
Lia terkejut bukan karena restoran yang mewah, tapi karena restoran itu sangat terlihat sepi bahkan semua lampu di restoran itu mati.
Lucas menggandeng tangannya mengajaknya melangkah namun lia menolak.
"Apa kamu tidak salah tempat? Sepertinya restoran ini sudah tutup" ujar Lia
"Aku tidak salah tempat, ayo berikan tangan mu" pinta Lucas
"Tapi...."
Tiba-tiba Lia di kejutkan dengan sinar terang dari lampu yang sangat menyorot mereka berdua.
Dengan bergandengan tangan mereka melangkah maju dan pintu restoran otomatis terbuka saat mereka ada tepat di depannya.
Lia semakin bingung namun ia berusaha menutupi nya dari Lucas.
Begitu Lia melangkahkan kakinya ke dalam restoran itu satu persatu lampu mulai menyala bersamaan dengan iringan musik piano yang dimainkan.
Lia terpukau dan tak bisa berkata-kata.
Karena di dalamnya tidak hanya dekorasi nya yang indah melainkan juga berhias foto foto masa kacilnya saat bersama Lucas.
Lia menatap Lucas dengan tatapan penuh tanya, Lucas menjawabnya hanya dengan senyuman.
Lucas terus menuntun Lia hingga sampai di kursi yang sudah tersedia.
Lucas menarik kursi lalu mempersilahkan Lia duduk.
Saat Lia dengan seribu kebingungannya ingin bertanya Lucas menjentikkan jarinya 3x lalu tak lama para pelayan datang.
Pelayan datang dengan membawakan minuman coklat hangat dan desert vanilla kesukaan Lia.
Aromanya begitu kuat dan nikmat di balut dengan tampilannya yang mewah.
Lucas lalu memintanya untuk meminumnya, namun Lia menolak.
"Apa ini Lucas?... Apa kamu yang menyiapkan ini?" Tanya Lia
"Ya, aku sengaja menyiapkan tempat ini khusus untuk kita berdua. Apa kamu tidak menyukainya?"
"Tempat ini sungguh sangat indah, dan dari mana kamu dapatkan semua foto masa kecil kita?"
"Aku kan sudah bilang, tak ada satu hal pun yang aki buang dari semua momen kita dulu. Termasuk foto-foto ini"
Lia mengambil foto yang ada di dekatnya.
Foto saat ia sedang bermain dengan kucing kesayangannya.
Bahagia, terharu menjadi satu. Bayangan tentang semua masa kecilnya kini muncul di benaknya termasuk tentang bunda.
Lia tak dapat mengungkapkan perasaan nya, ia hanya mampu berbicara dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Jangan ada air mata malam ini, aku tak ingin melihat bersedih apa lagi menangis"
__ADS_1
Ucap Lucas menghapus air matanya
"Ini bukan tangisan sedih, ini tangisan bahagia" jawab Lia
"Kalau kamu memang bahagia, tersenyum lah. Mati kita nikmati malam ini dengan senyuman..."
Lia mengangguk dan mengusap sisa air mata di pipinya.
Ia lalu mulai makan dan minum apa yang sudah Lucas sediakan.
Seperti tampilannya yang sempurna begitu pun dengan rasanya.
Lia sangat menyukainya hingga ia menggoyangkan kepalanya saat menikmatinya.
Lucas lalu mengulurkan tangannya mengajak Lia untuk berdansa.
Lia awalnya tidak mau karena kakinya masih terasa sakit, tapi Lucas menyakinkan dia bahwa dengan berdansa rasa sakit di kakinya akan hilang.
Mereka kemudian berdansa dengan di iringi musik romantis.
Mereka larut dalam suasana romantis hingga rasa sakit di kaki Lia tak lagi terasa.
Dan di akhir dansa Lucas mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kotak cincin berwarna putih.
Lucas lalu membukanya dan duduk berlutut di depan Lia.
Lia tidak menyangka bahwa Lucas akan melamarnya malam ini.
Lia lalu ingat masa kecil dulu saat Lucas berpamitan akan pindah dari Bali.
