
Pak Surya menatap istrinya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apa benar yang di katakan Lucas, ma?!"
Mama Viona hanya diam dan menundukkan pandangannya.
"Mama, jawab!!"
Lucas merasa senang karena keluarga pak Surya kini akan hancur karena kesombongan dan keangkuhan nya dan juga putrinya sendiri.
Ingin Lucas menyaksikan bagaimana pak Surya akan mengamuk pada istri dan anaknya, tapi itu hanya akan membuang waktunya saja.
"Romi, bawa mereka keluar dari rumah ini. Nafas ku terasa sesak harus menghirup satu oksigen bersama mereka"
"Baik tuan"
Romi menyeret pak Surya dan istri nya keluar.
Lalu meminta satpam untuk mengusir nya hingga keluar gerbang.
Pak Sanip yang sedang asyik menyeruput kopinya segera berlari menghampiri Romi.
Pak Sanip lalu membawa mereka keluar dari gerbang.
Perusahaan nya yang kini akan bangkrut karena Lucas menarik semua saham dari perusahaan nya.
Kini di tambah lagi dengan putrinya yang sudah hamil entah dengan siapa.
Pak Surya dengan semua kemarahan nya mendorong istrinya hingga terjatuh ke tanah.
"Jawab aku ma, apa benar Viona hamil? Jawab!!"
Tanya pak Surya sambil menarik rambut Istri
Mama Viona menunduk dan menangis, ia takut untuk menjawab.
Tapi dengan kebungkaman nya lah pak Surya mendapatkan jawaban nya.
Pak Surya mengangkat tangannya dan akan menampar istrinya, namun saat itu juga ia merasakan sakit di dadanya hingga membuatnya jatuh pingsan.
Mama Viona terkejut dan panik.
Ia mencoba membangunkan pak Surya namun tidak berhasil.
Ia lalu meminta satpam untuk membantunya mengangkat pak Surya ke mobil.
"Tapi saya takut bu, nanti tuan Lucas akan marah pada kalau saya membantu orang seperti anda" kata pak Sanip.
"Heh satpam bodoh. Apa kamu dan tuan mu itu tidak punya rasa kemanusiaan hah?"
"Ya inilah alasan saya ga mau nolongin. Belum apa apa saya sudah di katain bodoh, sudah lah saya mau masuk. Kelamaan di sini nanti kopi saya dingin"
__ADS_1
Pak Sanip pun meninggakan mama Viona dan pak Surya yang masih tergeletak.
"Heh dasar satpam bodoh, kurang ajar kamu ya. Emang kalian semu sialan!!" Teriak mama Viona
Sendiri ia berusaha memindahkan pak Surya ke dalam mobilnya lalu ia bawa ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit pak Surya segera masuk ke UGD dan mama Viona menunggu di luar.
Ia berusaha menelfon Viona yang sedari tidak aktif.
Beruntung, kali ini panggilannya tersambung.
"Viona, kamu ada di mana?"
"Mama, Vio ada di rumah temen. Ada apa ma?"
"Papa Vio, papa pingsan"
"Hah? Pingsan. Terus sekarang gimana ma, papa ada di mana?"
"Mama sudah bawa papa ke rumah sakit, sekarang mama ada di rumah sakit *****. Kamu cepetan kesini, ya"
"Iya ma, Vio akan kesana. Tunggu Vio ya"
Viona yang saat ini sedang berada di kontrakan Agil segera pergi ke rumah sakit.
"Sayang, mau kemana?" Cegah Agil saat Viona hendak naik ke mobilnya
Viona langsung tancap gas mobilnya dan melaju dengan cepat.
"Pak Surya pingsan? Kenapa? Apa jangan-jangan pak Surya udah tau kalo anaknya hamil? Wah kalo gitu sebentar lagi aku pasti akan menikah dengan Viona dan aku akan bisa hidup nyaman dengan menguasai semua harta keluarga Surya, hahaha..."
Agil tersenyum bahagia membayangkan masa depan yang cerah yang ada di pikiran nya.
Padahal, keluarga yang ia harapkan hartanya saat ini sedang berada di ujung tanduk.
