Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Tamu Tidak Diundang


__ADS_3

“Iya, Pah! Zhi akan selalu mengingatnya dengan baik.” sahut Zhia yang tidak ingin papah dan mamah mertuanya itu menjadi khawatir mengenai keadaannya.


“Ingat, jangan memaksakan dirimu sendiri Zhi!” Julia ikut menekankan.


“Kalau begitu papah ahrus mengurus mengenai keaman saat pesta berlangsung nanti. Papah tidak ingin ada celah lagi seperti sebelumnya sampai Zhi terluka seperti itu.” ujar Noland yang segera beranjak untuk mengatur keamanan yang paling kuat agar musuhnya tidak bisa masuk ke acara pesta yang pastinya akan dihadiri banyak orang.


“Papah mau kemana?” tanya Zhia dengan wajah bingungnya.


“Mengurus dan memastikan semua persiapan pesta resepsinya berjalan lancar atau tidak, Zhi! Tenang saja, papah yang akan mengurus semuanya. Kamu dan mamahmu ini bersantai saja dirumah!” ujar Noland yang berniat untuk mengunjungi markas besar klan mafia.


“Hati-hati dijalan, Pah!” sahut Julia yang pastinya mengerti kemana tujuan suaminya pergi itu.


Sebab dari awal Julia sudah mengetahui bahwa suaminya itu adalah seorang ketua mafia, bahkan dia juga tahu bahwa Rayden mewarisi posisi dari suaminya itu. Noland pun mencium dan memeluk istrinya dulu sebelum dia pergi.


“Kalian baik-baik ‘yah dirumah! Papah akan segera kembali.” ujar Noland pada Julia dan Zhia yang berniat mengantarnya sampai dihalaman depan.


Akan tetapi, Noland segera menolaknya.


Tak lama setlah kepergian Noland, seorang pengawal tiba-tiba datang menghampiri Julia dan Zhia yang masih berada diruang tamu.


Pelayan itu mengatakan bahwa ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Zhia sekarang dan orang itu saat ini sedang menunggu didepan gerbang.


“Nyonya, ada seorang pria yang ingin menemui Nyonya muda. Dia sekarang sedang menunggu didepan gerbang, karena belum mendapatkan ijin masuk!”


Pelayan itu menyampaikan apa yang dia dapat dari penjaga gerbang yang bertugas berjaga sekarang.


“Siapa namanya?” sahut Zhia yang menjadi sangat penasaran, siapa orang itu.


“Namanya Tuan Evan Joseph, Nyonya!” Pelayan itu pun memberitahunya.


Zhia tampak sangat terkejut ketika mendengar kabar kedatangan Evan yang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Apalagi ini adalah kediaman suaminya Rayden, Zhia merasa tidak enak kepada mamah mertuanya jika dia menerima kedatangan Evan disaat Rayden tidak ada.


Disatu sisi, Zhia juga akan merasa tidak enak jika menolak dan menyuruh Evan pergi begitu saja tanpa menemui terlebih dahulu.


Zhia kini berada didalam dilema yang sangat rumit antara Rayden suaminya dan Evan malaikat penolongnya.


“Biarkan orang itu masuk!” perintah Julia pada pelayan tadi, dia menyadari bahwa menantu kesayangannya itu sedang dilanda kebingungan.


“Baik, Nyonya!” sahut pelayan itu yang bergegas melaksanakan perintah dari majikannya.


“Mamah!”


Zhia tidak menyangka bahwa Julia membantunya membuat keputusan.


“Tidak apa, Zhi! Cano tidak akan marah selagi mamah yang mengijinkan dia masuk.” ujar Julia menenangngkan Zhia.


Mendengar penjelasan dari mamah mertuanya, Zhia pun kembali merasa tenang. Bukannya Zhia merasa takut dengan kemarahan Rayden, tetapi dia hanya sadar diri bahwa dirinya sekarang adalah seorang istri yang artinya dia tidak bisa sesuka hatinya menemui pria lain tanpa sepengetahuan dari suaminya.


“Zhi,_.....” seru Evan begitu memasuki ruang tamu dan melihat Zhia sedang duduk disana.

__ADS_1


Sebenarnya Evan ingin segera menghampiri dan memeluk tubuh Zhia seperti biasanya. Akan tetapi, perkataan dari Julia berhasil menghentikan niatnya.


“Selamat datang dikediaman kami, Tuan Evan!” ujar Julia menyadarkan Evan bahwa saat ini dia sedang berada di tempat orang lain.


“Apa kau tidak mau menyapaku terlebih dahulu atau kau tidak berniat menunjukana rasa hormatnya padaku sebagai pemilik rumah ini.” Lanjut Julia yang menyindir Evan secara tidak langsung.


“Maafkan atas kelancangan saya, Nyonya Julia!”


Evan hanya bisa mengalah dan mengakui kesalahannya karena tidak menghiraukan keberadaan Julia disana.


“Kedatangan saya kesini hanya ingin melihat dan memastikan keadaan Zhia, apakah sekarang sudah baik-baik saja atau tida?” lanjut Evan yang langsungbmengutarakan maksud dan tujuannya datang ke kediaman Rayden secara langsung.


