
“Ayo, kita keruang rapat sekarang! Agar urusan kantor cepat selesai dan kita bisa segera pergi kebutik.” Ujar Rayden lagi yang mengingatkan Zhia mengenai fitting baju pengantin yang semalam sudah mereka rencanakan.
“Hmmm,….Ayo, Ray!” sahut Zhia yang melepas pelukkannya pada Rayden.
“Will, suruh semua peserta rapat untuk bersiap! Aku akan segera kesana setelah semuanya berkumpul!” Perintah Rayden pada sekertarisnya Will.
“Lalu Tuan dan Nyonya mau kemana?” tanya Will yang penasaran.
“Tentu saja menunjukkan ruanganku pada istriku ini. Dasar manusia tidak peka!” sahut Rayden dengan ekspresi dinginnya.
“Ayo, sayang! Biar aku tunjukkan seperti apa ruanganku selama ini!”
Dengan perubahan yang sangat cepat, Rayden beralih bersikap manis jika sudah berbicara dengan istrinya tercinta.
“Maaf, Tuan Evan dan semuanya! Saya pamit pergi dulu!” ucap Zhia pada Evan dan yang lainnya dengan sangat sopan.
“Sabar, Will! Beruntung, kau masih dianggap sebagai manusia oleh Tuanmu itu!” gumam Will pada dirinya sendiri, menatap kepergian Tuan dan Nyonya mudanya dengan hati yang terluka.
Rayden pun segera menggandeng tangan Zhia untuk mengikutinya keruangan Ceo yang selama ini menjadi tempatnya bekerja.
Rayden tidak mempedulikan pembicaraan orang-orang yang terus saja menjadikan dirinya dan Zhia yang menjadi topik utamanya.
Namun, jika pembicaraan tersebut sudah melebihi batas yang ditetapkan oleh Rayden seperti menghina Zhia dan Si kembar.
Maka orang tersebut harus bersikap akan resikonya yang pastinya Rayden tidak akan membiarkannya dengan mudah.
“Nikmati saja kebahagiaanmu ini sekarang! Karena tidak lama lagi aku akan menghancurkannya darimu!” batin Evan yang menatap kepergian Rayden dan Zhia penuh dendam.
“Tuan, bisa tidak setelah ini kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi selama anda berada disini?” pinta Jayden yang membuyarkan lamunan Evan.
“Dasar kau ini!”
Bukannya menjawab, Evan ingin sekali memukul wajah Jayden saat itu juga. Beruntung saja, karena saat ini sedang banyak orang disekitar mereka.
Setelah menunjukkan ruangan pribadi miliknya, Rayden pun mengajak Zhia untuk mengikuti rapat mengenai program IT yang sedang berjalan itu.
Mungkin Zhia kan tertarik dengan rapat itu, karena sebelumnya Qhelfin Group diwakili oleh dirinya sendiri dan sekarang Evan serta Jayden yang menjadi perwakilan menggantikan Zhia.
Saat rapat sedang berjalan, Rayden memanggil Will untuk mendekat padanya sambil membisikkan “Bagaimana dengan hasil introgasi kalian semalam?”
“Sesuai kecurigaan kita selama ini, Tuan! Jaydon memang ketua klan Tiger Dark yang baru tapi ada seseorang yang mengendalikannya. Hanya itu yang kami dapat dari introgasi semalam, Tuan!”
Will pun menjelaskan semua hasil laporan pekerjaannya dengan Levi, tapi dengan cara saling berbisik satu sama lain.
“Siapa? Kau mendapatkan namanya, bukan?” tanya Rayden yang semakin penasaran dengan orang tersebut.
“Jika ingin mengetahui siapa orang itu, maka kita harus menangkap yang namanya Jaydon dulu, Tuan!” sahut Will.
__ADS_1
“Kalau begitu tangkap dia secepatnya!” ujar Rayden penuh penekanan.
“Baik, Tuan!” sahut Will, kemudian dia pun kembali pada posisinya yang sebelumnya.
Rayden pun menyadari bahwa percakapan antara dirinya dan Will terus diperhatikan oleh Evan dan Jayden, meskipun tatapan Zhia yang paling mendominansi. Rayden dan yang lainnya melanjutkan rapat sampai selesai.
...****************...
Disisi lain, terlihat rumah kecil serba bewarna putih dan kayu. Tampak jelas seorang pria berada didalam rumah itu bersama dengan seorang wanita.
Wanita itu terlihat sedang menangis dan memohon agar dilepaskan oleh pria itu. Namun sayangnya, pria itu terlihat tidak memiliki perasaan sedikitpun.
Melihat wanita itu menangis tidak berdaya dengan tubuh yang dipenuhi luka, tidak bisa membuat hati pria itu tergerak sedikitpun. Bahkan pria itu selalu tersenyum melihat wanita itu menangis disertai rintihan kesakitan.
“Paman Evan! Mamah?” seru Lucia dengan airmatanya yang sudah menangis melihat kejadian itu.
Benar sekali, pria itu adalah Evan. Sementara wanita yang menangis dipenuhi luka adalah Zhia, mamahnya si kembar. Dan sekarang Lucia sedang berada dialam mimpinya, lebih tepatnya mimpi terburuknya.
