
Lucas menggenggam tangan Lia dan menciumnya.
"Maaf sayang, untuk saat ini aku masih belum bisa mengajak mu untuk bertemu papa" batin Lucas
Ia lalu berbaring dan tidur dengan memeluk Lia di dekapannya.
Meski Lucas berusaha keras memejamkan matanya namun ia tak juga bisa tidur.
Jam 01 dini hari Lia terbangun karena mau ke kamar mandi, saat ia membuka matanya ia melihat suaminya itu masih belum juga tidur.
"Kamu gak tidur?" Tanya Lia
Bukannya menjawab, kicas malah balik bertanya pada Lia
"Loh kok kamu bangun, kenapa?"
"Aku mau ke kamar mandi, kamu kenapa ga tidur mas?"
"Ga papa. Mau aku anter?"
"Kemana?"
"Katanya kamu mau ke kamar mandi"
"Ngapain di anter mas, tuh kan kamar mandinya masih di dalam kamar" kata Lia sambil menunjuk kamar mandi
"Ya siapa tau kamu mau minta di anterin"
"Kamu ini mas ada ada aja, udah ah aku kebelet"
Lia membuka selimut nya dan segera pergi ke kamar mandi.
Lucas duduk dengan menyandarkan kepalanya.
Tak lama Lia keluar dari kamar mandi dan duduk di samping Lucas.
"Apa yang mengganggu pikiran mu mas? Kenapa kamu ga bisa tidur sampe jam segini?"
"Tadi Elda telfon ke hp kamu"
"Elda, apa yang dia katakan sampe harus telfon malam-malam. Dia ga papa kan?"
Lucas mengangguk "Ya, Elda ga papa. Tapi papa..."
"Papa, papa kenapa mas? Ada apa sama papa?"
Dengan wajah serius Lia bertanya karena khawatir
"Kata dokter ada kanker di leher papa"
"Ya ampun mas, kanker?"
"Papa juga sempat mau kabur dari rumah sakit karena ingin pulang dan tidak mau melanjutkan pengobatan" sambung Lucas
Lia terdiam dan memegang tangan Lucas, entah mau di hibur bagaimanapun jika sudah mengenai orang tua, tidak bisa.
Liat sangat mengerti bagaimana dilemanya menjadi Lucas, karena ia pernah ada di posisi itu.
Bunda yang mempunyai kanker payudara juga merasa lelah dengan segala macam pengobatan hingga bunda memilih untuk pasrah dan tetap di rumah saja.
Dan pada akhirnya bunda kalah dengan kankernya dan harus berpulang pada yang maha kuasa.
Lia memeluk Lucas dan bersandar di dadanya
"Kamu yang sabar mas, aku paham bagaimana rasanya menjadi dirimu saat ini"
__ADS_1
"Aku besok akan pergi ke Singapura, ga papa kan?"
"Kenapa kamu masih bertanya mas, aku ga bisa menghalangi mu meski aku kini adalah istri mu. Kesehatan papa lebih penting dari segalanya"
"Maaf karena aku belum bisa mempertemukan kamu dengan papa"
"Ga papa mas, kamu pergi temui papa. Bujuk dan yakinkan papa agar tetap mau di rawat"
Meski bibir Lia mengatakan itu tapi jauh di dalam hatinya ia sangat ingin bertemu dengan papa mertuanya.
Tapi ia sadar waktunya masih belum tepat.
"Makasih ya atas pengertian nya. Love you..."
"Love you too. Udah sekarang kita istirahat"
Lucas menurut dan kini tidur bersama, ia harus istirahat agar besok bisa tetap vit.
*****
Suda beberapa hari ini Viona tidak pulang ke rumah Lucas, ia tetap tingal di kontrakan Agil karena ia masih takut dengan kamarahan Lucas.
Viona mengambil hp nya dan di sana sidah tertera beberapa panggilan tak terjawab dari mama nya, Viona sengaja mematikan hp nya beberapa hari belakangan ini.
Segera ia menlefon balik mama nya.
"Halo ma..." Ucap Viona
"Halo sayang, kamu kemana aja sih. Kenapa kamu ga ada di rumah Lucas, kamu nginep di mana?"
