Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Sekalian!


__ADS_3

“Wahhahahaa,….Bisa barengan gitu ‘yah?” seru Will yang kembali tertawa dengan kekonyolan mereka berdua.


“Kita memang sehati kalau membahas soal beginian, Hahahaaa,….” sahut Levi yang juga tertawa dengan puasnya.


“Ouhya, ….Kita pergi menjenguk mereka ‘yuk?” ujar Will yang mengalihkan topik pembicaraan.


“Maksudmu Si Evan and the gang’s itu? Ogah ‘ah!” sahut Levi dengan tampang malas dan jijik.


“Bukan! Maksudku Nyonya Zhia, Tuan dan Nona kecil!”


Will pun memperjelas perkataannya daripada Levi salah tanggap lagi. Masa ‘iya, mereka mau menjenguk orang yang sudah mati. Mau pergi ke alam baka untuk menemuinya begitu.


“Boleh, mau sekarang atau besok?” sahut Levi dengan cepat, apalagi ini menyangkut Nona kecil kesayangannya.


“Besok saja! Kita selesaikan urusan yang disini terlebih dahulu.” ujar Will yang tidak pernah mengerjakan tugasnya setengah-setengah.


“Okay, besok jangan lupa kontak aku! Kita pergi bareng.” seru Levi penuh penekanan.


“Siap!” sahut Will.


Puas berbincang-bincang sampai dianggap seperti orang gila oleh para para polisi dan anak buahnya, Will dan Levi pun membantu yang lainnya agar malam itu pekerjaan mereka cepat selesai.


...****************...


Sedangkan dirumah sakit, Rayden yang sudah merasa sedikit tenang pun langsung menuju kekamar rawat istri dan anak kembarnya.


Sejenak airmatanya hampir berjatuhan lagi melihat sosok Zhia, Luca dan Lucia yang masih terbaring lemah diatas bangsal rumah sakit dengan selang infus yang ada ditangan mereka.


Sementara Noland berada dikamar rawat yang berada tepat disebelahnya untuk menjaga Julia.


Beberapa pengawal pun menjaga ketat didepan pintu selama 24 jam penuh dan tentu saja mereka berjaga secara bergantian.


Langkahnya terasa sangat berat saat Rayden hendak berjalan mendekati kedua anak kembarnya.


Rayden lama menatap putranya dengan dalam, kata-kata Dr. Ian terus terngian dikepala.


Sehingga Ryden tak dapat menahan airmatanya lagi, setetes airmata pun meluncur begitu saja melalui pipinya.


“Maafkan papah, sayang! Kau jadi seperti ini karena ingin menyelamatkan papahmu dan mamahmu yang tidak berguna! Maafkan papah, Luca! Hiks,…” ucap Rayden dengan suara lirihnya, kecupan hangat sang papah tidak lupa mendarat dikening dan kedua pipi chubbynya.


“Putri papah yang pemberani, Lucia!”


Senyuman tipis terukir dibibir Rayden, dia pun kemudian mengecup Lucia seperti yang dilakukan pada Luca.


“Papah harus memikirkan masa depan kalian mulai sekarang! Papah harus mengambil keputusan yang sangat sulit agar kalian berdua tidak melibatkan di dari bahaya lagi. Apapun keputusan papah nanti, percayalah semua itu demi kebaikan kalian berdua. Kalian berdua boleh membenci papah, asalkan kalian bisa terhindar dari bahaya seperti ini lagi! Papah sangat mencintai kalian berdua, karena itulah papah siap setiap saat kalau dibenci oleh kalian. Hikss,….”


Rayden menggenggam tangan mungil kedua anak kembarnya dengan erat, airmatanya seakan tidak bisa berhenti untuk mengalir membasahi wajahnya.

__ADS_1


Kini Rayden telah mengambil sebuah keputusan besar, Noland pun sudah menyetujuinya dan merasa bahwa memang ini yang terbaik untuk keluarga Xavier kedepannya.


Tatapan sendu Rayden pun beralih pada sosok Zhia, istri dan wanita yang paling dia cintai didunia ini.


Rayden melepaskan tangan kedua anak kembarnya dan berjalan mendekati Zhia yang belum sadarkan diri juga.


“Zhi, aku mendengar berita buruk tentang putra kita! Dokter mengatakan bahwa Luca kemungkinan besar akan mengalami trauma psikis setelah kejadain ini. Kau tenang saja! Aku janji Luca pasti akan sembuh, maukah kau membantuku merawat Luca? Hikss,…” ujar Rayden sembari menggenggam tangan Zhia dengan eratnya, menciuminya berkali-kali dengan penuh cinta dan kasih sayang.


“Kenapa harus kalian yang terbaring disini? Seharusnya aku, bukan kalian! Hikss,….”


Akhirnya tangis Rayden pecah dihadapan Zhia yang masih belum sadar, dia menangis terisak sembari menyalahkan dirinya sendiri terus menerus.


Hatinya tidak sekuat baja yang mampu bertahan untuk tetap kuat saat melihat orang-orang paling dia cintai terbaring lemah dibangsal rumah sakit.


Rayden pun membaringkan tubuhnya disamping Zhia setelah puas menangis, dia memeluk erat tubuh istrinya yang masih setia menutup matanya dengan selang infus dan oksigen ditubuhnya.