“Evan, aku,_........”


“Kau sudah melihatnya, bukan? Menantuku sangat baik sekarang, kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Karena suaminya selalu menjaga dan merawatnya dengan sangat baik.”


Julia segera memotong perkataan Zhia, terlihat jelas dimata Julia bahwa dia sangat tidak menyukai Evan.


“Syukurlah, kalau Zhia-ku sudah membaik sekarang!” sahut Evan dengan penuh penekanan.


Zhia langsung tercengang mendengar perkataan Evan yang diluar dari biasanya itu.


Sementara Julia hanya menanggapinya santai sambil tersenyum sinis pada Evan. Tidak pernah Julia duga bahwa pria bernama Evan sangat berani menantangnya secara langsung.


“Bukankah tujuan datang kesini sudah tercapai? Kenapa kau berada disini?” ujar Julia yang mengusir Evan secara langsung bahakan sempat menyindirnya.


Zhia menjadi semakin bingung sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Evan saat ini. Kenapa Evan belakangan ini telihat sangat berbeda dari Evan yang biasanya.


“Beginikah cara Nyonya besar Xavier dalam menyambut tamunya?” ujar Evan yang secara langsung menyindir etika Julia dalam menerima tamu.


“Tentu saja, ini adalah cara menyambut tamu yang tidak diundang seperti anda Tuan Evan!” ujar Julia yang tidak mau kalah dengan sindiran dari Evan.


Evan pun tidak dapat berkata apapun lagi, karena kedatangannya memang tidak diundang oleh Zhia ataupun keluarga Xavier.


Perdebatan antara Julia dan Evan semakin memanas, bahkan atmosfer diruangan itu sudak terasa sangat tidak nyaman lagi.


Namun suasana tidak nyaman itu seketika menghilang saat kedatangn si kembar Luca dan Lucia disana.


Julia pun merasa sangat tidak senang, karena Evan tertahan oleh si kembar disana. Padahal Julia sudah bersusah payah mencari alasan untuk mengusir Evan.


“Paman Evan!” seru Luca dan Lucia yang tampak sangat senang dengan kedatangan Evan.


Mereka bahkan berlari menghamburkan tubuh mereka memeluk Evan dengan eratnya.


“Hay, my twins! Bagaimana kabar kalian berdua selama ini?” tanya Evan sembari membalas pelukan kedua anak kembar itu.


“Kabar Luci sangat baik. Bagaimana dengan kabar paman Evan?” ujar Lucia dengan wajah polos dan senyuman manisnya.


“Paman juga baik-baik saja!” sahut Evan singkat.

__ADS_1


“Bagaimana dengan tangan paman? Sudah sembuh?” ujar Luca yang terus menatap tangan kanan Evan yang masih terbaluk oleh perban.


“Belum, sebentar lagi juga sembuh sendiri!” ujar Evan yang menatap tangannya yang terluka.


“Luci sangat kangen dengan paman Evan! Kapan kita bisa pergi ke taman bermain lagi, Luci pengin naik bianglala!” seru Lucia yang bergelayut manja pada Evan.


“Luci, biarkan paman Evan duduk dulu!” ujar Luca mengingatkan adik kembarnya yang terus bergelayut manja tanpa memperdulikan situasi.


“Hehehehee,…..Maafkan Luci, Paman!” ucap Lucia sembari tersenyum dengan manisnya.


Si kembar Luca dan Lucia pun segera mengajak Evan untuk duduk disalah satu sofa yang ada disana.


Julia menatapnya dengan perasaan tidak suka, sementara Zhia hanya dia memperhatikan raut wajah yang ditunjukkan oleh Julia dan juga Evan. Zhia bingung harus berbuat apa dalam menghadapi situasi ini.


“Paman! Sekarang paman tinggal disini ‘yah?” tanya Lucia yang memeulai aksinya dengan sangat natural.


“Iya, tapi hanya untuk sementara waktu saja sampai proyeknya selesai. Karena mamah kalian sekarang sudah mundur dari pekerjaannya, makanya paman yang akan menanganinya untuk sementara.” Ujar Evan yang menjelaskan situasinya sekarang.


“Benarkah? Kalau begitu sekarang paman tinggal dimana? Apakah rumah paman lebih bagus dari rumah papah Luci ini?” ujar Lucia yang memamerkan kehebatan papahnya dengan menggunakan wajah polosnya.


“Tidak, Luci sayang! Rumah papah Luci lebih bagus dibandingkan rumah yang paman tempati untuk sementara disini!" sahut Evan yang terus menjawab semua pertanyaan Lucia tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


“Luca jadi ingin main kerumah paman Evan seperti sebelumnya! Bolehkan kami pergi mengunjungi rumah paman?” Kali ini Luca mulai ikutan bergelayut manja.


“Boleh ‘yah, Paman! Luci sangat ingin tahu bagaimana rumah paman yang sekarang. Boleh ‘yah, paman! Boleh ‘yah?”


Lucia memasang raut wajah memelas andalannya, membujuk Evan untuk segera menyetujui permintaannya.


Bersambung..............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2