
Lia yang sedang tenggelam dalam lamunanya tersadar karena hp berdering.
Lia membuka tasnya dan mengambil hp nya, ternyata yang menelfonnya adalah mama nya Elda.
"Halo Lia..." Sapa mama Elda dari seberang telfon
"Halo bibi. Bibi apa kaba?"
"Bibi sehat, bagaimana dengan kamu dan yang lain di sana?"
"Kami di sini baik-baik aja bi"
"Oh syukur lah, kamu lagi apa sekarang?"
"Ini Lia lagi ada di rumah sakit bi"
"Rumah sakit? Ngapain?"
"Lia nemenin papa kontrol"
"Oo gitu, trus gimana kata dokter?"
"Papa masih di dalam bi, masih belum selesai"
Sambil terus berjalan Lia asyik telfonan dengan mama Elda, hingga kini ia sampai di depan kamar tempat papa mertuanya di periksa.
Lia duduk di sana sampai telfon nya dengan mama Elda selesai.
Tak lama suster pun keluar dan mempersilahkan Lia untuk masuk karena dokter akan menjelaskan hasil dari pemeriksaan pak Arman.
Lia beranjak dari duduk nya dan masuk mengikuti suster lalu duduk di samping papa mertuanya.
"Kamu pasti istrinya Lucas ya?" Tanya dokter Tomi
Sambil tersenyum Lia mengangguk.
"Aku adalah salah satu teman se angkatan sama Lucas dan aku sudah seperti doter pribadi di keluarga Danuarta" jelas dokter Tomi
"O ya mengenai hasil dari pemeriksaan pak Arman semua Alhamdulillah normal dan baik. Ya meski tidak bisa langsung pulih sepenuhnya setidaknya tidak memperparah keadaan pak Arman sekarang" sambunh dokter Tomi
Dokter Tomi juga kembali memberikan resep obat untuk pak Arman juga jadwal untuk kembali kontrol.
Lia menerima kertas resep obatnya.
"Terima kasih dok" uapnya
"Baiklah kalau begitu kami pamit pulang" saut pak Arman lalu beranjak dari kursinya dan mengulurkan tangan pada dokter Tomi
"Baiklah pak, semoga cepat sehat kembali" jawab dokter Tomi lalu menerima uluran tangan pak Arman
Lia dan pak Arman pun keluar dari ruangan itu.
Lia mengantar pak Arman ke mobil terlebih dahulu sebelum ia menebus obatnya.
Setelah itu mereka pun pulang.
Di perjalanan pulang pak Arman selalu tersenyum sambil melihat ke luar jendela betapa indahnya pemandangan di sana.
Lia senang karena melihat senyuman kembali merekah di bibir papa mertuanya itu
__ADS_1
"Apa yang membuat papa begitu senang hari ini?" Tanya Lia
Pak Arman menoleh pada Lia lalu tersenyum padanya
"Bagaimana tidak, kau dengar sendiri bukan apa kata Tomi barusan"
Lia tersenyum lalu mengangguk, karena apa yang dokter Tomi katakan barusan cukup membuat lega.
"Aku juga bahagia pa, semoga dengan papa rutin kontrol dan minum obatnya papa bisa sembuh total" saut Lia
Pak Arman mengangguk dan tersenyum pada Lia.
Lia lalu mengambil hp nya dan mengirim pesan pada Lucas untuk mengabarkan hasil dari pemeriksaan kontrol pak Arman hari ini.
Pak Arman kembali melihat pemandangan di luar jendela mobil.
Meski bibirnya tersenyum lebar sekana sedang bahagia namun berbeda dengan suasana hatinya.
Sebenarnya ada yang pak Arman sembunyikan dari pemeriksaan nya tadi di rumah sakit.
Hasil dari pemeriksaan pak Arman sama sekali bukan kabar baik, namun sebaliknya.
Setelah pulang dari rumah sakit di Singapura, pak Arman jarang meminum obat dari dokter.
Beliau minum obat hanya saat Lucas bertanya lalu mengambilkan obatnya.
Pak Arman sudah pasrah dengan takdirnya, jika beliau harus tiada dalam waktu dekat setidaknya ia sudah memiliki mennatu yang cantik, baik dan sangat menjaga Lucas dan dirinya.
Jika beliau meninggal, beliau tidak perlu lagi mencemaskan Lucas.
Pak Arman meminta dokter Tomi untuk menyuruh suster keluar karena beliau ingin berbicara 4 mata dengan dokter Tomi.
"Tolong katakan pada menantu ku kalau hasil dari pemeriksaan ku ini baik dan mengalami kemajuan. Juga bilang padanya kalau aku pasti akan sembuh" pinta pak Arman pada dokter Tomi
Dokter Tomi awalnya tidak mau melakukan itu, karena itu merupakan pelanggaran dari sumpah dokternya.
