
Lucas semakin menekan pinggang Lia hingga begitu membuat tubuh mereka begitu rapat.
Setelah itu Lucas semakin mendekatkan wajahnya dan hendak mencium Lia.
Baru saja bibir mereka saling bersentuhan, suara ketukan dari pintu membuat mereka terkejut.
Toktoktok....
"Permisi den, non. Sarapan nya di bawah sudah siap. Bapak dan yang lainnya sudah menunggu" terdengar suara bi Narsih dari balik pintu
"Iya bi, kita bentar lagi turun kok" jawab Lia
"Baik non" bi Narsih pun pergi dan kembali ke bawah.
Lia memegang kedua pipi Lucas sambil memainkan jempolnya di sana.
"Ayo cepetan paket bajunya mas, papa sama yang lainnya udah nungguin di bawah" ucap nya
"Tapi aku masih mau lanjutin yang barusan"
Lucas kembali mendekat kan wajahnya namun Lia dengan cepat menghalangi bibir Lucas dengan tangannya.
"No no no. Jangan sekarang. Aku udah lapar loh mas, ayo ah cepetan"
Lia melepas tangan Lucas dan pergi mengambilkan baju untuk Lucas dari lemarinya.
Dengaj hanya menggunakan handuk Lucas duduk di sofa dengan menyilangkan satu kakinya.
"Kok malah duduk di situ, ayo pake bajunya mas"
"Pakein" pinta Lucas dengan manja dan kedipan mautnya
Lia tersenyum geli karena tingkah suaminya itu, tapi meski begitu Lia tetap mau melakukannya.
Lia mendekati Lucas ke sofa dengan membawa baju untuk nya.
Satu persatu Lia memakaikan nya pada Lucas, tapi saat giliran memakai ****** ***** nya Lia tidak mau melakukan nya.
"Ini, pake sendiri" ucap Lia sambil memberikan ****** ******** pada Lucas
"Ga mau. Aku maunya di pakein semuanya sama Istri ku"
"Ih mas, kamu kenapa sih jadi manja gini. Ga mau ah..." Lia meletakkan ****** ******** di samping Lucas
"Kenapa ga mau, perintah dari suami itu wajib di kerjakan loh"
"Ih mas. Aku malu tau, ga ah kamu pake sendiri aja" Lia berpaling dan hendak pergi namun Lucas menarik tangannya hingga membuat Lia terjatuh di atas pangkuannya.
"Au... Mas. Kamu mau ngapain?"
"Aku cuma mau peluk kok, emang ga boleh?" Tanya Lucas sambil mengangkat alisnya
"Bukannya ga boleh, tapi semakin lama kamu siap-siap semakin lama papa menunggu kita di bawah. Kamu tuh ya lelet banget, lepasin mas..."
__ADS_1
Dekapan Lucas yang kuat tak mampu Lia lepas.
"Oke, aku bakal lepasin tapi dengan 1 syarat" ujar Lucas
"Apa?" Tanya Lia penasaran.
Lucas meletakkan jari telunjuk nya di pipi nya isyarat untuk Lia mencium nya.
Dengan senyum nya yang manis, tanpa pikir panjang Lia langsung mencium kedua pipi Lucas dengan mesra.
"Sudah? Sekarang lepasin ya" pinta Lia
Dengan senang hati Lucas melepas pelukannya dan membiarkan Lia pergi.
Karena takut Lucas akan kembali mendekapnya, Lia memilih untuk turun lebih dulu dan menunggu Lucas di meja makan.
Lia menuruni anak tangga dengan senyum-senyum sendiri.
"Selamat pagi pa... Selamat pagi paman, bibi..."
Sapa Lia begitu ia sampai di meja makan.
"Selamat pagi, dimana Lucas? Kenapa kamu turun sendiri?" Tanya pak Arman
Lia menarik kursinya dan langsung duduk di sana.
"Mas Lucas lagi pake baju pa, baru selesai mandi" jawabnya
Beberapa saat kemudian Lucas pun turun dan langsung bergabung.
Kemudian juga membantu mengambilkan makanan untuk piring papa mertuanya.
Kini semuanya sarapan bersama.
"Elda kemana bi, kok ga sarapan bareng?" Tanya Lucas karena Elda tidak ada di samping bibi nya
"Elda udah berangkat tadi, katanya ada projek mendadak" jawab mema Elda sambik menyantap makanannya
"Oh ya pa, papa hari ini jadi mau ke makam pak Surya?"
"Iya, jadi. Emangnya kenapa, kamu ga bisa anterin papa? Kalo ga bisa ga papa, papa sama supir aja"
"Iya pa, maaf. Hari ini ada meeting mendadak di kantor, Romi barusan telfon"
"Ya udah ga papa, papa sama supir aja nanti"
"Biar aku temenin kakak" saut Dika
"Kamu mau nemenin aku ke sana?" Tanya pak Arman memastikan
"Iya, lagian aku bosen kalo di rumah terus"
"Ya udah ga papa"
__ADS_1
Setelah semuanya selesai sarapan Lucas segera bersiap dan hendak pergi ke kantor.
Lia membantu Lucas dengan menyiapkan tasnya.
"Nanti kamu pulang nya jam berapa mas?" Tanya Lia sambil membantu Lucas memakai jas nya
"Ga tau, paling sekitar jam 2 siang. Ada apa sayang?"
"Ya ga papa, aku cuma mau tau aja"
"Cuma nanya?"
Lia mengangguk dan membernarkan dasinya.
"Nanti siang aku mau ke kantor ya, aku mau bawain kamu makanan. Boleh?"
"Boleh dong sayang, nanti biar aku suruh Romi buat jemput kamu"
"Eh jangan, ga usah mas. Aku berangkat sendiri aja"
"Ya udah terserah kamu. Aku berangkat dulu ya" ucap Lucas lalu memeluk dan mencium kening Lia dengan mesra.
Lia mengantar Lucas hingga ke teras depan dan terus memerhatikan mobil yang Lucas naiki sudah pergi hingga tak lagi terlihat oleh kedua matanya.
Baru saja Lia akan masuk pak Arman dan Dika keluar.
"Papa sama paman mau berangkat sekarang?" Tanya Lia
"Iya nak, biar ga terlalu siang soalnya beberapa hari belakangan ini cuaca sangat panas" jawab pak Arman
"Oh ya, papa sama paman udah tau di mana lokasi makam pak Surya?"
"Sudah, ini Lucas sudah kirim lokasinya ke hp papa"
"Ya udah, papa sama paman hati hati ya"
Pak Arman dan Dika pun masuk ke mobil dan langsung berangkat.
Lia kembali masuk ke rumah dan bersantai, karena dirinya memang tidak ada kegiatan sama sekali.
*****
Di rumah Viona
Sejak kematian pak Surya, mama Viona seperti orang yang linglung.
Di tambah lagi ia harus berhenti dengan kehidupan glamornya.
Shopping, nyalon, makanan mahal dan yang lainnya sudah tak lagi bisa ia lakukan.
Bahkan urusan untuk makan setiap harinya saja satu persatu mama Viona harus menjual perhiasan untuk bertahan hidup.
Agil yang juga tinggal di sana semakin hari Agil semakin menyadari bahwa keluarga Viona yang ia incar hartanya kini sudah tak ada lagi yang tersisa.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️