Aku Hanyalah Istri Kedua

Aku Hanyalah Istri Kedua
Episode 73


__ADS_3

Pagi ini Dika dan istrinya bersiap untuk pulang.


Barang barang yang akan mereka bawa sudah sejak semalam mereka kemas.


Pagi ini sebelum berangkat ke kantor Romi datang ke rumah Lucas dengan membawakan tiket pesawat paman dan bibinya.


"Ini tuan, tiketnya" ucap Romi sambil menyodorkan tiket pesawat di tangannya.


Lucas menerimanya dan mengecek nya.


"Baiklah, terima kasih. Oh ya, hari ini aku tidak ke kantor. Kamu urus semuanya, dan jika ada meeting yang sangat penting langsung kabari aku"


"Baik tuan. Saya permisi..."


Lucas mengangguk dan Romi pun berpaling keluar dan langsung pergi.


Pak Arman yang baru turun dari kamarnya melihat Lucas yang baru masuk dan menutup pintu dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Apa itu Lucas?" Tanya pak Arman lalu duduk di sofa


"Ini tiket pesawat paman sama bibi"


Jawab Lucas dan langsung duduk di samping papanya.


Pak Arman melihat ke sekeliling tampak sedang mencari sesuatu


"Dimana paman sama bibi mu sekarang?"


"Aku ga tau pa, mungkin masih di kamarnya"


"Dan istri mu?"


"Lia masih di kamar, bentar lagi dia turun kok"


Pak Arman dan Lucas duduk di sofa sambil menunggu yang lainnya turun untuk sarapan bersama.


Tak lama paman dan bibi nya turun dan duduk bergabung di sofa, kemudian Lia pun datang juga.


"Selamat pagi semuanya..." Sapa Lia dengan senyumnya yang ramah lalu duduk di samping Lucas.


Karena semuanya sudah turun pak Arman lalu mengajak untuk sarapan sekarang.


Semuanya langsung pindah dari sofa menuju meja makan.


Lia membantu menuangkan susu di gelas suami dan papa mertuanya.


Sedangkan Lucas langsung mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaan nya.


Sarapan selesai Lucas, Lia dan pak Arman duduk di ruang keluarga , sedangkan Dika dan istrinya mengambil barang-barang nya dari kamar.


Beberapa lama Dika dan istrinya turun ke bawah dengan membawa 2 koper.


Mereka duduk bergabung di sana sambil menunggu waktu untuk berangkat ke bandara.


"Kalian hati-hati pulang nya, segera kabari kami nanti kalo udah sampai" ujar pak Arman


"Iya kak, pasti" jawab Dika


"Oh ya pa, barusan Elda nelfon katanya dia ga jadi pulang ke Bali, dia ada beberapa job dadakan. Jadi mungkin Elda akan pulang ke sini katanya" sambung mama Elda


"Oh gitu, ya udah ga papa"


"Ya udah ga papa bi, aku juga udah kangen sama Elda. Beberapa hari dia pergi ga pernah ngabarin Lia" Saut Lia


Mama Elda mengangkat alisnya sambil menatap Lia "Oh ya, Elda ga pernah ngabarin kamu? Chat atau apa gitu?" Tanya nya


Lia menggeleng kan kepalanya "Ga ada bi, chat ku aja ga dia bales"

__ADS_1


Dika dan istrinya tertawa tipis.


"Jangan kan kamu, kami saja orang tuanya jarang dia kasih kabar sama dia" kata Dika


"Betul itu Lia, barusan aja pas nelfon buru-buru gitu. Elda itu kalo udah menyangkut pekerjaan ga pernah pegang hp, kecuali ada hal yang penting baru dia pegang hp" sambung mama Elda


"Ooo gitu bi, pantesan jarang aktif. Kalaupun aktif ga di angkat"


"Ya gitu deh. Itu turunan tau" ucap mama Elda sambil men toel lengan Lia


Pak Arman, Lucas dan Dika serentak menoleh dan penasaran dengan maksud dari kata turunan kata mama Elda.


"Turunan, dari siapa bi?" Tanya Lia


"Dari siapa kalo bukan dari papa nya, papa nya Elda itu satu darah sama kak Arman. Ya gitu, ga Elda ga Lucas kalo udah menyangkut pekerjaan ga mengenal istirahat" jelas mama Elda


Lucas mengangkat alisnya sebelah karena tidak setuju dengan apa yang di katakan bibi nya.


"Bukan ga ada dan ga mau istirahat bi, tapi ya selagi masih muda dan tenaga masih banyak, ya harus giat kerjanya. Agar nanti pas udah tua tinggal leha-leha sambil menikmati hasil dari jerih payah saat muda bersama istri dan anak anakku.."


Pak Arman dan Dika langsung tersenyum.


"Nah... Itu tuh alasan dari kami pantang mundur kalo urusan kerja, benar kan kak?" Saut Dika


"Betul itu" jawab pak Arman menyetujui dan mereka saling mengangkat jempolnya masing masing.


