Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Sambutan Hangat


__ADS_3

Puas menertawakan papahnya, Rayden pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Padahal dirinya sendiri juga pernah hampir dikalahkan oleh Luca, putranya sendiri. Tapi Rayden malah masih bisa menertawakan orang lain.


Masalah mengenai kemampuan Luca dan Lucia akan Rayden pikirkan nanti. Karena focus utama Rayden sekarang adalah memastikan siapa ketua klan Tiger Dark yang sebenarnya,.


Apakah benar orang yang bernama Jaydon Carson itu atau ternyata ada orang lain yang hanya menjadikan Jaydon sebagai ketua boneka.


Dan yang lebih penting lagi, memastikan Evan dan Jay yang dimaksud oleh si kembar. Evan yang pergerakannya sangat mencurigakan ditambah lagi nama lengkap Jayden hampir sama persis dengan nama ketua klan musuhnya. Hanya berbeda di huruf E dan O saja serta wajahnya.


Apalagi mengingat Evan dan Jay sangat dekat dengan Zhia beserta anak kembarnya. Rayden tidak mau kalau Evan dan Jay adalah musuh dalam selimut yang akan membuat nyawa Zhia dan anak kembarnya menjadi berada dalam bahaya besar.


Karena musuh terbesar dan terkuat adalah musuh yang tak dapat dia diperkirakan. Sebab mereka bisa menyerang kapan saja pada kita, sedangkan saat kita ingin membalas serangan itu kita tidak tahu harus membalasnya kearah mana kita harus menyerang.


Dan yang paling penting diantara semua masalah yang dihadapi Rayden sekarang adalah dia harus segera menyelesaikan semua pekerjaan kantornya agar bisa pulang secepatnya.


Rayden pun bekerja sangat keras hingga semua pekerjaan kantornya selesai lebih cepat dari perkiraannya.


“Tuan, anda akan pulang sekarang?” tanya Will yang baru saja melihat Rayden keluar dari ruangannya.


“Ouh, Will! Bagaimana? Kau sudah berhasil mengurusnya, bukan?” tanya Rayden yang teringat dengan mata-mata yang dia curigai itu.


“Maaf, Tuan! Kami hanya menemukan mayat mereka, sepertinya mereka langsung melakukan bunuh diri!” ujar Will yang tampak murung hanya denga dilihat dari wajahnya saja.


“Ya, sudah! Mau bunuh diri atau aku bunuh hasilnya sama saja, bukan? Mereka sama-sama pasti akan mati.”


Rayden hanya menanggapinya dengan santai, karena dia sudah tahu bahwa ketua klan musuh yang sekarang lebih cerdik dan lebih sulit untuk dihadapi.


“Tu-tuan tidak marah?” tanya Will yang menatap bingung pada Tuannya itu.


“Jangan konyol, Will! Aku sudah memperkirakan dari awal bahwa ini akan terjadi.” Jawab Rayden masih dengan gaya santainya.


“Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kau laporkan. Pulang saja sana, aku juga akan pulang sekarang!” lanjut Rayden yang Kembali melangkahkan kakinya.


“Baik, Tuan! Hati-hati diperjalanan anda!” sahut Will yang segera membungkukkan badannya lagi sebelum Tuannya pergi.


...****************...


Sesampainya di manshion, ternyata bukan para pelayan yang menyambutnya melainkan kedua anak kembarnya yang sudah beberapa kali membuatnya terkejut hari ini.


“Yeaaahhh,………Papah sudah pulang!” seru Lucia yang berlari dan menghamburkan tubuhnya memeluk papahnya.


Sementara, Luca menyusul dibelakang adik kembarnya. Rayden pun tersenyum bahagia mendapat sambutan hangat dari kedua anak kembarnya yang sangat menggemaskan itu.


Rayden langsung menggendong tubuh mungil Lucia dengan mudahnya.


“Ouh,…Putri kecil kesayangannya papah!” ujar Rayden sembari mencium gemas pipi chubby Lucia.


“Papah, biar Luca yang bawakan tas kerjanya papah!” ujar Luca yang ingin meraih tas kerja yang dibawa oleh papahnya itu.


“Tidak perlu, sayang! Biar pelayan saja yang membawakannya.”

__ADS_1


Rayden segera menolaknya dengan halus, dia menatap seorang pelayan yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka seakan memberikan perintah melalui gerakan matanya.


Pelayan itu pun segera mendekat dan mengambil alih tas kerja Tuannya.


“Sini! Luca pegang tangan papah saja!”


Rayden kemudian meraih tangan kecil Luca, menggandengnya sembari menunjukan senyuman manisnya.


Luca yang tadinya cemberut, langsung membalas senyuman papahnya dan menerima uluran tangan papahnya dengan senang hati.


Rayden pun membawa kedua anak kembarnya masuk dengan posisi Lucia yang berada digendongannya, sementara tangan yang satunya menggandeng Luca.


“Luca senang papah bisa pulang awal!” ujar Luca dengan senyum bahagianya yang terlihat jelas melalui wajahnya.


“Benarkah?” ujar Rayden yang menatap Luca dan Lucia secara bergantian.


“Hmmm, Luci juga sangat senang! Papah sering-sering pulang awal ‘yah!” sahut Lucia yang sependapat dengan perkataan kakak kembarnya.


“Lalu dimana mamah kalian?”


