Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 22


__ADS_3

Lucas duduk di samping Lia dan turut membujuk bunda Nisa.


"Bunda, benar kata Lia. Kita ke rumah sakit ya, terserah nanti bunda mau di rawat inap atau rawat jalan yang penting sekarang bunda harus di tangani oleh dokter" ujarnya


Dengan pelan dan senyuman yang mulai layu bunda menggelengkan kepalanya.


"Kemarilah nak, mendekat lah..."


Lucas mendekat dan duduk di sisi bunda.


Bunda lalu memegang tangan Lucas


"Nak, selama ini Lia tak pernah mempunyai teman dekat yang suka main ke rumah. Kalian lah orang pertama yang main ke sini.


Bunda minta sama kamu, tolong jagain Lia. Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan Lia"


Lucas menggenggam balik tangan bunda lalu menciumnya.


"Apapun yang terjadi Lucas janji akan selalu ada buat Lia, demi bunda. Bunda harus kuat, bunda pasti bisa melawan penyakit ini"


"Tidak nak, tidak. Ingat pesan bunda ya"


Lia mendengar itu tangisan nya semakin menjadi.


"Bunda ga boleh ngomong gitu, bunda akan selalu ada di sini sama Lia. Bunda pasti bisa sehat lagi"


Bunda mencoba menyatukan tangan Lia dan tangan Lucas di atas perutnya.


Senyuman di bibir bunda perlahan mulai menghilang berganti dengan raut wajah muram karena menahan sakit.


Matanya mulai terpejam dengan nafas yang semakin cepat.

__ADS_1


Terlihat jelas bagaimana bunda kesakitan.


"Bunda...." Panggil Lia


Dengan pelan bunda mencoba membuka matanya dan berusaha untuk tersenyum, namun kali ini sudah tak bisa.


Raut wajah yang semakin sayu, dengan tangan yang masih menggenggam keduanya bunda menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya.


"Bunda, bunda bangun bunda. Bunda..."


Lia berteriak memanggil dan mencoba membangunkan, namun bunda kini sudah tiada.


Tangisan di kamar itu pecah, terutama Lia.


Elda baru pertama bertemu dengan bunda pun ikut menangis karena tidak tega melihat Lia.


Begitu pun Lucas, kali ini ia tak lagi bisa sok cool.


Karena sejak kecil saar ia masih di Bali, bunda Nisa memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri.


Lucas yang tidak bisa merasakan kasih sayang dari mamanya dapat ia rasakan dari bunda.


Pagi harinya tepat jam 9, semua persiapan pemakaman pun sudah siap.


Elda membantu Lia dan warga yang lainnya untuk memandikan dan mengurus jenazah bunda.


Ketika jenazahnya sudah di sholat kan, keranda di siapkan untuk membawa bunda ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Kini jenazah dan rombongan pengiring sudah sampai di TPU.


Dengan bantuan warga jenazah bunda Nisa di makam kan.

__ADS_1


Proses demi proses pemakaman di saksikan langsung oleh Lia.


Ketika jenazahnya sudah terkubur oleh tumpukan tanah, Lia memejamkan matanya.


Terbayang jelas wajah bundanya saat tersenyum, semua kenangan seketika melintasi di pikirannya.


Hingga membuat Lia pingsan bersamaan dengan terpasangnya batu nisan.


Elda segera meminta bantuan pada warga yang lainnya untuk membantu membawa Lia pulang. Lucas segera menghampiri dan menggendong Lia membawa nya ke mobil.


Sesampainya di rumah Lia masih belum sadar juga.


Elda memberikan minyak kayu putih di area hidungnya, dan tak lama akhirnya Lia pun sadar.


Segera Lucas memberikan segelas air putih


"Minum lah dulu" ucap Lucas


Namun Lia menolak, ia memiringkan tubuhnya membelakangi Elda dan Lucas.


"Kalian pergi lah... Tinggal kan aku sendiri" ujarnya


"Lia, bagaimana mungkin kita ninggalin kamu sendirian" kata Elda


"Pergi El, aku mau istirahat. Pergilah..."


"Tapi..."


Lucas memegang pundak Elda dan mengajaknya keluar dari kamar Lia.


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2