Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 62


__ADS_3

Sambil terus mengunyah, Elda memberi saran pada Lucas.


"Udah kakak ga usah pusing. Kakak ambilkan Lia air hangat, terus bantu kompres perutnya. Terus jangan lupa, kasih Lia makanan ato snak kesukaan nya. Pasti mood nya akan balik lagi"


Lucas segera pergi ke dapur dan meminta bi Narsih untuk membuat kan air hangat untuk Lia.


Sedangkan Lucas pergi ke garasi untuk mengambil sesuatu dari mobilnya.


"Dasar kakak. Dari dulu ga pernah liat kakak begini sama perempuan" celetuk Elda


Mama Elda mengambil kacang dari tangan Elda dab langsung memakannya


"Gimana mau lihat, orang Lucas nya aja ga pernah pacaran sampe di nikah" saut nya


"Emang gitu ya ma, orang kalo udah jatuh cinta"


Sambil terus menikmati kacangnya, Elda dan mamanya asyik menonton film di TV.


Sementara Dika, ia sudah merasa ngantuk dan peegi lebih dulu ke kamarnya.


"Mama masih mau di sini? Papa ke kamar duluan ya, udah ngantuk"


"Ya udah papa istirahat duluan. Mama masih mau nonton di sini sama Elda"


Tak lama Lucas masuk ke dalam rumah dengan membawa banyak kantong belanjaan di tangannya.


"Bi Narsih... Bi..." Panggil Lucas


Bi Narsih segera keluar dari dapur dan menghampiri asal suara yang memanggil nya


"Iya, ada apa den?"


"Mana air hangat yang aku minta barusan, udah siap?"


"Sudah den, bentar ya bibi ambilkan"


"Ambil lalu bawa ke kamar ya bi"


"Siap den" jawab bi Narsih


Lucas kemudian kembali ke kamar nya dengan membawa macam-macam belanjaan Lia tadi.


Lucas meletakkan kantong belanjaan nya di atas meja, lalu membukanya.


Ia mengambil beberapa makanan lalu ia berikan pada Lia.


Toktoktok... "Misi den, ini air hangat nya" panggil bi Narsih dari luar pintu


Lucas segera membuka nya dan mengambil kompresannya.


Lucas membuka selimut Lia, lalu menempelkannya kantong air hangat di atas perut Lia.


Lia yang sudah tertidur kini terbangun karena merasakan kehangatan di atas perutnya.


"Ngantuk ya, sudah ga papa kamu tetap tidur. Aku akan mengompres perut mu hingga kram nya hilang" ujar Lucas sambil megusap kepala Lia.


Wajah Lia yang sedari tadi kesal kini ia tersenyum sambil memegang tangan kucas yang ada di perut nya.


"Makasih ya mas..."


"Sama sama sayang. Tidur lah..."


Lia kembali memejamkan matanya dan melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


Lucas merasa sangat lega, ternyata saran dari Elda benar benar membantunya.


Sambil terus memandangi wajah istrinya itu, Lucas mengerti kenapa dia memborong banyak makanan dan minuman di super market tadi.


Rupanya Lia sudah berjaga-jaga takut mood nya yang tiba-tiba berubah kesal.


Lucas meletakkan beberapa makanan dan minumannya di atas nakas di samping tempat tidur.


Agar jika Lia terbangun nanti dan ingin makan sesuatu ia tidak perlu beranjak dari kasur.


Setelah itu Lucas pun berbaring di samping Lia dengan tangannya yang masih memegangi kompresan di atas perut Lia.


*****


Keesokan harinya Lia bangun lebih dulu dari pada Lucas.


Kantong kompresan nya yang semalam terjatuh ke lantai.


Lia bernajak dari kasur dan hendak pergi ke kamar mandi.


Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat seprai putih di kasur nya yang sudah berlumuran darah.


Begitupun dengan baju tidur yang ia gunakan, bagian dari pinggang ke bawah sudah berwarna merah semua.


Lia segera membangunkan Lucas karena ia ingin melepas seprainya.


"Mas, bangun mas... Mas..."


Lia menepuk pipi Lucas sambil terus memanggilnya.


Bukannya bangun, Lucas malah berguling ke arah seprei yang sudah banyak darahnya.


Segera Lia menarik tubuh Lucas untuk berbalik.