Rayden yang belum melihat keberadaan Zhia sama sekali, akhirnya memutuskan untuk bertanya saja langsung pada kedua anak kembarnya.


“Itu mamah!” ujar Lucia yang menunjuk kearah ruang makan dimana Zhia dan Julia tengah menyiapkan makan malam.


Zhia dan Julia langsung menoleh kearah Rayden dan si kembar begitu mendengar suara Lucia.


Mata Rayden dan Zhia saling bertemu, detik berikutnya Zhia memberikan senyuman termanisnya pada Rayden sembari berkata “Kau sudah pulang, Ray?”


“Hay, jangan bengong terus entar kesambet ‘loh! Istrimu sedang bertanya ‘tuh?” ujar Noland yang tiba-tiba muncul belakang Rayden dan kemudian mengejutkan putranya yang sedang terpana melihat menantunya itu.


“Tentu saja sayangnya Grandpa! Sini, Grandpa gendong!”


Noland pun langsung meraih tubuh mungil Luca kedalam gendongannya.


“Cano, Ayo kesana! Kenapa masih bengong saja disini. Kau tidak mau ikut makan malam?” ujar Noland yang kembali menyadarkan Rayden dari rasa terpesonanya dia saat melihat Zhia.


“Grandpa, sepertinya papah sedang terpesona saat melihat mamah!” ujar Lucia disertai senyum jahilnya.


“Bicara apa ‘sih kamu anak kecil! Ayo, kita kesana sekarang!” sahut Rayden yang segera mengalihkan perhatian papahnya yang saat ini sedang manatapnya dengan intens.


Rayden kemudian berjalan ke meja makan sambil menggendong Lucia.


“Benar-benar putraku sedang di mabuk cinta sekarang!” gumam Noland yang masih saja memperhatikan Rayden.


“Apa papah mabuk, Grandpa?” tanya Luca dengan wajah polosnya.


“Iya, papahmu sedang mabuk! Jadi kalian jangan terus mengganggu kalau papah dan mamah kalian sedang berduaan agar mabuknya cepat hilang!”


Noland pun menjawabnya disertai kekehan kecil melihat reaksi polos menggemaskan Luca.


Luca pun menganggukkan kepalanya seolah dia mengerti dengan apa yang Grandpanya katakan tadi, padahal sebenarnya dia tidak mengerti sama sekali.

__ADS_1


“Tumben kamu pulang lebih awal, Cano?” tanya Julia saat melihat Rayden dan Lucia sudah duduk di kursinya masing-masing.


“Iya, Mah!” sahut Rayden dengan singkat dan tanpa ekspresi sedikitpun.


“Maklum, Mah! Cano kan masih pengantin baru yang bahkan belum pernah melakukan malam pertama dengan istrinya itu. Benar tidak, Zhi?” ujar Noland yang senang menggoda putranya dan sekaligus menantu kesayangannya itu.


“Apaan ‘sih, papah!” sahut Rayden dengan kesal.


Sementara wajah Zhia sudah memerah hanya karena mendengar perkataan papah mertuanya itu yang memang benar adanya.


Julia pun tersenyum melihat Zhia yang malu-malu seperti itu dan yang lebih membuatnya tertawa adalah melihat raut wajah putranya sendiri yang sedang sangat kesal itu.


“Udah ‘lah, Pah! Jangan bahas malam pertama terus! Kasihan Cano yang sudah sangat menahannya, Pah! Iya ‘kan, Cano!” ujar Julia yang malah ikut -ikutan menggoda Rayden seperti suaminya.


“Mamah sama saja dengan papah! Tidak ada bedanya sedikit pun, sangat cocok kalian berdua jadi pasangan suami istri! Suami istri yang bikin emosi anak-anaknya!” seru Rayden yang semakin bertambah kesala mendengar perkataan mamahnya itu.


“Hahahaa,….Kita berdua memang sangat cocok dan serasi! Buktinya setiap malam sudah seperti malam pertama. Iya ‘kan, sayang!” sahut Noland yang tertawa senang di atas penderitaan Rayden, sedangkan Julia hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya.


“Grandpa, malam pertama itu apa ‘sih?”


Pertanyaan tidak terduga keluar begitu saja dari mulut Lucia dengan ekspresi polosnya yang penuh tanya. Noland seketika mematung ditempat, dia benar-benar mendapatkan karmanya saat itu juga.


“Nah ‘kan! Silahkan dijawab, Pah!” sahut Rayden dengan cepat. Akhirnya datang juga karma untuk papahnya yang selalu saja membuatnya kesal itu.


“Memangnya papah sedang menahan apa ‘sih, Grandma?”


Belum selesai mencari cara menjawab pertanyaan dari Lucia, Luca malah menambah pertanyaan yang hampir sama susahnya untuk menjelaskannya.


Bersambung....................


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉



Nih Author semalam dapat pesan seperti melalui apk, email dan wa dari editor. Bisakah kakak yang cantik dan ganteng ini terus mendukung kisah Luca, Lucia, papah Rayden dan mamah Zhia?


Kalau sampai 'Anak Kembar Sang Mafia' masuk 5 besar dalam ranking popularitas dan yang lainnya. Author akan usahakan 'deh update tiap hari seperti minum obat and plus dikasih Visualnya papah Ray, Mamah Zhia dan yang lainnya. Gimana? Ada yang setuju?😉😉😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚

__ADS_1


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2