"Ya ya ya, kalian emang se frekuensi kalo soal kerja. Kerja keraslah hingga bisa menghasilkan banyak uang, tugas istri mah mengabiskan uang suami. Ya kan Lia" kata mama Elda


Dengan semangat Lia langsung mengangguk setuju.


Tak terasa saking asyik mengobrol kini sudah jam 9.


Dika dan istrinya langsung bersiap untuk segera pergi ke bandara.


Lia pergi ke kamarnya untuk mengambil tas nya, karena ia ingin ikut suaminya untuk mengantar papa dan mama Elda.


Pak Arman membalas hangat pelukan Dika, kemudian mama Elda juga berpamitan dengan menyalami tangan pak Arman.


"Kalian hati hati ya"


Dika dan istrinya mengangguk sambil tersenyum.


"Di mana istri mu Lucas?" Tanya Dika


Lucas memutar kepalanya dengan matanya yang mencari keberadaan istrinya.


"Itu dia" kata Lucas sambil menunjuk Lia yang sedang menuruni anak tangga.


"Kita pergi dulu ya pa" pamit Lucas lalu menyalami tangan papa nya, di susul kemudian dengan Lia.


Pak Arman hanya ikut mengantar Dika dan istri nya hingga di teras depan rumahnya saja.


Melihat mereka masuk ke dalam mobil hingga mobil itu pergi dan tak lagi terlihat oleh kedua matanya. Setelah itu pak Arman masuk ke rumah dan beristirahat di kamarnya.


Setelah mengantar paman dan bibinya ke bandara, setelah memastikan pesawat nya mengudara mereka pun pergi dari bandara.


Mereka tidak langsung pulang ke rumah, melainkan Lucas masih mengajak Lia untuk menonton film romantis bersama nya.


"Mau nonton film apa mas?" Tanya Lia sambil melepas safety belt nya.


Lucas mencoba menjawab pertanyaan Lia dengan kedua bola matanya.


Namun sayangnya Lia tidak mengerti dengan maksud Lucas.


Lia menyatukan kedua alisnya dengan bola matanya yang menyipit.


"Apa? Mau nonton apa mas?"

__ADS_1


Lucas memutar bola matanya dan kembali menyandarkan dirinya di kursi.


"Masa kamu ga ngerti sih?"


"Mas aku tuh nanya nya pake suara, dan kamu malah jawabnya pake telepati. Film apa? Horor, romantis, komedi atau apa?"


"Ya yang romantis lah sayang, ya kali sama pasangan malah mau nonton yang horor" jawab Lucas dengan sedikit manyun.


Lia menahan senyumnya dan mulai mendekatkan wajahnya.


Nafas mereka kini saling bertemu dengan bola mata yang saling kontak.


Lia lalu mendekatkan bibir seperti akan mencium Lucas.


Dengan senang hati Lucas menutup matanya dan membiarkan Lia untuk dengan leluasa menciumi nya.


Memang benar Lia mencium bibir Lucas namun hanya beberapa detik saja lalu Lia melepasnya.


Lucas langsung membuka matanya dan mengangkat alisnya.


"Kenapa berhenti?"


Lia dengan santainya menjawab


"Terus, maunya?"


Lucas menarik tangan Lia dan membuat wajah mereka saling berdekatan.


Dengan cepat Lucas langsung ******* bibir Lia dengan penuh hasrat hingga lia laa tidak bisa melepaskannya.


Tangan Lucas mengunci tubuh Lia dengan mendekap pinggangnya yang ramping agar Lia tidak bisa menghindar.


Di dalam mobil yang ada di parkiran itu mereka melanjutkan aksinya untuk bercumbu.


Beberapa menit beradu mulut Lia berhasil melepas tangan Lucas.


Ia lalu kembali ke tempat duduk nya dengan nafas yang ngos-ngosan.


Bibir yang merah dengan sedikit berkeringat Lucas tersenyum melihat Lia yang mengusap bibirnya.


Lia lalu memukul lengan Lucas


"Kamu apa apaan sih mas, ini di parkiran loh. Gimana nanti kalo sampe ada yang ngeliat?"


Dengan santai Lucas juga mengelap bibirnya


"Ga akan ada yang melihat kita, kaca mobil ini ga bisa di lihat dari luar"


"Ya tapi mas..."


Lucas kembali mendekati Lia hingga Lia memundurkan dirinya.


"Mas, ih... Kamu mau ngapain lagi sih. Jangan ah" Lia mendorong tubuh Lucas dengan kedua tangannya.


Tangan Lucas mulai berjalan melawati dua gunung kembar milik Lia.


"Mas....." Panggil Lia dengan menutup matanya dan sedikit mengeraskan suaranya.


Krek....


Lucas membuka pintu mobil agar Lia bisa turun.


Lia lalu membuka matanya dan wajah Lucas tersenyum nakal padanya.


"Kenapa teriak teriak? Aku cuma mau bukain kamu pintu" ucap Lucas dengan santainya.


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2