Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 52


__ADS_3

Di Singapura


Di sini pak Arman sudah sangat tidak sabar karena hari ini Lucas akan datang menjemputnya.


Sudah sejak pagi saat bangun tidur pak Arman langsung menanyakan Lucas pada Dika.


Kapan akan datang? Di mana Lucas sekarang? Selalu itu yang di pertanyakan.


Terlihat jelas bagaimana berserinya wajah pak Arman hari ini.


Setelah sarapan, Dika langsung menelfon Lucas.


"Halo, Lucas" sapa Dika saat telfonnya tersambung


Dika menelfon di luar kamar.


Ia menanyakan pada Lucas kapan ia akan berangkat.


Setelah beberapa saat di luar, Dika pun masuk kembali ke kamar pak Arman.


"Bagaimana, apa kata Lucas?"


"Sabar kak, kakak pasti akan pulang hari ini kok. Lucas pagi ini masih menyelesaikan beberapa hal dulu di kantor, baru setelah itu dia akan langsung ke bandara untuk terbang ke sini" jelas Dika


"Apa ada hal mendesak di kantor?"


"Ga ada kak, ya tapi kan Lucas sebagai pimpinan harus sangat teliti dalam segala hal. Lucas ke kantor hanya untuk mengecek beberapa kesepakatan yang sudah ia tandatangani"


"Ooo baik lah"


"Ee.. sebenarnya masih ada 1 hal lagi yang Lucas katakan pada ku barusan"


"Apa Dika, Lucas baik-baik aja kan?"


"Lucas baik-baik aja, tapi istrinya..."


"Istrinya Lucas kenapa?"


"Ada apa sih pa, ngomong itu ya jangan di potong-potong. Aku sama kakak kan jadi penasaran" saut istrinya Dika


"Begini, kemarin ada yang datang menemui Lia dan bilang kalau Lucas sudah menikah sebelum menikah dengannya"


Dengan panjang lebar Dika menjelaskan semuanya pada pak Arman dan istrinya.


Bahwa Viona datang ke rumah Lia hanya untuk menciptakan keretakan dalam rumah tangganya.


"Kemarin lucas pergi ke rumah Lia untuk menceritakan semuanya, juga untuk mengajaknya kemari menjemput kakak. Tapi saat ini Lia sangat marah pada Lucas karena Viona."


"Emang ya tuh cewek, dasar. Mesin mending Lucas cuma usir dia dari rumah. Seharusnya tih Lucas membuang Viona ke palung mariana"


Saut istrinya Dika

__ADS_1


"Jadi, Lucas hanya sendiri ke sini?" Tanya pak Arman


"Iya kak, meski Lucas terus membujuknya, tapi Lia memilih untuk sendiri"


"Biarlah, biarkan Lia menyendiri dulu untuk meredakan amarahnya pada Lucas. Percuma juga jika Lucas membujuknya dalam keadaan marah begini. Setelah nanti aku pulang, aku akan coba untuk menlfon Lia sendiri" kata pak Arman


"Aku tadi juga bilang begitu sama Lucas"


"Oh iya pa, Elda ada dimana sekarang? Mama semalam coba hubungin dia tapi ga di jawab"


"Elda ada di rumah kakak, dia pulang dari tempat kerjanya langsung pergi ke sana. Sdah dari kemarin Elda di sana"


"Oh gitu, apa Elda akan ikut Lucas ke sini nanti?"


"Ngak ma, kata Lucas Elda akan menunggu kedatangan kita di bandara"


"Kalo gitu, ya udah sekarang papa urus kepulangan kak Arman lalu kita tunggu Lucas di apartemen saja"


"Baiklah, aku urus dulu sama dokter"


Dika keluar dari kamar pak Arman dan pergi kw ruangan dokter.


Sedangkan istrinya membereskan barang-barangnya di sana sambil menunggu.


Beberapa saat kemudian, Dika kembali ke kamar pak Arman bersama dokter.


Dokter memberi kan resep obat dan kembali memperingati pak Arman untuk tetap menjaga pola makan dan pola hidup.


Serinh kontrol jika sudah waktunya, dan jangan lupa untuk selalu meminum obatnya.


