
Segala macam rayuan dari Lucas untuk membujuk istrinya agar berhenti marah tidak berhasil.
"Oh Tuhan... Ada apa soh dengan istri ku sekarang. O, apa mungkin saat ini dia sedang mens?" Gumam Lucas
Lucas turun dari kasurnya dan duduk berlutut di bawah Lia, dengan memegang tangannya Lucas kembali meminta maaf dengan tulus.
"Sayang, aku minta maaf ya kalo ada salah sama kamu. Sekarang kamu bilang kamu mau apa, aku pasti turuti"
Lia yang sedari tadi hanya fokus menatap ke jendela, kini bola matanya mulai melirik Lucas.
"Benarkah?" Tanya nya
Dengan cepat Lucas mengangguk iya "Katakan sayang, kamu mau apa?"
"Aku mau kamu berkeringat" kata Lia yang membuat Lucas heran dan mengangkat alisnya
"Berkeringat, kenapa? Aku baru aja habis mandi"
"Siapa suruh kamu mandi, hah? Aku kan tadi udah bilang kamu harus tetap ada di samping aku!"
Ini benar-benar keluar dari kebiasaan Lia.
Biasanya setiap kali Lucas pulang dari kantor Lucas selalu memeluk Lia dengan erat.
Namun Lia selalu menyuruh nya untuk mandi dulu dengan alasan karena bau keringat dan matahari. Tapi kini....
"Sayang... Kamu sebenernya kenapa sih?" Tanya Lucas dengan lembut
"Kamu nanya terus deh mas. Aku itu mau nyium bau keringat kamu, kenapa kamu mandi? Pokoknya aku ga mau tau, kamu harus berkeringat. Kalo ngak, jangan deket deket aku!"
Lia beranjak dari kasur dan pergi keluar dari kamarnya.
Lucas menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan otaknya terus berpikir kenapa?
__ADS_1
"Ya kali aku di suruh berkeringat sepanjang hari. Ga bisa, aku harus bawa Lia ke rumah sakit. Ini pasti ada yang ga beres nih, pasti tadi kepalanya terbentur ke lantai sampe buat dia aneh gini"
Gerutu Lucas
Saat sedang makan malam pun Lia tampak aneh.
Meski ia tetap menyajikan makanan di atas piring suaminya namun wajah nya tetap saja di tekuk.
Bahkan Lia yang biasanya duduk di samping Lucas berpindah dan duduk di kursi yang lainnya.
Pak Arman kini pun juga menyadari ada yang aneh dengan menantunya itu.
Tapi pak Arman tidak mau ikut campur dengan banyak bertanya, karena beliau tau bahwasannya dalam rumah tangga itu tidak mungkin terbebas dari yang namanya perselisihan.
Pak Arman hanya diam menyantap makanannya sambil memerhatikan mimik wajah dari putra nya itu.
Wajah Lucas yang terlihat sangat bingung, ia hanya mengaduk aduk makanannya di atas piring.
Lucas menggeleng dengan bibirnya yang di majukan, seakan Lucas sedang berbicara dan mengatakan kepusingan di kepalanya saat ini.
Lia yang hanya makan sedikit selesai lebih dulu.
Setelah meminum air di gelasnya, Lia langsung berdiri dan pergi ke kamarnya.
"Lia ke kamar duluan ya pa" Lia berpamitan pada papa mertuanya, namun tidak dengan suaminya
Pak Arman mengangguk dengan tersenyum "Iya nak..." Sautnya
"Loh sayang, kamu kok makannya dikit?" Tanya Lucas
Bukannya menjawab, Lia terus melangkahkan kakinya dan pergi ke kamarnya.
Lia menaiki anak tangga dengan cepat dan sedikit berlari agar bisa cepat sampai di kamarnya.
__ADS_1
"Kamu apakan istri mu, hm...?" Tanya pak Arman
"Aku juga ga tau pa, dia tiba-tiba marah ga jelas"
Jawab Lucas dengan suara pelan
"Istri mu yang ga jelas apa kamu nya yang ga peka sama dia?"
"Ya ampun papa... Tadi itu Lia ga papa, dia manja seperti biasanya. Tapi saat aku habis mandi, pas aku keluar dari kamar mandi dia udah gini" jelas Lucas sambil menirukan gaya Lia tadi di kamarnya
"Masak iya cuma gara-gara kamu tinggal dia mandi terus jadi marah gini. Kamu pasti udah buat kesalahan sehingga dia marah gini" tuduh pak Arman
"Papa, aku tau papa itu sayang sama Lia. Tapi tolonglah pa, percaya sama aku. Aku ga tau kenapa"
"Sudah kamu tanyakan dengan baik-baik sama dia?"
Lucas mengangguk dan kembali menyantap makanannya
"Terus apa katanya?"
Setelah menelan makanan di dalam mulutnya Lucas baru menjawab
"Sumpah aku ga ngerti pa. Dia marah karena aku habis mandi. Katanya aku ga boleh deket-deket sama dia kalo aku ga keringetan"
Kini pak Arman pun juga mulai bingung ada apa dengan menantunya.
Pak Arman hanya memberikan saran pada putra nya untuk sabar dan tetap berusaha membujuknya.
Bagaimana pun kemarahan seorang wanita itu hanya akan luluh dengan kelembutan.
Lucas hanya mengangguk iya, meski sebenarnya otak di dalam kepala nya sedang sibuk berpikir.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1