
Setelah matahari terbenam lucas mengajak Lia untuk pergi ke suatu tempat.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Lia
"Ke suatu tempat di mana aku akan memenuhi janji ku pada mu"
"Ahaha... Kamu ini masih aja. Emang masih ada berapa janji lagi hmm..."
"Ada 2 janji lagi"
"2? Baiklah segera bawa aku ke tempat itu"
Tak lama mobil pun berhenti di sebuah lapangan yang ramai orang.
Semua mata tertuju pada mobil mewah yang parkir di sebelah motor orang orang.
"Pasar malam?" Tanya Lia
Lucas mengangguk sambil tersenyum.
Ia lalu membantu Lia membuka membuka safety belt nya.
"Ada 1 janji yang belum aku penuhi pada mu di tempat ini" ucapnya
"Apa?"
"Ayo turun"
Lucas membukakan pintu untuk Lia dan membantunya berjalan.
Semua orang yang melihat merka pasti sudah tau kalau mereka bukan dadi kalangan rakyat biasa.
Dari mobil dan pakaian sudah sangat berbeda.
Lucas membawa Lia ke satu wahana.
"Kora-kora? Kota mau naik kora-kora?" Tanya Lia
Lucas mengangguk dengan pasti.
Lia seketika langsung tertawa girang karena tudak mungkin Lucas mau menaiki wahana itu.
Sambil memegangi perutnya yang mulai kram karena tertawa Lia bertanya lagi
"Hahaha... Kamu, kamu mau ngajakin aku naik ini? Yang benar saja"
"Kamu ga percaya?" Tanya balik Lucas
"Gimana aku mau percaya, dulu sudah sering kamu menolak ajakan ku untuk wahana yang satu ini. Dan sekarang kamu ngajakin aku?"
Tiba tiba seseorang datang menyela obrolan mereka
"Mau naik kora-kora tuan?" Tanya orang itu yang tak lain adalah operatornya
"Ya, berapa harga tiketnya" jawab Lucas dengan mantap
"20.000 untuk 1 orang tuan, mau berapa tiket?"
"2 tiket" ucap Lucas lalu mengeluarkan uang 50.000 an "Ambil saja kembaliannya" sambungnya
"Wah terima kasih tuan, dan ini tiketnya"
Satu tiket di tangannya dan satu lagi ia berikan untuk Lia.
__ADS_1
"Ini tiket mu" ucap Lucas
Lia tetap mematung memerhatikan wajah Lucas.
Ia masih tak percaya apakah benar Lucas berani untuk menaiki wahana ini.
"Kenapa bengong, ayo" Lucas menjentikkan jarinya di depan mata Lia
Begitu Lucas hendak melangkah maju, Lia menarik tangannya.
"Apa kamu serius tentang ini?" Tanya Lia memastikan
Dengan wajah yang mulai sombong Lucas tersenyum pada Lia
"Kamu meremehkan ku?"
"Bukan meremehkan, tapi kan kamu takut ketinggian"
"Lia, wahana ini tingginya hanya beberapa meter dari tanah, lebih tinggi pesawat yang sering aku tumpangi"
Karena Lucas terlihat sangat berani, Lia pun akhirnya mengiyakan.
Mereka berdua naik dan duduk di bagian tengah.
Begitu kora-kora mulai bergerak, Lucas menggenggam tangan Lia dengan erat.
Ia mulai mengatur nafasnya agar tetap tenang.
Lia diam-diam menahan tawa karena wajah Lucas mulai panik.
Lia menggenggam balik tangan Lucas dan mengusapnya dengan lembut.
"Tarik nafas pelan-pelan keluarkan. Ada aku di sini, ga akan terjadi apa-apa kok" ucap Lia menenangkan
Tapi Lucas yang gengsinya setinggi langit, ia sok berani.
Lia menggelengkan kepalanya karena Lucas masih saja tidak menurunkan gengsinya.
Benar saja ketika kora-kora mulai berayun, seketika Lucas langsung memeluk Lia.
Ia menutup matanya dan memeluk Lia dengan erat sambil berteriak.
"Aaa.... Apa ini, berani-beraninya mereka mau membunuh ku di sini. Aaa.... Suruh mereka berhenti, Lia... A.... Cu..cukup...."
