
Hampir setengah jam Lucas berdiri di depan UGD menunggu istrinya yang tak kunjung siuman.
Dokter tidak membolehkan siapapun masuk sebelum pasien sadar.
Lucas mulai terlihat pasrah dan duduk di kursi dengan menekuk wajahnya.
Elda duduk di sampingnya dengan memegang pundaknya
"Kak, kakak yang sabar. Lia pasti akan baik-baik aja"
Romi tetap menunggu di depan kamar pak Arman sambil memerintahkan anak buahnya untuk terus mengawasi seseorang.
Tak lama perawat mendatanginya dan meminta izin untuk memindahkan pak Arman ke ruang ICU.
Romi segera menghampiri Lucas untuk memberi tahunya.
"Kakak pergilah biar aku yang tetap di sini jagain Lia"
kata Elda
"Aku titip Lia" ucap Lucas lalu pergi bersama Romi.
Pak Arman harus di pindahkan ke ruang ICU saat ini juga, Lucas hanya bisa pasrah karena semua demi kesembuhan papanya meski itu kemungkinannya hanya 10-20% saja.
Lucas berdiri di depan jendela kaca memandangi papanya di dalam yang sedang di pasangi berbagai macam alat medis oleh dokter.
__ADS_1
Seketika bayangan tentang masa kecilnya dulu terlintas di benaknya.
Saat ia sakit waktu kecil dulu pak Arman tidak pernah meninggalkannya sedetik pun, beliau selalu di sampingnya setiap saat bahkan hingga rela kehilangan proyek kerjanya demi menungguinya.
Bulir bening hendak keluar dari kelopak matanya namun Lucas langsung menyekanya, bagaimana pun tangisannya saat ini tiada arti.
Ia harus kuat agar energinya tersampaikan pada yang tersayang.
1 minggu kemudian pak Arman masih tetap di ruang ICU, Lucas dan Lia tetap setia menunggu dan berharap akan adanya keajaiban untuk kesembuhan papanya.
Dika dan istrinya pun kini juga ada di rumah sakit menemani mereka.
Siang itu Lucas mengajak Lia keluar dari rumah sakit untuk mencari makan juga untuk menghirup udara segar agar bisa sedikit mengurangi stres dan sesak di dada.
Setelah makan Lucas berencana untuk mengantar Lia pulang, ia tidak mau Lia kembali kelelahan dan kondisi nge drop seperti kemarin.
Setelah membukakan pintu mobil untuk Lia Lucas langsung menjawab telfon nya.
"Ada apa paman?" tanya Lucas
"Kamu dimana sekarang Lucas, cepat kemari. Kakak kritis" kata Dika dari seberang telfon
Deg...
Seketika Lucas merasakan sakit di dada nya seperti ada yang memukulnya.
__ADS_1
Dengan matanya yang tercengang Lucas mengepalkan tangannya, tanpa sepatah kata pun Lucas memutus telfonnya, masuk ke mobil dan langsung mengemudi dengan cepat.
Lia bingung karena Lucas masuk ke dalam mobil sudah dengan raut wajahnya yang panik dan tegang.
Ia bahkan juga mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga membuat Lia takut.
"Mas... Kamu kenapa mas? Ada apa, kenapa kamu seperti sedang tegang begini? Siapa yang menelfon mu barusan"
"Kita harus cepat ke rumah sakit!" jawabnya singkat
"Rumah sakit? Papa kenapa mas?"
Lucas tidak menjawab dan memilih untuk tetap fokus menyetir.
Meski penasaran Lia mencoba diam karena dia tidak ingin mengganggu fokus suaminya dalam mengemudi.
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ruang ICU, di depan kamar pak Arman Dika dan istrinya menunggu dengan raut wajah yang begitu panik.
"Paman, bibi, bagaimana papa? Apa kata dokter?"
"Lucas, Lia untung kalian datang cepat. Kak Arman tiba-tiba saja langsung kejang sampai saat ini dokter masih belum selesai" jelas Dika
Mereka hanya bisa melihat dari luar kaca bagaimana dokter sedang berusaha di dalam.
Rasa panik, khawatir dan cemas bersatu menjadi satu.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️