Lia kecil yang saat itu mengangis karena tidak mau Lucas pergi memberikan sebuah cincin kembar dengan inisial huruf L.
Satu ia pakai sendiri dan satunya lagi ia berikan pada Lucas.
"Berjanjilah pada ku bahwa suatu saat nanti kamu akan kembali pada ku" ucap Lia kecil sambil memakaikan cincinnya.
Dengan pasti Lucas mengangguk sebelum akhirnya ia pergi.
"Aku janji, suatu saat nanti saat aku besar dan sukses nanti aku akan kembali dan mengganti cincin ini dengan yang lebih bagus dan lebih mahal" jawab Lucas
Dan benar saja, Lucas menepatinya malam ini dengan memberikan cincin berlian yang tentunya lebih bagus dan lebih mahal.
"Will You Marry Me...." Ucap lucas
Lia tidak bisa menjawabnya, ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir.
Tatapan matanya seakan penuh tanya, bahkan hingga Lucas mengulangi ucapannya Lia tetap diam.
"Aku mohon jawab aku" pinta Lucas
Dengan berderai air mata, senyuman lebar mulai mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Dengan pasti Lia mengangguk yang artinya ia menerima lamaran dari Lucas.
Lucas lalu memakaikan cincin itu di jari manis Lia lalu memeluknya dengan erat.
Lia kemudian membalas pelukan Lucas dan menumpahkan semua air matanya di dada bidang Lucas.
Lucas memegang pipi Lia dan menatapnya dengan lekat
"Kenapa kamu menangis?"
"Aku bahagia, aku sangat bahagia. Ini adalah tangisan bahagia" jawab Lia lalu kembali memeluknya.
Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah terlupakan bagi ke duanya.
*****
Di Singapura, pak Arman kini kondisinya perlahan mulai membaik.
Virus yang ada di dalam tenggorokan nya yang awalnya harus di operasi kini sudah perlu lagi.
Karena dengan pengobatan yang sangat modern dan di dukung dengan alat-alat yang canggih semua perlahan membaik.
Namun hingga saat ini dokter masih belum mengijinkan beliau pulang, karena masih di khawatir kan virus itu akan tumbuh lagi.
Jadi masih di perlukan untuk terus melakukan pemeriksaan rutin.
Dika dan istrinya dengan setia selalu mau menemani pak Arman.
Dengan mengesampingkan pekerjaan mereka demi mengutamakan pengobatan pak Arman.
Sore itu suasana hati pak Arman sedang baik, Dika mengajaknya untuk keluar kamar dan menikmati angin segar di taman rumah sakit.
Dika memberanikan untuk bertanya tentang pernikahan Lucas dan Viona.
"Apa kakak yakin tidak salah pilih menikahkan Lucas dengan anak dadi pak Surya?"
"Maksud kamu apa Dika" tanya balik pak Arman
"Ya maksud ku, kan kakak tau sendiri Lucas sangat menolak pernikahan ini. Tapi demi kakak dia mau menikah"
Pak Arman diam dan menatap pohon besar yang daunnya berguguran.
"Aku tidak tau, akhir akhir ini setiap aku bertanya tentang Viona pada Lucas terlihat bagaimana Lucas tertekan. Aku sering merasa kalau aku jahat karena lebih memntingkan perasaan sahabat ku dari pada anakku sendiri"
Dika sebenarnya ingin memberi tahu tentang Viona pada pak Arman, bagaimana pergaulannya, kehidupan bebasnya, namun ia tidak mau kakaknya itu semakin bertambah beban pikiran hingga akhirnya kondisinya akan kembali drop.
"Semua belum terlambat kak, kakak masih bisa memperbaiki ini. Karena ini menyangkut kehidupan masa depan putra kakak sendiri"
Pak Arman mengangguk
"Aku ingin segera pulang dan bisa melihat langsung bagaimana rumah tangga Lucas. Aku ingin mengetahui secara langsung apakah pilihan ku untuk putra ku itu baik atau malah sebaliknya" tuturnya.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1