Baru saja keluar dari rumah sakit pak Arman terlihat begitu senang, apa lagi nanti jika sudah sampai di rumah sendiri.


*****


Di rumah Lia


Sejak hari itu Lia sering mengurung diri di kamarnya, bahkan untuk makan pun bi Ina mengantarkan nya ke kamar.


Setiap hari Lucas menelfon ke telfon rumah Lia untuk menanyakan kabar nya pada bi Ina.


Toktoktok


"Non... Bibi masuk ya..."


Terdengar suara bi Ina dari luar pintu kamarnya.


Lia yang baru saja bangun tidur langsung membuka pintunya.


"Ada apa bi?"


"Ayo sarapan non, udah jam 9 ini non Lia belum makan apa-apa dari semalam"

__ADS_1


Lia melihat piring yang ada di atas nampan yang bi Ina bawa.


Bi Ina memasak makanan kesukaan Lia, memang terlihat sangat lezat tapi nafsu makan Lia belum juga kembali.


"Nanti aja ya bi, Lia masih malas makan"


"Non... Jangan menghukum diri non Lia begini. Bibi yakin, masalah non Lia pasti akan cepat selesai"


Lia berjalan keluar dan duduk di sofa.


"Lia ga tau bagaimana nasib Lia ke depannya bi. Apakah pernikahan ku yang masih berumur sebulan ini akan sampai di sini?"


"Hus... Non. Ga boleh ngomong gitu, ga baik non"


Bi Ina meletakkan nampannya di atas meja dan duduk di samping Lia.


"Ga boleh ngomong begitu non, ga baik. Ini adalah salah satu ujian pernikahan" sambung bi Ina


"Bagaimana mungkin aku bisa melanjutkan pernikahan ini yang di awali oleh kebohongan"


"Non, maaf kalo bibi sok tau atau ikit campur tentang masalah pernikahan non Lia. Tapi kalo boleh bibi sarankan, sebaiknya non Lia mendengarkan juga dari tuan Lucas"


"Maksud bibi apa, aku bahkan tidak sanggup untuk beetemu dengannya lagi. Hati ku semakin sakit saat melihat wajahnya bi"


"Non... Non Lia begitu marah karena omongan dari wanita itu, wanita yang bahkan non Lia ga kenal dan ga pernah tau siapa dia. Bisa jadi wanita itu hanya ingin melihat non Lia dan tuan Lucas berantem"


Lia menatap bi Ina dan mulai mendengarkan nasehatnya dengan serius


"Begini, menurut bibi non Lia jangan hanya mendengarkan dari salah satunya. Non Lia juga harus mendengar dari sisi tuan Lucas, berikan kesempatan padanya untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Baru setelah itu keputusan ada di tangan non Lia. Non Lia bisa memutuskan siapa yang berbohong dan siapa yang benar dan dapat di percaya"


Lia terdiam. Kalau ia pikir-pikir ia juga salah karena lebih memilih percaya pada orang asing dari pada suaminya sendiri.


"Tuan Lucas pasti mempunyai alasan kenapa dia menutupi semuanya ini dari non Lia. Sudah, itu jangan di pikir dulu. Karena sekarang ada yang lebih penting, yaitu makan. Non Lia harus makan, karena berpikir itu memerlukan tenaga non, ayo bibi siapin. Buka mulutnya, aaa....."


Lia tersenyum dan mulai membuka mulutnya.


Perlahan ia mulai mengunyah dan matanya mengeluarkan bulir bening di sana.


"Eh ,kenapa nangis non?"


Lia memeluk bi Ina dan berterima kasih padanya.


"Makasih bi, bibi udah jagain Lia seperti bunda"


"Sama-sama non, bibi sayang sama non Lia seperti sayangnya bibi sama anak-anak bibi"


Ucap bi Ina sambil membalas pelukan Lia.


"Sudah sudah, jangan nangis lagi. Sudaj cukup air mata non Lia terbuang sia-sia dari kemarin. Ayo makan lagi"


Kini Lia pun makan dengan lahap.

__ADS_1


Amarahnya kini sudah mulai mereda, ia bahkan kini juga sudah siap untuk mendengar penjelasan dari Lucas


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2