Sontak Lucas langsung membuka matanya lebar-lebar dan langsung duduk.


Ia semakin terkejut melihat baju tidur Lia yang penuh darah.


"Sayang, ada apa sama kamu. Kenapa kamu jadi berdarah gini, apa yang terluka?" Tanya Lucas dengan panik


"Aku ga papa, aku ga terluka kok mas. Ayo minggir dulu seprei mau aku lepas"


Lucas semakin terkejut ketika melihat seprei nya juga berlumuran darah.


Ia semakin yakin kalau Lia ada yang terluka hingga mengalami pendarahan seperti ini.


Lucas memegang kedua bahu Lia, menyuruh nya duduk dan kembali bertanya dengan wajah yang serius.


"Apa yang terluka sayang, kenapa kamu bisa pendarahan begini? Duduk lah, kamu duduk di sini aku mau telfon dokter sekarang"


Lucas lalu mengambil hp nya dan hendak menelfon dokter pribadinya.


Lia bangun dan mengambil hp dari tangan Lucas.


"Kamu mau ngapain sih mas, aku ga papa kok"


"Ga papa gimana. Lihat baju kamu, lihat juga itu seprei nya. Banyak darah di mana-mana dan kamu masih bisa bilang ga papa?"


Lia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Ia memaklumi kepolosan Lucas tentang perihal darah haid, karena sejak kecil ia hanya hidup berdua dengan papa nya.


Mungkin Lucas tau tentang apa itu datang bulan, tapi untuk pengalaman secara langsung baru kali ini ia rasakan.

__ADS_1


Lucas duduk di sofa dengan lututnya yang mulai terasa lemas karena khawatir pada Lia.


Sedangkan Lia mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.


Lucas menunggu Lia tepat di depan kamar mandi sambil terus megetuk pintunya dan memaksa ingin masuk.


"Sayang, buka pintunya. Biarkan aku masuk, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik aja"


"Aku ga papa mas, ini darah biasa" jawab Lia dari dalam kamar mandi


"Darah biasa? Sebanyak ini kamu bilang biasa. Bagaimana nanti jika kamu kekurangan banyak darah dan harus di tranfusi darah, ayo cepetan sayang kita harus ke rumah sakit sekarang"


Lia tidak menggubris dan tetap mandi membersih kan dirinya.


Setelah beberapa saat Lia pun keluar dengan memakai selembar handuk yang di lilitkan di tubuhnya.


Lucas melihat dan memeriksa anggota tubuh Lia mulai dari atas hingga ke bawah.


Namun aneh nya Lucas tak menemukan satu bekas luka pun di tubuh istrinya itu.


Malah sekarang Lia sudah terlihat lebih fres dan segar tidak seperti orang sakit.


"Mas, sudah. Kamu mandi sana aku mau pake baju"


Dengan tetap keheranan Lucas berjalan masuk ke kamar mandi.


Bagaimana bisa seseorang yang sudah kehilangan banyak darah masih bisa terlihat begitu fresh dan tidak lemas sama sekali.


Ia mandi dengan singkat lalu segera keluar.


Begitu keluar dari kamar mandi, Lucas melihat Lia yang sudah berganti pakaian dan sedang membuka seprei di kasur.


Lia meletakkan seprei nya yang kotor di kamar mandi lalu menggantinya dengan yang baru.


Dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya, Lucas menarik tangan Lia dan mendekapnya.


Lia menatap mata Lucas yang masih menyimpan banyak pertanyaan di sana.


Dengan semyumnya yang manis Lia bertanya


"Ada apa lagi mas? Hm..."


"Kamu benar benar ga papa?"


Dengan sedikit tertawa Lia mengalungkan lengannya di leher Lucas.


"Kamu masih penasaran darah itu dari mana asalnya?"


Lucas mengangguk lalu mempererat pelukannya.


"Itu semua darah haid mas, bukan karena aku terluka. Kamu tau kan dari mana darah haid keluar?"


Lucas megangkat alisnya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku ga tau, emang darah haid keluar dari mana?"


Lia mencubit hidung Lucas "Dasar nakal. Lepasin aku mau ganti seprei nya"


"Ga mau" jawab Lucas singkat


"Oh ya, jadi kamu ga mau lepasin aku?"


Dengan pasti Lucas megangguk dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Lia hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2