
Viona tertunduk dan meraba pipinya yang terasa kebas dan panas dan matanya langsung berkaca-kaca.
Setelah menampar putrinya itu, mama Viona merasa bersalah dan duduk berjongkok di bawah kursi Viona.
"Sayang... Ma..maaf sayang, mama... Mama ga sengaja, sayang maafin mama..."
Viona hanya diam tidak menjawabnya, pipinya kini basah karena air matanya yang mengalir.
Karena sadar mereka menjadi pusat perhatian pengunjung cafe, mama Viona menarik tangan Viona mengajaknya masuk ke mobil.
Mama Viona reflek menampar Viona karena ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Lucas lakukan padanya.
Apa lagi pak Surya, dia pasti akan sangat marah besar dan bisa lebih dulu menghukum Viona sebelum Lucas.
Di dalam mobil mamanya terus menerus minta maaf pada Viona.
"Mama ga salah, ini semua mama lakukan karena Vio melakukan kesalahan. Vio minta maaf ma..."
"Ngak sayang, mama minta maaf..."
Viona menangis di pelukan mama nya, setelah itu ia di ajak untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di sana, Viona pergi ke kamarnya.
Mamanya mengambil kan air es untuk mengompres pipi Viona.
Setelah mama Viona benar-benar lupa akan kemarahannya, ia duduk di samping Viona dan kembali membahas kehamilan Viona dengan kepala dingin.
"Sekarang kamu cerita sama mama, semuanya. Jangan ada satu hal pun yang kamu tutupi dari mama"
Viona mengangguk setuju.
Ia kemudian menceritakan semuanya pada mama nya.
Mulai dari ia yang masih menjalin hubungan dengan Agil, hingga ia sampai hamil saat ini.
Viona juga menceritakan tentang jebakan nya pada Lucas.
Tentang ia yang memberikan obat tidur pada minuman Lucas hingga ia bisa tidu malam bersamanya.
Karena dengan menjebak Lucas seperti itu, Viona bisa membuat pengakuan palsu bahwa ia hamil anak dari Lucas
"Itu sangat beresiko sayang, bagaimana jika nanti Lucas menyelidikinya?"
"Aku ga punya pilihan lain ma" jawab Viona lirih
"Kenapa tidak kamu gugurkan saja, tak ada yang tau dan pernikahan mu dengan Lucas bisa tetap aman"
"Bagaimana mungkin ma, Agil tidak membiarkan aku untuk menggugurkan ini"
"Agil Agil Agil terus. Selalu saja Agil. Kenapa kamu begitu menurutinya, hah? Apa istimewanya dia. Dia pemuda yang miskin, pengangguran, masa depannya tidak jelas Vio. Apa yang kamu harapkan dari dia?"
"Vio cinta sama Agil ma"
"Apa? Cinta? Emangnya cinta busa bikin kamu kenyang? Apa cinta mu juga bisa bikin masa depan kamu terjamin? Tidak Viona, tidak"
"Terserah apa kata mama. Yang jelas Viona tidak mau menggugurkan kandungan ini. Apapun caranya akan Vio lakukan demi mempertahan kan kandungan Vio. Soal Lucas, mama ga usah khawatir, Vio akan mengurus sendiri. Vio akan mencari cara agar pernikahan dan kendungan Vio tetap aman"
"Terserah, terserah kamu. Yang jelas jika papa kau tau soal kehamilan mu, dia tidak akan tinggal diam. Sebelum Lucas memberi mu hukuman, papa mu akan menghukum mu lebih dulu"
__ADS_1
Mama Viona keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan kuat hingga membuat Viona terkejut.
Kini Viona harus berjuang sendirian, bahkan mama nya pun tidak mendukung keputusan nya.
Hanya Agil harapannya untuk bisa membantu mencari kan solusi untuk nya.
*****
Hari ini Lucas bersiap untuk terbang ke Singapura.
Melalui hp Lia, dia menelfon Romi.
Lucas meminta Romi mengambil hp dan paspor nya di rumah, sedangkan Lucas menunggu di bandara bersama Lia.
Di ruang tunggu Lucas dan Lia duduk sambil menunggu kedatangan Romi.
