
Disaat Will sibuk mempersiapkan semua untuk konferensi pers besok, Rayden malah sibuk menggoda calon istrinya itu bersama anak kembarnya.
Sementara Noland dan Julia sibuk berduaan layaknya sepasang pengantin baru didalam kamarnya.
Sekarang kamar Zhia dan si kembar pindah dikamar utama yaitu kamar pribadi yang selama ini dipakai oleh Rayden.
Rayden tampak sedang bermain-main dengan Luca dan Lucia yang kondisinya sudah sangat membaik itu, Zhia tampak terabaikan disana.
Zhia sudah mulai mencoba untuk menerima semuanya, terutama kehadiran Rayden dihidupnya. Tidak ada salahnya, dia mencoba membuka hatinya lagi untuk seorang pria.
“Papah, siapa orang-orang itu? Luca benar-benar takut bahkan sampai sekarang kalau teringat masih saja takut.” Ujar Luca yang membuka percakapan tentang orang-orang yang berniat membunuhnya itu.
“Ehmmm, mereka semua orang yang sangat jahat yang ingin menyakiti papah dan sekarang mereka bahkan berniat untuk menyakiti kalian dan mamah! Maka dari itu, kalian harus selalu berhati-hati saat bertemu orang asing terutama saat papah tidak berada disamping kalian. Kalian mengerti?” ujar Rayden yang tidak mau Zhia maupun anak kembarnya mengetahui tentang identitasnya sebagai ketua mafia.
Luca dan Lucia pun menganggukkan menandakan mereka sudah mengerti apa yang dikatakan papahnya itu. Zhia hanya memperhatikan mereka saja dalam diam.
“Baguslah, kalau kalian sudah mengerti!”
Rayden dengan gemasnya mencubit pipi chubby kedua anak kembarnya itu.
“Ouh, iya! Papah sedang mengatur kamar untuk kalian berdua, sesekali kalian datanglah untuk melihat. Apakah sudah sesuai dengan keinginan kalian apa belum, jika ada yang kurang beritahu saja pekerjanya.” Ujar Rayden yang teringat dengan dekorasi kamar yang sedang dia lakukan untuk Luca dan Lucia.
“Luci ingin kamar yang seperti sebelumnya, tapi yang lebih luas dan banyak lagi posternya!” seru Lucia yang langsung antusias begitu teringat dengan poster kesukaannya itu.
“Baiklah, akan papah sampaikan pada mereka untuk memasang poster kesukaan Luci sampai memenuhi dinding.” Sahut Rayden yang lagi-lagi menowel hidung Lucia dengan gemasnya.
“Papah, bagaimana dengan computer baru Luca yang berada dirumah sebelumnya?”
Luca pun teringat dengan computer kesayangannya itu.
“Papah akan menyuruh orang untuk memindahkannya, begitu juga dengan semua piala yang kalian dapatkan selama ini.” Ujar Rayden yang akan mengatur segalanya dengan mudah, asalkan kedua anak kembarnya itu selalu merasa bahagia.
“Pah, Luci ingin lemari kaca yang lebih besar. Karena Luci akan mendapat piala lebih banyak lagi mulai sekarang.” Seru Lucia dengan penuh semangat 45.
“Hmmm, tidak! Papah akan siapkan ruangan khusus untuk menyimpan semua piala kalian. Jadi, jangan khawatir kalau perlu papah akan membuat Gedung baru khusus untuk menyimpan setiap piala yang kalian dapatkan.”
Rayden tentu saja tetap akan membangun Gedung baru untuk menyimpan semua prestasi yang diraih kedua anak kembarnya yang genius itu, kalau perlu dia akan membangun sebuah museum pribadi khusus untuk mereka.
“Ouh, yah! Bagaimana cara kalian membawa semua piala itu. Bukankah kalian mendapat semua piala itu saat tinggal di negara B?” tanya Rayden yang merasa penasaran, bagaimana mungkin piala sebanyak itu dibawa saat mereka tiba dinegara A.
__ADS_1
“Aku mengirimnya terlebih dahulu dengan menggunakan paket jalur laut sebelum kami kesini dan menyuruh orang untuk merapikan semuanya sebelum kami datang kenegara A.” sahut Zhia yang memberitahu bagaimana piala sebanyak itu bisa berada dikamar anak kembarnya.
