Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 71


__ADS_3

Tidak mungkin ia bisa bekerja dengan dalam keadaan hamil begini.


Kini usia kandungan Viona sudah memasuki usia 4 bulan.


Perutnya memang masih terlihat rata, namun saat di pegang oleh tangannya ada yang keras di dalamnya.


Viona melempar hp nya ke kasur dan mulai merenung dengan meletakkan wajahnya di tengah tengah tekukan lututnya.


Saat Viona tenggelam dalam pikiran nya sendiri hp nya tiba-tiba berdering.


Viona mengangkat wajahnya dan melirik ke layar hp nya.


Di sana terlihat dari kontak namanya Della.


Viona memutar bola matanya lalu menjawab telfonnya.


"Halo Del, ada apa?" Tanya Viona saat


"Hai Vi, lo di mana sekarang?" Tanya Della dari seberang telfonnya


"Gue ada di rumah, kenapa?" Jawab Viona datar


"Ada yang mau gue omongin sama lo, penting"


"Ya udah ngomong aja"


"Tapi ini ga bisa di omongin dadi hp, gue mau kita ketemuan. Bisa kan lo?"


Viona melirik ka arah jam di dinding nya lalu menatap ke luar jendela


"Bisa. Mau ketemuan di mana?"


"Entar gue kirim alamat nya sama lo, cepetan dateng ya"


Viona mengangguk sambil mengusap rambutnya.


"Iya oke, gue akan segera berangkat"


Della lalu menutup telfonnya dan segera mengirim lokasi nya pada Viona.


Setelah Viona mendapat pesan alamat dari Della segera ia mengambil tasnya dan langsung berangkat.


Della adalah teman yang Viona kenal di club, mereka bisa di bilang akrab namun Viona tidak terlalu terbuka padanya.


Viona sangat pemilih untuk mencari teman untuk bisa ia ajak sharing tentang semua masalahnya, termasuk dengan Agil sekalipun.


Kini Viona sudah sampai di tempat yang ia tuju sesuai dengan alamat yang Della kirimkan padanya.


Di sana Viona menunggu beberapa saat sebelum Della datang.


Entah apa yang akan Della bicarakan, namun tampaknya wajah Della sangat serius.


*****


Lucas dan Lia kini sudah sampai di rumah.


Di ruang tamu pak Arman dan pamannya sedang duduk bersama sambil menikmati segelas teh hangat dan camilan di atas piring.


"Hai pa, paman..." Sapa Lia


"Hai juga nak, baru pulang ?" Tanya pak Arman

__ADS_1


Lucas dan Lia mendekat lalu menyalami tangan pak Arman dan pamannya.


"Kita habis dari kantor" jawab Lucas


"Lia ikut kerja juga?" Sela Dika


Segera Lia menggeleng kan kepalanya


"Tidak paman, aku sebenarnya tadi siang anterin makanan ke kantor mas Lucas. Sekalian nungguin dia beresin kerjaan dan pulang bareng"


Dika mengangguk mengerti.


"Papa, paman. Lia ke kamar dulu ya..."


"Iya nak, pergilah" jawab pak Arman


Lia menaiki tangga sedangkan Lucas ikut duduk bersama di sana.


Lucas membuka jas nya dan ikut mengobrol, tak ada lagi yang para lelaki itu bahas kecuali tentang pekerjaan.


Bi Narsih datang dengan membawakan segelas teh hangat untuk Lucas.


Saat itu juga Dika juga sekalian memberi tahu sama kakak nya dan juga Lucas kalau dirinya dan istrinya besok akan pulang ke Bali.


"Kok mendadak, kenapa?" Tanya pak Arman


Sambil menyeruput teh nya Dika menjawab


"Sebenarnya bukan mendadak sih kak, udah sejak beberapa hari yang lalu aku dan mama nya Elda membicarakan ini"


Pak Arman mengangguk.


Sudah berbulan-bulan Dika meninggalkan rumahnya demi menjaganya di rumah sakit di Singapura hingga ia pulang saat ini.


"Kalo paman dan bibi pulang besok, terus Elda gimana?" Tanya Lucas


"Elda kan saat ini masih ada pekerjaan sampe beberapa hari ke depan, dan katanya dia mau langsung pulang ke Bali" jawab Dika


"Elda ga mau kesini dulu? Dia mau langsung ke Bali?"