Rayden berusaha untuk ikut menutup mata dan terlelap, berharap memasuki alam mimpi yang sama dengan istri dan kedua anak kembarnya.


...****************...


Diruangan rawat Julia, Noland pun menceritakan semuanya yang terjadi di bekas kediaman rumah Sam Joseph.


Julia pun melakukan hal yang sama yaitu menceritakan semua yang terjadi di mansion milik Rayden terutama tentang kedatangan Jaydon.


“Apa yang terjadi pada cucu kembar kita, Pah? Kenapa mereka juga perlu dirawat disini? Aku sudah tahu tentang Zhia, tapi apa yang terkjadi pada Luca dan Lucia?”


Julia sebenarnya ingin sekali datang keruang rawat dimana menantu dan cucu kembarnya sedang dirawat sekarang, begitu mendengarnya dari salah satu pelayannya.


“Luca berhasil membunuh Evan, sebelum dia berhasil menembak Cano dan Zhia! Dan Lucia melihat langsung bagaimana Levi membunuh Jayden tepat didepan matanya! Karena itulah, kata dokter Luca kemungkinan besar akan mengalami trauma psikis yang cukup parah.”


Noland sekuat hatinya menahan airmata yang sudah dipelupuk mata saat mengatakannya.


Julia langsung menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya, airmatanya mengalir begitu saja dan seketika dadanya terasa sangat sesak.


Terkejut, tentu saja dia akan merasa sangat terkejut dengan apa yang baru didengarnya barusan.


“Pah,…Itu bohong ‘kan? Hikss,….” ujar Julia yang tidak ingin mempercayai semua yang dikatakan suaminya.


“Sayang itu benar, Mah!” sahut Noland yang sampai kapan pun itu ditanyakan, jawabannya akan selalu sama.


“Astaga, ujian apalagi ini! Tadi orang yang bernama Jaydon datang menemuiku, dia datang hanya ingin menyampaikan pesan terakhir dari Rayna dan mengatakan bahwa dia akan menyerahkan diri pada polisi!” ujar Julia yang menceritakan tentang Jaydon.


“Rayna ingin memberitahukan kepada kita bahwa dia sangat mencintai papah dan mamahnya, dia juga ingin kakaknya mendengarkan ini. Mendengarkan bahwa selama ini dia sangat menyayangi kakaknya. Sampai akhir pun Rayna kita tidak pernah berubah, Pah! Hikss,…” lanjut Julia yang menyampaikan pesan terakhir Rayna agar suaminya juga mendengarnya.


“Iya, dia memang putri papah dan selamanya kan tetap begitu tak akan berubah sedikitpun! Sekarang istirahatlah, ini sudah semakin larut!” ujar Noland yang menyudahi perbincangan mereka.


Julia pun hanya menurut, karena dia ingin segera sembuh agar bisa merawat menantu dan cucu kembar kesayangannya.

__ADS_1


Julia juga tidak ingin terus berlama-lama larut dalam kesedihan karena kehilangan Rayna seperti sebelumnya.


...****************...


Keesokan paginya, pagi sekali sesuai janji Will dan Levi datang ketempat janjian mereka.


Mereka bertemu didepan toko bunga yang baru saja kan dibuka, bukan karena tokonya baru tapi karena mereka yang datang terlalu pagi.


“Hay, kau tepat waktu juga ‘yah hari ini?” ujar Will pada Levi yang baru saja memunculkan batang hidungnya.


“Tentu saja! Ayo, cepat kita pergi sekarang!” sahut Levi yang tidak sabar ingin menemui Nona kecil kesayangannya.


“Hay, kita beli bunga dulu! Kalau mau menjenguk orang sakit harus bawa sesuatu ‘dong, seperti buah atau bunga!” seru Will yang seketika langsung menghentikan langkah kaki Levi.


“Benarkah?” sahut Levi dengan wajah polosnya.


“Sudah, Ayo cepat masuk dan pilih bunganya!” ujar Will langsung saja menyeret Levi untuk masuk kedalam toko bunga tersebut.


Will dan Levi pun langsung memesan bunga soba warna-warni untuk Nyonya muda Zhia dan bunga mawar pink kesukaan Nyonya besar Julia serta sebuket bunga anggrek mereka pilihkan untuk Luca.


“Will, bagaimana menurutmu dengan bunga mawar merah ini? Apakah cocok untuk Nona kecilku?” ujar Levi masih dengan sikap polosnya meminta pendapat pada Will.


“Hay, kau ingin melamar Nona kecil atau apa, Hah? Mawar merah itu menandakan cinta yang membara tahu!” seru Will yang tersenyum tipis melihat kelakuan bocah psikopat yang sedang bucin akut itu.


“Benarkah? Lalu kenapa kau membeli sebuket bunga krisan itu untuk siapa?” tanya Levi yang melihat sebuat buket bunga krisan berwarna putih sudah berada ditangan Will.


“Untuk Alea! Sekalian aku ingin menjenguknya, kenapa? Tidak boleh?” ujar Will yang malah kesal sendiri.


“Heh,..Apa urusannya denganku! Yang penting jangan ganggu Nona kecilku!” sahut Levi yang jadi ikutan kesal.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚

__ADS_1


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2