"Semoga kamu selamat sampai tujuan, hingga kembali lagi ke sini" kata Lia
"Aamiin sayang. Habis dari sini kamu pulangnya di antar sama Romi ya"
"Ga usah mas, aku pulang sendiri aja. Aku juga masih mau mampir ke makam bunda"
"Ngak sayang, kamu pulangnya sama Romi aja. Aku akan jauh dari mu beberapa hari ini, jadi biar Romi yang menjagamu"
Lia tersenyum dan mencubit hidung mancung Lucas
"Mas, aku bukan anak kecil yang ketika orang tuanya jauh harus di jaga oleh orang lain. Aku mau pulang sendiri aja ya..."
"Terserah kamu aja, aku tidak bisa memaksa" ujar Lucas lalu mendekap Lia
Tak lama Romi pun datang, ia lalu memberikan paspor dan hp nya pada Lucas.
"Baiklah" Lucas mengambil berkas itu dan segera menandatangani nya
"Terima kasih telah berusaha untuk menjaga kantor selam saya tidak ada. Bulan depan akan aku berikan bonus untuk mu"
"Terima kasih tuan" ucap Romi dengan senyuman
Lucas memeluk Lia dan menciumnya sebagai tanda pamit.
"Aku pergi dulu ya, jaga diri baik baik. Dan jangan nakal"
"Iya sayang, kamu hati-hati ya"
Kini mereka berdua akan LDR beberapa hari untuk pertama kalinya setelah menikah.
Terasa berat tapi ini harus, Lia berharap kepulangan Lucas ke Indonesia nanti akan membawa kabar baik.
Setelah pesawat yang Lucas naiki terbang mengudara, barulah Lia pulang.
Romi menawarkan diri untuk mengantar nya pulang, namun Lia menolak.
"Tidak perlu Romi, kamu segera lah pulang. Tugas kamu pasti banyak karena tuan mu tidak ada. Aku bisa pulang sendiri"
"Baiklah, kalau begitu saya pamit"
Romi masuk ke mobilnya, tapi ia tidak langsung pergi. Ia hanya berpura-pura pergi, mobilnya berjalan tepat di belakang mobil Lia.
Mengantar Lia ke rumah memastikan Lia sampai dengan selamat.
__ADS_1
Barulah setelah memastikan istri tuannya sampai di rumah Romi langsung tancap gas dan langsung pulang.
Lia tidak jadi pergi ke makam bunda karena matahari sangat terik.
Ia akan pergi ke makam nanti sore saja sekalian jalan menikmati udara sore.
Sesampainya Lucas di Singapura, ia langsung menuju rumah sakit.
Di sana paman dan bibi nya sedang duduk di depan kamar pak Arman.
"Paman... Bibi..." Panggil Lucas
"Lucas, akhirnya kamu datang juga?" Kata Dika
"Kenapa paman dan bibi duduk di luar, papa?"
"Papa mu ada di dalam, dia baru saja tertidur setelah semalaman terjaga. Jadi paman dan bibi memilih duduk santai di sini agar tidak menggangu tidur papa mu"
Dengan pelan Lucas membuka pintunya dan melangkah masuk.
Lucas meletakkan tas nya di atas sofa dan dirinya duduk di samping papanya.
Lucas menatap lekat wajah pak Arman yang terlelap tidur, wajahnya yang pucat dan kantong matanya yang mulai kendor.
Dengan pelan Lucas memegang tangan papa nya, menciumnya dengan lembut.
Sentuhannya itu membuat pak Arman terbangun dan membuka matanya.
"Lucas..." Panggil pak Arman
"Papa, maaf karena Lucas membangunkan papa"
Pak Arman menggelengkan kepalanya dan tersenyum
"Papa senang kamu di sini"
"Maafkan Lucas pa, karena Lucas sudah meninggal kan papa beberapa hari ini"
"Tak apa, papa mengerti kenapa kamu melakukan ini. Dengan siapa kamu ke sini nak?"
"Sendiri pa"
"Kenapa tidak pernah kamu ajak istri mu"
"Dia nginap di rumah orang tuanya"
Lucas terpaksa berbohong demi papa nya tidak berpikiran aneh.
"Oh begitu"
"Papa kenapa mau kabur dari sini, ada apa pa?" Tanya Lucas dengan lembut
"Papa cuma mau pulang nak, papa sudah tidak tahan ada di sini"
"Tapi papa masih sangat perlu untuk di rawat"
"Untuk apa? Tidak ada obat atau cara apapun yang bisa menyembuhkan kanker. Papa lelah nak, papa ingin pulang dan menghirup udara sehat bukan udara yang di penuhi dengan bau obat seperti di tempat ini"
Lucas terdiam dan menatap mata papa nya, terlihat jelas di sana bagaimana lelahnya pak Arman dengan kondisi kesehatan nya.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️