"Katanya sih guru, soalnya sebentar lagi dia juga akan ada acara di Bali. Jadi sekalian langsung pulang katanya"


"Ya sudah ga papa, begitu lebih baik. Selain menghemat waktu itu juga menghemat biaya" saut pak Arman


"Ya baiklah, jam berapa paman dan bibi akan berangkat besok?"


"Sekitar jam 1 siang mungkin"


"Apa kamu sudah memesan tiket pesawat nya? Kalau belum biar Lucas yang pesankan" sambung pak Arman.


"Belum kak, aku memang belum membeli tiketnya karena masih belum memberi tahu kalian"


"Ya sudah paman, biar aku aja yang pesankan tiketnya nanti"


"Ya baiklah"


Kaetika malam tiba bi Narsih sibuk di dapur untuk memasak makan malam.


Lia turun lebih dulu dari Lucas dan segera pergi ke dapur untuk membantu bi Narsih.


Pak Arman lalu pergi ke kamar Lucas, mengetuk pintunya namun tak ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


"Kakak ngapain?" Tanya mama Elda yang kebetulan lewat di depan kamar Lucas


"Aku lagi nyari Lucas, tapi sepertinya ga ada di dalam kamarnya. Kamu tau Lucas di mana?"


"Ya iyalah kak, orang Lucas nya ada di ruang kerjanya"


Mama Elda tau karena kamarnya berada tepat fi samping ruang kerja Lucas


"Oo gitu, ya udah aku mau ke sana"


Pak Arman pergi ke ruang kerja Lucas untuk menemuinya.


Sedangkan mama Elda turun ke lantai bawah untuk bersantai di sana.


Pintu ruang kerjanya sedikit terbuka, pak Arman mengetuk pintunya namun Lucas tidak mendengar nya. Karena Lucas sedang sibuk dengan pekerjaanya dan khusuk menatap layar laptopnya.


Pak Arman langsung saja masuk dan berdiri di belakang kursi Lucas.


Melihat apa yang sedang putranya kerjakan.


Beliau lalu menepuk pundak Lucas dan membuat Lucas terkejut dan langsung menoleh ke belakang.


"Papa. Papa ngagetin aja" seru Lucas


Pak Arman tertawa memperlihatkan giginya yang rapi "Sibuk banget ya sampe papa ketuk ketuk pintu ga kedengaran?"


"Emang papa ketuk pintu tadi?" Tanya Lucas dengan mengangkat alisnya


"Bukan hanya mengetuk, tapi mengetuk-ngetuk-ngetuk berkali-kali tuan Lucas"


Lucas tertawa karena jawaban papa nya.


"Papa mau ngapain ke sini, kan bisa nyuruh aku ke kamar papa"


Pak Arman lalu duduk di sofa dengan menyilangkan satu kakinya


"Emangnya kenapa kalo papa kesini? Kamu seneng kalo papa di kamar terus?"


Lucas beranjak dari kursinya dan duduk di sofa di samping papa nya.


"Bukan gitu pa, ya aku takut aja papa kecapekan" jawabnya


"Emang papa terlihat setua itu ya, sampe berjalan dari kamar ke ruangan mu saja kamu sampe se khawatir itu?"


"Hahaha... Papa ga tua kok. Akunya aja yang terlalu khawatir. Papa kan orangnya kuat banget" puji Lucas yang membuat pak Arman tertawa.


"Kamu ga salah sih khawatir sama papa, papa emang juga udah tua kok. Tapi sayang, udah tua gini belum punya cucu" ujarnya


Lucas langsung menoleh menatap wajah pak Arman "Maksud papa?"


"Masak kamu ga ngerti, papa itu udah sangat kepingin menimang cucu. Kapan kamu mau memberikan papa mu ini cucu, calon penerus keluarga Danuarta. Hm...??"


Pertanyaan dari papa nya itu membuat Lucas sedikit kebingungan untuk menjawabnya.


Tapi Lucas menutupi nya dengan sedikit tertawa


"Hehehe.. papa. Tenang, aku pasti secepatnya akan memberikan papa cucu. Aku sama Lia sih udah sering bikinnya, ya tinggal tunggu yang di atas aja kapan mau memberikan hasilnya"


Pak Arman memukul lengan Lucas sambil tertawa karena jawabannya.


"Kamu ini, dasar"

__ADS_1


Saat seorang papa dan anak semata wayang nya itu sedang asyik bercanda, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2