
Selama di perjalanan Lia terus berdoa agar bunda tetap baik-baik aja.
Elda mencoba menenangkan Lia.
Tak lama kemudian mereka pun sampai.
Segera Lia masuk ke rumah dan bik Ina sudah menunggunya.
Bi Ina adalah asisten di rumah Lia
"Di mana bunda bi?"
"Bunda di kamar non"
Segera Lia masuk ke kamar bunda dan di sana bunda sudah terbaring di tempat tidur.
"Bunda..." Panggil Lia
Bunda Nisa baru saja sadar dari pingsannya.
Lemas dan begitu pucat wajahnya.
Bunda hanya tersenyum dan memegang pipi Lia.
"Kita ke rumah sakit ya bun"
"Ngak, ga usah nak"
"Ayo bunda, Lia ga mau bubda kenapa kenapa"
"Ga papa nak, bunda ga papa. Ini sakitnya udah hilang"
"Bunda..."
Lia terus membujuk bunda agar mau ke rumah sakit, sedangkan Lucas dan Elda tetap berdiri di depan pintu.
"Maaf udah buat kamu khawatir, seharusnya kamu ga pulang malam ini. Tapi gara-gara bunda kamu harus pulang malam-malam"
__ADS_1
"Lia ga papa bun, tengah malam pun Lia akan pulang demi bunda" Lia menggenggam erat tangan bundanya sambil terus menciuminya.
"Itu siapa nak" tanya bunda karena melihat dua orang yang berdiri di ambang pintu
"Aku pulang di antar sama Lucas bun"
Lia lalu meminta Lucas dan Elda untuk masuk.
Melihat kondisi bunda membuat Lucas tidak tega.
Ia duduk di samping bunda dengan tatapan penuh empati.
"Maaf ya karena bunda, Lia jadi ngerepotin kamu"
"Ngak bunda, Lia sama sekali ga ngerepotin kok. Bagaimana dengan keadaan bunda sekarang?"
"Bunda udah lebih baik kok. Dia siapa"
"Aku Elda tante, adiknya Lucas" jawab Elda lalu menyalami tangan bunda
Setelah memberikan bunda obat, bunda akhirnya tertidur.
"Kalo boleh tau, bunda sakit apa" tanya Lucas
Lia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.
"Bunda di vonis kanker payudara stadium lanjut"
Sontak jawabnya Lia membuat Lucas dan Elda terkejut.
Bagaimana mungkin dengan vonis penyakit seperti itu tidak di rawat di rumah sakit.
Lia lalu menjelaskan bahwa bunda kini sudah tak mau lagi untuk berobat ke rumah sakit.
Sudah cukup, bunda sudah lelah dengan semua prosedur rumah sakit.
Jarum suntik, infus dan obat-obatan sudah tak lagi bisa membantu.
__ADS_1
Bolak balik ke rumah sakit hanya membuat lelah.
"Bunda memilih pasrah dengan keadaannya, dan aku, aku ga bisa lagi terus memaksanya..." Ucap Lia dengan di iringi pecahnya tangisannya
Melihat Lia yang menangis membuat Lucas semakin tidak tega.
Ia mendekati Lia dan memeluknya.
"Kamu yang sabar ya, bunda pasti baik-baik aja. Aku akan coba bantu kamu bujuk bunda agar mau ke rumah sakit"
Lucas mengelus kepala Lia dan terus menenangkan nya.
Tangisannya pecah di pelukan Lucas.
Lia yang selama ini hanya bisa memendam sendiri, mencoba terlihat kuat kini benar-benar menumpahkan air matanya.
Mereka memilih untuk bermalam di rumah Lia, karena khawatir dengan bunda.
Tepat jam 3 dini hari bunda terbangun dan memanggil Lia.
Bunda yang terlihat semakin pucat dengan kuku yang mulai membiru.
Lia panik bukan main, ia berteriak msmanggil Lucas dan Elda.
Dengan nafas yang kini sudah tak beraturan, bunda tetap menolak untuk di bawa ke rumah sakit.
"Bunda minta maaf ya, karena mungkin bunda tak akan lagi bisa menemani kamu" ucap bunda dengan lirih
"Shu...**... Bunda ga boleh ngomong gitu. Bunda akan terus bersama Lia, bunda pasti akan sembuh"
Senyuman dari bibir pucat itu mengembang, semakin menambah sakit bagi yang melihat.
"Bunda sayang sama kamu nak, bunda bangga memiliki anak yang sangat berbakti seperti mu"
"Lia juga bangga menjadi anak dari bunda, bunda harus kuat, bunda ga lemah. Bunda..."
"Jangan nangis sayang, bunda ga suka liat Lia nangis"
__ADS_1
Bunda mencoba menghapus air mata di pipi Lia, namun karena tenaganya lemah tangannya tak sampai.
☀️☀️☀️☀️☀️