“Ouh, jadi begitu! Aku sempat terkejut saat pertama kali melihatnya.” Ujar Rayden yang akhirnya sekarang mengerti, kenapa piala sebanyak itu bisa berada dikamar Luca dan Lucia.
Tetapi, tetap saja yang membuatnya terkejut adalah otak genius kedua anak kembarnya itu.
“Papah! Apakah papah juga menyiapkan kamar untuk adik bayi?” tanya Lucia dengan wajah polosnya.
Zhia pun seketika membulatkan matanya dengan sempurna, dia benar-benar sangat shock mendengar pertanyaan dari putri kecilnya itu.
Berbeda dengan Rayden yang tersenyum nakal sembari memperhatikan setiap inci tubuh Zhia.
“Apa kau lihat-lihat!” seru Zhia yang refleks menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut.
Rayden tertawa senang melihat tingkah Zhia yang seperti itu, bagaikan kelinci kecil yang sedang di incar oleh serigala buas.
“Kalian ingin punya adik bayi berapa?” tanya Rayden pada Luca dan Lucia yang langsung menghitung menggunakan jari kecil mereka.
Zhia pun langsung menendang Rayden dengan kesalnya, tapi Rayden hanya menanggapinya dengan senyuman saja.
“Luci ingin 5 adik bayi laki-laki, Pah! Luci ingin membuat sebuah grup khusus beladiri.” Ujar Lucia sembari menunjukan jumlah jari pada tangan kecilnya itu.
“Hahahahaa,… Oke, sayang! Kalau Luca mau berapa adik bayi?”
Berbeda dengan Zhia, Rayden malah tertawa bahagia mendengar permintaan putri kecilnya itu. Dia bahkan masih sempat-sempatnya menanyakan pendapat Luca.
“Satu adik baby boy saja, pah! Luca ‘kan sudah punya satu adik perempuan yang cantik seperti Luci.” Sahut Luca yang syukurnya masih normal tidak seperti Lucia.
Kalau Luca meminta seperti Lucia bisa kena serangan jantung Zhia saat mendengarnya.
“Sudah kalian semua pergi tidur sekarang! Tidak ada adik bayi untuk kalian, kalian berdua sudah cukup untuk mamah dan papah!” seru Zhia yang langsung menghentikan pembicaraan papah dan anak itu yang semaking ngawur saja.
“Zhi, bagaimana kalau satu anak lagi saja!” pinta Rayden layaknya anak kecil seperti Luca dan Lucia.
“Tidak ada! Cepat tidur, bukankah besok ada acara penting! Ray, cepat tidurkan Luca dan Luci. Awas kalau kalian besok terlambat bangun!” ancam Zhia pada Rayden dan juga kedua anak kembarnya.
"Zhi, Ayo kita buat satu adek bayi lagi untuk si kembar!" Rayden mencoba membujuk Zhia dengan rayuan mautnya.
"Tidak! cepat pergi tidur sana." Zhia tetap kekeuh dengan keputusannya.
__ADS_1
"Mamah, Luci pengin adek bayi!" Lucia pun ikut membambantu papahnya membujuk.
"Tidak, sayang! Atau kalian ingin kembali ke rumah kita sekarang!" Kali ini, Zhia benar-benar membuat Rayden dan anak kembarnya langsung terdiam.
"Husshh,...Sudah, jangan bangunkan singa tidur! Ayo, kita tidur saja!" ujar Rayden pada kedua anak kembarnya, tetapi Zhia mendengar perkataan Rayden yang menyebutnya sebagai singa.
"Apa kau bilang, Ray?"
Zhia langsung menatap tajam pada Rayden. Benar-benar papah dan kedua anak kembarnya itu membuat Zhia naik darah.
Ingin sekali, Zhai mendupak Rayden keluar dari kamar. Akan tetapi, Zhia tahu pasti Luca dan Lucia akan membela papahnya itu dengan mati-matian.
"Tidak ada, sayang! Kami akan pergi tidur sekarang juga." sahut Rayden dengan senyuman yang dipaksakan.
Rayden segera mengajak kedua anak kembarnya untuk pergi tidur, Luca dan Lucia menjadikan lengan Rayden sebagai bantal.
Mereka berdua pun akhirnya tidur sembari memeluk papahnya, sementara Zhia tidur membelakangi mereka bertiga.
Bersambung..........
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚
__ADS_1