuas yang kesana kemari di kulit wajahnya.
Lia meminta MUA nya untuk meriasnya dengan riasan koren look yang soft namun tampak segar dan manis di pandang.
Lia yang dasarnya memang lah wanita cantik tidak memerlukan banyak dempulan di wajah nya.
Bulu matanya yang panjang dan lentik tak perlu lagi menggunakan bulu mata palsu, cukup dengan maskara dan menjepitnya sudah membuat seperti sedang memakai bulu mata palsu.
Beberapa saat kemudian Lia sudah selesai dengan semua riasannya, Vira Yuniar sedari tadi ada di sampingnya mulai membantunya untuk memakai gaun nya.
Lia kini sudah tampak sangat cantik dengan gaun rancangan nya sendiri yang sangat mewah.
Juga riasannya yang membuatnya tampak seperti putri dari negeri dongeng.
Di tambah lagi dengan mahkota yang ia pakai benar-benar membuatnya bak ratu.
Lia berdiri di depan cermin besar dan memperhatikan pantulan dari dirinya sendiri.
Elda yang sedari tadi juga sibuk merias dirinya kini masuk ke kamar Lia dan takjub melihatnya.
"Lia...." Panggil Elda yang masih tetap berdiri terpaku di ambang pintu.
__ADS_1
Lia menoleh ke arah pintu lalu tersenyum pada Elda
"Lia... Ya ampun... Kamu seperti Elsa putri dari negeri salju"
Elda mendekat pada Lia, lalu dengan segera menyalakan kamera hp nya untuk mengabadikan nya.
"Kita foto dulu yuk"
Lia mengangguk, Elda meminta Vira untuk memotret nya.
"Wah Lia... Jika aku saja busa sampai se pangling ini sama kamu, bagaimana dengan kakak nanti?"
"Oh ya, dimana dia sekarang?" Tanya Lia karena sedari tadi ia tidak keluar dari kamarnya karena sibuk di rias.
"Kakak udah rapi dengan setelan jasnya, dia terlihat seperti pangeran. Uh... Ya ampun kalian sangat serasi..."
Di luar satu persatu para tamu undangan sudah mulai berdatangan, dari teman-teman pak Arman, kolega dan klien Lucas juga teman-teman Lia.
Romi yang sudah rapi dengan seragam pemberian Lucas stay di tengah-tengah para undangan dengan earphone di telinganya.
Para penjaga pun sudah mulai bersiaga sejak sore tadi.
Pak Arman pergi kamar Lia untuk melihat apakah menantunya itu sudah siap atau belum.
Begitu membuka pintu kamarnya pak Arman pun di buat kagum dengan kecantikan Lia.
"Papa..." Lia yang awalnya duduk dengan Elda di sampingnya hendak berdiri.
Namun pak Arman memintanya untuk tetap duduk.
"Tetaplah duduk nak"
"Kamu terlihat sangat cantik nak"
Lia tersenyum dan tersipu malu di puji oleh mertuanya sendiri.
"Papa kesini mau kasih sesuatu buat kamu"
"Sesuatu? Apa pa?" Tanya Lia dengan penasaran
Pak Arman lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah kotak kecil berwarna merah.
Pak Arman lalu membukanya dan memperlihatkan isinya pada Lia.
Lia tercengang dengan isinya lalu menatap pak Arman dengan tidak percaya.
"Papa, i.. ini..."
Pak Arman tersenyum dan mengangguk lalu memakaikannya di lengan kanan Lia.
Gelang emas putih 24 karat dengan berhias berlian di atasnya yang pak Arman pesan secara khusus dari temannya yang berbisnis berlian.
Elda dan Vira yang ada di sana juga terkejut karena isi dari kotak itu adalah gelang emas.
"Sudah sejak lama papa menyiapkan ini untuk calon istri Lucas. Setelah cukup lama menunggu kini gelang ini sudah bisa papa lingkarkan di tangan menantu papa"
Lia hampir saja menangis karena terharu dengan kasih sayang yang di berikan oleh papa mertuanya.
"Tidak, tidak nak. Jangan keluarkan setetes air mata pun di malam ini. Ini hari bahagia mu, tetaplah tersenyum..."
__ADS_1
Pak Arman menggelengkan kepalanya meminta Lia untuk tersenyum, bukan menangis.
Lia menahan tangisnya lalu tersenyum pada pak Arman.
"Kamu siapkan diri kamu dengan baik, tamu undangan sudah mulai berkumpul. Dan sebentar lagi kamu akan turun. Papa keluar dulu ya..."
Pak Arman mengusap lengan Lia dengan senyumannya yang tulus lalu melangkah keluar.
Elda langsung mendekat karena ingin melihat dengan jelas gelang di tangan Lia.
"Wah... Benar-benar cantik. Kalo soal emas dan berlian om Arman emamg ga bisa di ragukan lagi" ujar Elda
"Benar benar bagus bu, sangat cocok dengan gaun ibu saat ini" sambung Vira
Lia tersenyum sambil terus memandangi gelang barunya.
Tiba-tiba seseorang datang dan membuka pintu.
Lia, eldaydan Vira kompak menoleh bersamaan ke arah pintu.
Ujung bibir Lia langsung tertarik dan menyimpulkan senyum nya yang manis.
Elda dan Vira lalu berdiri dan pergi keluar.
Dia adalah Lucas.
Sejak sore tadi Lucas tidak bisa bertemu dengan Lia karena Lia yang harus di rias, dan sekarang baru lah Lucas bisa menatap wajah istrinya.
Langkah kakinya mendekat pada Lia.
Lia pun berdiri saat Lucas sudah ada di depannya.
Lucas tak bisa mengedipkan matanya karena wajah istrinya saat ini terlihat seperti bidadari.
"Mas..." Panggil Lia
"Kamu terlihat seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kamu benar-benar cantik"
Puji Lucas
"Makasih mas..."
Lucas meraih tangan Lia lalu menciumnya.
Sepasang matanya fokus pada gelang yang di tangan Lia "Apa ini dari papa?"
Lia mengangguk "Iya mas, bahkan papa sendiri yang memakainya pada ku"
Lucas mengelus gelang itu dengan bibirnya yang tersenyum.
"Sudah lama papa menyiapkan gelang ini untuk calon menantu nya. Dan sekarang papa pasti sangat senang karena impiannya memakai kan gelang ini pada menantunya sudah terwujud"
"Aku benar benar bersyukur memiliki papa mertua sebaik papa. Dia menyayangi ku sebagai mana putri kandungnya sendiri"
Lucas tersenyum karena memang benar papa nya sangat menyayangi Lia dan selalu memperingatkan dirinya agar tidak membuat Lia kecewa atau pun terluka.
Lucas lalu kembali mencium punggung tangan Lia dengan mesra.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1