Didalam mimpinya Lucia melihat bagaimana Evan menyiksa mamahnya tanpa belas kasih sedikitpun. Memukul, menendang menjambak bahkan tanpa segan Evan menggunakan pisau untuk membunuh Zhia secara perlahan.
“Mamahhhh,……….Cepat lari!”
Lucia berusaha berteriak sekencang-kencangnya, meminta mamahnya untuk segera melarikan diri dari sana.
Saat ini Lucia melihat Evan datang dan berjalan menghampiri mamahnya dengan membawa senapan yang sering digunakan oleh pemburu.
Teriak Lucia sembari memohon pada Evan, tapi sepertinya teriakkannya tidak terdengar sama sekali oleh Evan dan mamahnya.
Saat ini, Evan sudah berdiri tepat didepan Zhia. Dengan tatapan tajamnya, Evan mengarahkan senapan itu kearah Zhia yang terbaring dilantai.
Dan tepat sebelum Evan menarik pelantuknya dengan susah payah Zhia berhasil berdiri dan hendak berlari untuk melarikan diri dari Evan.
“Tidak, mamah! Luci mohon biarkan mamah pergi, paman Evan! Huhuhuuu,…”
Lucia yang menyadari Evan sedang mengunci keberadaan Zhia, dia segera berdiri ingin menghadang pelurunya dengan menggunakan tubuhnya sendiri.
Dorr,……Dorrrr,…..Dorrrrrr,………
Tiga peluru melesat begitu saja menembus kepala Lucia dan bersarang didalam tubuh Zhia.
Meskipun ketiga peluru itu melesat menembus kepalanya, Lucia tetap tidak merasakan sakit sedikitpun.
Seperti suara teriakkannya yang tidak terdengar, tubuh Lucia juga transparant tidak dapat terlihat oleh Evan mapun Zhia.
Seketika perasaan Lucia menjadi tidak enak, tubuhnya sudah gemetar ketakutan. Perlahan Lucia membalikkan tubuhnya kebelakang untuk memastikan keadaan mamahnya.
Kaki Lucia seketika terasa lemas, dia pun jatuh terduduk di tampatnya sembari berlinangan airmata. Mamahnya kini telah terbaring dilantai dengan banyaknya darah segar yang keluar dari tubuhnya akibat luka dari tembakkan itu.
__ADS_1
“MAMAAHHHH,….!”
Lucia berteriak dengan frustasi dan akhirnya mimpi buruknya itu berakhir. Lucia langsung terbangun dari tidurnya sambil menangis, dia melihat kesekelilingnya.
Lucia sedikit merasa lega saat menyadari dia berada dikamrnya sendiri, tapi dia harus memastikan mamahnya sekarang masih baik-baik saja atau tidak.
“Jadi, semalam kamu tidur dengan mamah dan papah tanpa kakak?” ujar Luca dengan perasaan sedikit kecewa, karena Lucia tidak mengajak dirinya sekalian.
“Maaf, kak Luca! Luci tidak kepikiran saat itu, yang ada di pikiran Luci cuma memastikan keadaan mamah!” jelas Lucia dengan sejujur-jujurnya.
“Karena itulah, Kak! Ayo, segera kita cari tahu tentang paman Evan! Luci tidak mau kalau mimpi buruk Luci malah jadi kenyataan!” lanjut Lucia lagi yang semakin mendesak pada Luca untuk segera melaksanakan rencana mereka yang seblumnya.
“Iya, kak Luca juga ingin segera menyelesaikan kecurigaan kita pada paman Evan! Tapi masalahnya harus ada papah atau Grandpa serta Grandma kalau kita ingin berkunjung kerumah paman Evan.” ujar Luca yang kembali mengingatkan pesan Grandmanya sebelumnya.
“Papah selalu sibuk dengan pekerjaan kantornya. Grandpa dan Grandma sekarang sedang sibuk menyiapkan pesta. Jadi, bagaimana rencana kita akan berhasil kalau begini?”gerutu Lucia dengan wajah cemburutnya.
“Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan papah saja?” usul Luca yang entah kenapa dia merasa bahwa tujuan mereka dengn papahnya itu sama.
“Kak Luca yakin papah akan setuju dan mendukung rencana kita? Kalau tidak nanti Luci lagi yang kena, bisa-bisa papah akan melarang keras Luci memasuki ruang latihan lagi.” sahut Lucia yang merasa tidak yakin dengan usulan dari kakaknya.
“Kali ini kak Luca sangat yakin bahwa papah pasti bersedia untuk saling bekerja sama! Lagian kalau papah melarang, kita gunakan mamah saja untuk mengancam papah!” ujar Luca yang mendapatkan ide lain untuk mendukung rencananya.
“Kak Luca benar juga! Ayo, kita bicara dengan papah setelah pulang nanti!” sahut Lucia yang tampak sedikit ceria dibandingkan sebelumnya.
“Kau sudah tidak takut kalau papah akan melarangmu keruang latihan lagi?” ujar Luca yang sengaja ingin menggoda adik kembarnya itu.
“Iiiihhhh,….Kak Luca gimana ‘sih?”seru Lucia dengan kesalnya.
Bersambung.......
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
__ADS_1
Terima kasih All!😙😘😚