Lia tertawa keras karena kesombongan Lucas seketika langsung sirna.
Lia tetap menikmati ayunan kora-kora meski Lucas beeteriak ketakutan.
Lia malah dengan sengaja mengabadikan momen itu dengan merekamnya.
Beberapa menit berayun kini waktunya mereka turun.
Lucas tadi meneiki kora-kora dengan sombongnya kini turun dengan tubuhnya yang mulai sempoyongan.
Kepalanya pusing, nafasnya tak beraturan begitu pun dengan detak jantungnya.
Bahkan lebih parahnya lagi Lucas sampai berkeringat dingin.
Lia yang awalnya tertawa sangat puas tapi kini ia menjadi khawatir Lucas akan kenapa kenapa.
Segera lia membeli minuman lalu memberikannya pada lucas.
"Ini minumlah dulu" ucap Lia sambil menyodorkan air mineral padanya
__ADS_1
Setelah meminumnya, Lucas juga menuangkan air itu ke wajahnya.
Lia membantu Lucas dengan memijat pelan kepalanya.
"Apa sekarang masih pusing?" Tanya Lia
Lucas mengangguk dan kembali minum.
Karena masih merasa pusing, Lucas menyenderkan kepalanya pada Lia dan Lia pun dengan tulus memeluk nya.
"Terima kasih karena telah mau menepati janji mu pada ku. Padahal aku sudah lupa dan tak akan menagihnya, aku salut pada mu" ucap Lia mengelus lembut rambut Lucas
"Setelah ini jangan pernah mengajakku untuk main di sini lagi"
Lia tersenyum dan mengangguk sambil terus memijat kepalanya.
Setelah merasa lebih baik Lucas pun berdiri dan mengajak Lia untuk menikmati makanan di pasar malam.
Karena kasihan melihat Lia berjalan pincang, Lucas memintanya untuk menunggu di mobil.
Semua jajanan Lucas beli satu persatu lalu ia bawa ke mobil.
Sosis bakar, seblak, pentol bakar, es boba, cumi bakar dan masih banyak lagi.
Sampai Lia pun tak tau bagaimana ia akan menghabiskan semua makanan itu.
"Kamu beli ini semua cuma buat aku seorang?"
"Memangnya ada orang lain selain kota di sini?" Tanya balik Lucas
"Tapi ga sebanyak ini juga kali, kamu pikir perutku ini karung apa"
"Hust... Berhenti protes dan makanlah"
Lucas membuka cumi bakarnya lalu menyuapi Lia.
Satu persatu makanannya ia cicipi sembari menyuapi Lia.
"Ternyata makanan di sini enak enak juga ya" ucap Lucas sambil mengunyah pentol bakarnya
"Ya memang enak semuanya, tapi untuk saat ini aku udah nyerah. Isi perutku sudah melebihi kapasitas nya, aku sudah sangat kenyang..."
"Tapi ini masih banyak"
"Kan kamu yang beli banyak, jadi kamu juga yang harus habiskan" Lia menyuapi Lucas hingga mulutnya penuhi dan kesulitan untuk mengunyah.
Karena Lucas juga sudah sangat kekenyangan, ia akhirnya turun dari mobil dan memberikan makanannya pada anak-anak yang ada di dekat mobilnya.
Setelah itu mereka pergi dari pasar malam itu menuju suatu tempat yang sudah di siapkan oleh Lucas.
Sepanjang perjalanan Lia terus bertanya kemana Lucas akan membawanya.
Namun bukannya menjawab Lucas malah semakin membuat penasaran Lia.
Lucas hanya mengatakan kalau masih ada 1 lagi janji yang harus ia tepati.
Lia mencoba mengorek memori masa kecilnya untuk mengingat janji apa yang Lucas maksud.
Tapi bukannya ingat, Lia malah menjadi pusing.
Ia terus merengek ingin tahu tapi Lucas tetap merahasiakan.
Lia akhirnya memilih diam dan menunggu di manakah mobilnya akan berhenti.
__ADS_1
Tepat di sebuah restoran mewah mobil Lucas berparkir.
☀️☀️☀️☀️☀️