*****
Malam ini Lucas tidak bisa tidur karena matanya selalu terbayang wajah Lia.
Ia sangat merindukan Lia, namun aneh nya sejak tadi siang Lucas tidak bisa menghubunginya.
Padahal pagi harinya mereka video call seperti biasanya.
Malam ini berulang kali Lucas terus mencoba menelfon, namun tetap ga bisa.
Lucas mencoba menelfon ke telfon rumah, saat bi Ina menjawab telfonnya Lucas langsung menanyakan Lia.
Tapi bi Ina bilang kalau saat ini Lia sudah tidur.
Lucas merasa sedikit aneh, tapi ia mencoba berpikiran positif, "Mungkin Lia ke kecapekan seharian, ya sudah ga papa. Lagian kan besok udah ketemu" batin Lucas
__ADS_1
Lucas menelfon karena ingin memberi tahu Lia bahwa besok ia akan datang, tapi karena Lia sudah tidur biarlah kedatangannya besok menjadi kejutan untuk Lia.
Baru saja Lucas merebahkan tubuhya, hp nya berdering.
Dengan cepat Lucas mengambil hp nya karena ia pikir itu telfon dari Lia, tapi ternyata ia salah.
Telfon itu dari Singapura, yaitu pamannya.
"Halo paman, ada apa menelfon malam-malam. Semua baik-baik saja kan?"
"Ya nak, semuanya baik baik aja. Bagaimana dengan mu di sana, apa ada yang Surya lakukan pada mu?"
"Tidak ada paman, paman tenang aja, aku busa mengatasi Surya di sini. Tapi, bagaimana dengan papa?"
"Papa mu saat pertama paman bercerita, ia sangat tidak percaya. Ya kamu tau sendiri lah bagaimana papa mu menaruh kepercayaan pada Surya. Tapi dengan semua bukti yang aku tunjukkan padanya dengan pelan papa mu mencoba percaya"
"Tapi itu ga berpengaruh pada kesehatan papa kan?"
"Tidak Lucas, paman tidak langsung memberi tahu semuanya secara langsung. Paman menberi tahu papa mu dengan pelan dan satu persatu. Bahkan yang menyuruh mu mencabut semua saham di perusahaan Surya itu bukanlah ide dari ku, melainkan itu ide papa mu"
"Syukurlah, aku sangat senang paman. Lalu bagaimana tentang Viona, apa paman juga sudah memberi tahu papa?"
"Papa mu sudah tau tentang Viona sebelum aku menceritakan tentang Surya pada nya. Jadi saat kita pulang ke Indonesia nanti, kamu bisa dengan tenang memperkenalkan istri mu pada kakak"
"Iya paman, memang itu yang aku harapkan"
"Tapi Lucas, ada 1 yang mengganggu pikiran ku"
"Apa paman, ada apa?"
"Apa istri mu sudah tau kalau sebelumnya kamu sudah menikah dengan Viona?"
"Tidak paman, besok. Besok aku akan menceritakannya semuanya pada Lia"
"Ya, baguslah. Jangan sampai Lia tau dari orang lain, Lia harus tau dari kamu sendiri"
"Iya paman, ya mungkin besok setelah aku ceritakan semuanya pada Lia, dia mungkin akan marah pada ku"
"Tidak masalah, dia marah itu wajar karena kamu telah menutupi ini darinya. Tapi mungkin setelah kamu menceritakan alasan kamu menikah dengan Viona, Lia pasti akan paham dan memaafkan mu"
"Semoga saja paman. Oya, sekali papa mana, Lucas mau bicara sama papa"
"Papa mu sudah tidur sekarang, mungkin karena efek obat yang ia minum. Papa mu sekarang semangat untuk minum obat karena ia sangat senang, sebentar lagi akan pulang"
"Lucas senang mendengar nya paman, semoga dengan begitu papa bisa cepat membaik dan sembuh total"
"Aamiin.. Sudah dulu ya, paman mau makan, itu bibi mu dari tadi sudah menunggu"
"Baiklah paman"
Telfon pun di tutup.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️