
Hari sudah menjelang pagi, baik Rayden, Will maupun Levi benar-benar begadang sepanjang malam. Hanya untuk mencari petunjuk tentang ketua klan Tiger Dark yang baru dan memberi hukuman pada orang yang telah melukai Nyonya muda keluarga Xavier itu.
Rayden terus menemukan jalan buntu dalam misi meretasnya dalam mencari informasi tentang hubungan Evan dengan klan Tiger Dark. Berbeda dengan Will dan Levi yang ditugaskan untuk memberi hukuman pada orang yang berani melukai Zhia.
Semua bukti yang dicuri oleh Levi, sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan keluarga Grace.
Mulai dari kasus korupsi, penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan bahkan juga terlibat dalam bisnis gelap dan protistusi.
Will dan Levi saja sampai dibuat terkejut dengan semua penemuannya itu, karena mereka mengira Keluarga Adenthe sangat jujur dan patut dihormati oleh semua orang.
Ternyata didalamnya sangat busuk, berbanding terbalik dengan topeng malaikat yang mereka gunakan selama ini.
“Gila! Akhirnya kelar juga tugas yang satu ini.” ujar Will sembari meregangkan semua otot tubuhnya yang terasa sangat kaku itu.
“Woah, Lihatlah! Mereka ternyata lebih kejam dari aku.” seru Levi yang terus mengatakan hal yang sama berulang kali setiap memeriksa berkas bukti kejahatan keluarga Adenthe.
“Hay, kau tidak bisa mengatakan hal yang lain apa kecuali itu? Aku sampai mual mendengarnya berulang kali, tahu tidak!” bentak Will pada Levi, karena dirinya juga sudah frustasi pekerjaannya masih sangatlah banyak setelah ini.
“Kau kenapa ‘sih sensi amat?” ujar Levi yang menatap Will dengan penuh tanya.
“Aku sangat lelahhhh,…..! Aku butuh istirahat dan liburannnn,…..!” teriak Will sembari membaringkan tubuhnya disofa.
“Kau lihat kantung mataku sekarang? Bagaimana menurutmu? Apakah aku sebentar lagi akan mati?”
Will mendongakkan kepalanya, menyuruh Levi untuk melihat kondisi wajahnya yang kelelahan.
“Emmm,…. Aku turut berduka cita akan nasibmu, Will! Aku pasti akan mengirim bunga tanda bela sungkawa yang paling besar dan mahal untuk pemakamanmu! Sungguh, aku berjanji padamu.” ucap Levi raut wajahnya berubah sedih bahkan hampir menangis.
“Terima kasih banyak, kau memang teman paling baik yang pernah aku kenal! Tapi aku tidak membutuhkan bungamu. Aku hanya ingin kau menemaniku menuju ke neraka, Levi! Sungguh hanya itu yang aku inginkan darimu.”
Will pun tidak mau kalah berakting, bahkan secara tidak langsung dia meminta Levi untuk mati bersama.
“Iiiihhh, Ogah! Kalau mati sendirian saja sana. Jangan bawa-bawa aku! Aku masih kecil dan belum menikah, belum punya anak juga.” sahut Levi dengan cepat.
“Memangnya aku sudah menikah? Sudah punya anak?” gerutu Will dengan wajah kesalnya.
“Jam berapa sekarang?” tanya Will mengalihkan pembicaraan.
“Hampir jam 5 pagi. Kenapa?” sahut Levi, kemudian menanyakan alasan Will bertanya soal jam.
“Berikan semua berkas ini pada kantor polisi! Aku akan melaporkan pada Tuan bahwa hadiah untuk keluarga Adenthe sudah berhasil dikirimkan.” ujar Will sembari menyerahkan berkas yang sudah disatukan didalam map berwarna coklat pada Levi.
“Kau tidak sedang menyuruhku untuk menyerah diri secara tidak langsung pada polisi, bukan? Kau tahu sendiri ‘kan kalau aku habis membunuh banyak orang dan sekarang kau menyuruhku untuk pergi kekantor polisi?” seru Levi dengan tampang yang sama sekali tidak percaya pada Will.
“Hay, jangan bodoh! Jika kamu ditangkap, apa kabar denganku dan Tuan yang memerintahkan pembunuhan itu?” sahut Will dengan malasnya menghadapi kepolosan bocah yang satu ini.
“Benar juga! Yah sudah aku pergi sekarang.”
__ADS_1
Levi pun segera beranjak pergi menuju kekantor polisi untuk menyerahkan berkas itu.
Sementara Will langsung meraih ponselnya untuk melapor pada Tuannya bahwa tugasnya telah dia selesaikan sesuai batas yang waktu yang ditentukan.
Sebelumnya Will telah menyebarkan sebuah artikel mengenai kejahatan yang dilakukan keluarga Adenthe.
“Hallo, Tuan! Saya telah menyelesaikan keluarga Adenthe sesuai dengan perintah anda!” ujar Will begitu sambungan teleponnya diterima oleh Tuannya.
“Bagus! Bagaimana dengan wanita itu? Apa kau sudah menemukan keberadaannya?”
Rayden pun beralih pada Grace tersangka pertama dalam misi pembalasannya.