"Tidak mungkin pak, bagaimana mungkin saya memberikan kabar yang tidak sebenarnya pada keluarga pak Arman. Ini melanggar sumpah saya sebagai dokter"
"Tidak tidak, kamu tidak melanggar sumpah mu. Kamu hanya membantu orang tua ini untuk bisa lebih tenang menjalani akhir-akhir hidupnya bersama keluarga nya. Tolong Tomi, tolong bantu aku..."
Pak Arman terus memohon pada dokter Tomi agar mau mengatakan apa yang ia mau barusan.
Dokter Tomi terdiam dan masih terus berfikir.
"Aku janji rahasia ini hanya ada di antara kita, dan setelah aku tiada nanti rahasia ini sepenuhnya hanya kamu yang tau" ujar pak Arman
"Pak Arman kenapa berkata demikian?"
"Lalu apa yang harus aku katakan, tidaj ada obat yang bisa menyembuhka kanker ku ini, dan kau pun tau tahu betul itu. Jadi, tolong. Katakan apa yang aku mau, aku akan sangat berterima kasih pada mu saat menantu ku tersenyum karena apa yang kamu sampaikan nanti"
Dengan berat hati dan terpaksa dokter Tomi akhirnya mau melakukan apa yang pak Arman pinta.
Dokter Tomi lalu memanggil susternya untuk kembali masuk dan menyuruhnya untuk mempersilahkan Lia masuk.
Seperti yang pak Arman harapkan, dokter Tomi mengatakan bahwa pak Arman baik-baik saja dan mengalami kemajuan positif.
Kabar itu membuat Lia langsung tersenyum karena bahagia.
Pak Arman pun tersenyum dan terlihat jelas dari matanya bahwa ia sangat berterima kasih pada dokter Tomi.
__ADS_1
Pak Arman kini busa tersenyum lega, meski ini hanyalah kebohongan setidaknya m ia bisa membuat anak dan menantunya tidak lagi khawatir dan selalu mencemaskan dirinya.
*****
Setelah selesai dengan semua pekerjaan nya di kantor Lucas bersiap untuk pulang.
Lucas melihat arloji di tangannya kini sudah menunjukkan pukul 2.15.
Lucas keluar dari ruangannya dan hendak pulang, namun saat Lucas baru membuka pintu nya tak sengaja tubuhnya berpapasan dengan Romi yang hendak masuk.
Lucas mengerutkan dahinya sambil menatap Romi dengan heran.
Romi memundurkan dirinya lalu meminta maaf pada Lucas
"Maaf tuan, saya tidak sengaja" kata Romi
"Apa yang membuat mu hingga ceroboh seperti ini?" Tanya Lucas
"Di luar sedang banyak media yang hendak mewawancarai tuan" jawab Romi
Lucas sedikit terkejut karena dia memang sudah biasa di wawancara, namun yang membuat aneh adalah saat ini dia dan perusahaan tidak sedang melakukan apa-apa yang membuat nya harus perlu di wawancara.
"Kenapa ada media, siapa yang mengundang mereka?"
"Saya tidak tahu tuan, tapi sepertinya kali ini bukan lah wawancara seperti biasa nya"
Lucas mengangkat alisnya dan menatap Romi dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa maksud kamu"
"Saya sempat mendengar kalau mereka datang kemari karena ingin mencari informasi tentang masalah pribadi tuan" jelas Romi
"Masalah pribadi ku? Bagaimana mungkin"
"Kalau tidak salah saya juga mendengar salah satu dari mereka mengatakan kalau tuan melakukan kumpul kebo bersama nona Lia"
Lucas membuka matanya lebar-lebar karena terkejut dan menatap Romi dengan tatapan mematikan.
"Maaf tuan jika perkataan saya membuat tuan marah" ucap Romi
Romi lalu menunjukkan hp nya bahwa kabar tersebut sudah ramai di perbincangkan di media sosial.
Lucas mengepalkan tangannya karena ia mulai marah.
Bagaimana tidak, berani-beraninya media menaikkan rumor yang bukan-bukan tentang dirinya.
Sisil tiba-tiba datang dengan wajah yang panik menghampiri Lucas.
"Maaf tuan, saya dari tadi mendapat telfon dari beberapa klien perusahaan kita" ucapnya
"Ada apa mereka menelefon?" Tanya Lucas dengan datar dan wajahnya yang mulai dingin dan menyeramkan
"Beberapa klien kita menelfon dan ingin mengonfirmasi dari kebenaran rumor tentang tuan yang tesebar saat ini.
Bahkan beberapa dari klien kita mengancam akan membatalkan kerja sama secara sepihak jika rumor itu benar adanya" jelas Sisil
Mendengar itu lucas tak lagi bisa menahan amarahnya
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menunjukkan lantai bawah dan akan menghadapi media di sana.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️