"Sory ma, Vio ada nginep di rumah temen Vio ma" alibinya
"Kenapa hp kamu juga ga aktif"
"Hp Vio lowbat ma, Vio lupa nge charge. Mama ngapain ke rumah Lucas"
"Ya temen Vio mah"
"Jangan bohong Vio, mama tau kamu pasti nginep di rumah Agil. Iya kan?!!"
Viona terdiam ia takut kalau ia akan kena kena marah oleh mamanya.
"Ngak ma, mama kan udah tau aku sama Agil udah ga ada apa-apa"
"Kamu di mana sekarang, mama mau ketemu"
"Aku masih ada di rumah temen ma"
"Temui mama di tempat biasa, 30 menit lagi kamu sudah harus sampai di sana!"
"Tapi ma, ma. Halo... Halo ma..."
Telfonnya langsung di matikan oleh mama nya.
Mau tidak mau Viona harus datang, dia langsung pergi tanpa menunggu Agil terbangun dari tidurnya.
Sesampainya di cafe, mama Viona sudah menunggu di sana dengan segelas kopi di atas meja.
"Hai ma..." Sapa Viona dan langsung duduk di sampingnya
"Sama siapa kamu ke sini"
"Sendiri, emangnya kenapa ma"
Mama Viona menatap dengan serius
__ADS_1
"Mama mau bicara penting sama kamu, dan kamu harus jujur sama mama"
"Mama kok ngomongnya serius gini sih, emang mama mau ngomong apa?"
"Kamu masih ada hubungan kan sama Agil?" Selidik mamanya
"Ee... Enggak ma. Mama kok masih nanya itu sih, kan Vio udah bilang kalo Vio udah ga ada apa-apa sama Agil. Mama ga percaya sama Vio"
"Ngak, mama ga percaya."
"Kok mama gitu sih, Vio udah jujur loh ma"
Mama Viona mengeluarkan selembar kertas dan memberikannya pada Viona.
"Apa ini ma?"
Mata Viona seketika langsung membulat, ia sangat terkejut dan berkeringat dingin setelah membaca isi tulisan nya.
"Mama, mama dapat ini dari mana? Ini pasti salah, ini..."
"Anak siapa yang ada di dalam perut mu! Jawab!!"
"Ini buka Vio ma, mama pasti salah paham ini, ini..."
"Cukup Vio!!"
Mama Viona meninggikan suaranya hingga membuat Viona gemetar karena ketakutan.
"Sudah berulang kali mama sama papa ingetin kamu untuk tidak melakukan hal konyol, tapi apa. Ini bahkan lebih dari konyol. Ini perbuatannya gila"
"Ini ga sengaja ma, sungguh. Ka... kami melakukan ini ga sengaja..."
"Ck, sengaja atau tidak pada kenyataannya kamu sekarang sudah hamil Vio!"
Viona terdiam, ia masih bingung bagaimana bisa mamanya mempunyai surat bukti tentang pemeriksaan kehamilannya.
Setelah Viona tau dirinya hamil, keesokan harinya ia pergi ke klinik bersalin untuk memeriksakan kandungannya.
Dan tanpa sepengetahuan nya, tenyata bidan yang menanganinya adalah teman mamanya.
Dari situlah mama Viona tau bahwa Viona sedang hamil dan kini sudah menginjak usia 5 minggu.
Mama Viona mencengkeram lengan Viona, ia benar-benar greget dan sudah kehilangan kesabaran.
"Kenapa kamu begitu bodoh Vio, kenapa?! Kamu sadar ga sih apa yang akan Lucas lakukan kalo sampe dia tahu kalo kamu hamil sama orang lain, hah!"
Viona hanya diam menunduk, ia takut dan tidak berkata sedikit pun.
Karena saat ini kemarahan mama nya sedang memuncak, dan jika ia nyaut ia takut akan semakin membuat marah mamanya.
"Ga ada pilihan lain, sekarang kamu ikut mama"
"Kemana ma?"
"Kemana lagi, kita pergi ke klinik"
"Klinik? Untuk apa ma kita kesana?"
"Kamu masih nanya untuk apa kita kesana, iya. Dasar bodoh. Kamu harus gugurin kandungan itu!!"
"Apa? Bagaimana mungkin ma, ini darah daging mama, cucu mama"
Plak....
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Viona hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
__ADS_1
Seketika semua pengunjung cafe hening dan menatap ke asal suara tamparan itu berasal.
☀️☀️☀️☀️☀️