“Belum, Tuan! Sepertinya klan Tiger Dark telah membantunya untuk bersembunyi. Kemungkinan akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa menemukannya. Berbeda cerita kalau dia yang datang dengan sendirinya menghampiri kita.” ujar Will yang memang belum bisa melacak keberadaan Grace sekarang.
“Ya sudah! Kita ikuti saja permainan mereka dulu. Kita datang kekantor nanti siang saja!” perintah Rayden yang ingin memberikan Will dan dirinya sendiri sedikit waktu untuk mereka beristirahat.
“Baik, Tuan!” sahut Will dalam hatinya dia sangat bersyukur karena ada sedikit waktu untuknya untuk beristirahat.
Seperti biasa Rayden memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, tapi Will sudah terbiasa akan hal itu. Will pun segera merebahkan tubuhnya diatas kasur dan terlelap dalam tidurnya.
Disisi lain, Rayden yang tidak menemukan pentunjuk mengenai Evan dan klan Tiger Dark hanya bisa menunggu dengan waspada sampai dia menemukan celah pada kelemahan mereka.
Semua data yang berhasil Rayden kumpulkan dakam pencariannya, dia sembunyikan disebuah ruang rahasia yang berada dibalik rak buka didalam ruang kerjanya.
Tanpa disangka ternyata Luca melihat ruang rahasia itu, tapi bocah kecil itu pura-pura masih tertidur.
Membaringkannya disamping Lucia yang masih tertidur, Rayden menatap kearah Zhia yang juga masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Puas memandangi wajah cantik istrinya, Rayden pun kini kembali membuka ponselnya untuk melihat hasil kerja keras Will dan Levi.
‘Berita Hari Ini! Setelah berita menghebohkan mengenai pembatalan pertunangan Grace Adenthe dengan Ceo ternama dari BLOUSHZE Group, Rayden Cano Xavier. Kini Anggota Dewan legislative, Darwin Adenthe ditangkap oleh pasukan khusus polisi sebagai tersangka atas tuduhan penggelapan dana pemerintah senilai Milyaran Dolar dan juga bisnis illegal serta prostistusi. Darwin Adenthe ditangkap di kediaman pribadinya pukul 5.00 pagi hari ini.
Sebuah acara berita secara eksklusif memberitakan tentang penangkapan Darwin Adenthe yang merupakan ayah kandung Grace.
Rayden pun tersenyum puas saat melihat berita itu, dia ingin tahu apakah Grace akan kembali muncul setelah melihat berita ini.
Rayden juga membaca artikel yang dibuat oleh Will, sekertarisnya itu memang sangat bisa diandalkan seperti sekarang.
Rayden pun meletakkan ponselnya kembali, dia kemudian berjalan menuju kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena Rayden sudah tidak bisa tidur lagi sekarang, dia pun bersiap lebih awal.
Tokk,……….Tokkk,…………………Tokkkk,……..
Zhia terbangun karena mendengar suara ketukan pintu dari luar. Dengan mata yang masih sangat mengantuk Zhia pun berseru “Masuklah!”
Setelah itu terlihat dua orang perawat masuk kedalam kamar itu dan menghampiri Zhia yang masih berbaring diatas kasurnya.
“Nyonya, saya datang untuk melepas selang infusnya sekarang!”
__ADS_1
Salah seorang perawat pun langsung melepas selang infus yang terpasang dilengan Zhia, hanya tersisa sedikit cairan infus.
“Permisi, bisakah aku pergi mandi hari ini?” tanya Zhia sedikit ragu, seluruh tubuhnya terasa sangat gerah.
“Boleh, Nyonya! Akan tetapi, luka anda tidak boleh terkena air saat anda mandi. Setelah anda selesai mandi, kami akan mengandi perbannya dengan yang baru.” sahut perawat itu.
“Terima kasih!” ucap Zhia dengan senyuman manisnya.
“Kalau begitu kami permisi dulu! Jika anda membutuhkan bantuan, silahkan panggil kami!” ujar perawat itu sambil mengambil membereskan selang infus yang sudah tidak digunakan itu.
“Baiklah, Terima kasih!” ucap Zhia masih dengan senyuman manisnya.
Sejenak Zhia memperhatikan wajah imut anak kembarnya yang masih terlelap disampingnya. Setelah itu, kedua perawat itu keluar dari kamarnya. Zhia pun beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kekamar mandi.
Betapa terkejutnya Zhia saat masuk kedalam kamar mandi, ternyata Rayden baru saja selesai mandi dan saat ini hanya mengenakan handuk saja dipinggangnya.
Memperlihatkan dada bidangnya yang berotot dan juga perutnya yang sixpack, body idaman semua wanita ditambah lagi wajahnya yang tampan dengan rambut basahnya.
“Akh,_...Mmmph!”
Zhia hampir saja berteriak sekencang kencangnya, jika saja Rayden tidak menutup mulutnya dengan cepat.
“Hustt,… Jangan berteriak! Nanti anak-anak terbangun.”
Rayden berbisik tepat ditelinga Zhia, hingga membuat Zhia merasa geli dan ada sensasi lain saat Rayden meniup telingannya dengan lembut.
Bersambung........................
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚
__ADS_1