
Eva dan Alea pun tetap menerima tongkat kayu itu, meskipun mereka tidak mengerti mengapa anak sekecil Lucia memberikan sebuah tongkat kayu pada mereka yang dikatakan sebagai orang dewasa.
“Nona kecil ingin belajar berpedang?” tanya Alea yang mencoba menebaknya.
“Ehmmm,…..Kakak cantik bisa mengartikannya seperti itu juga boleh!” ujar Lucia diikuti senyum manisnya, wajah polosnya benar-benar terlihat menggemaskan dimata Eva dan Alea.
“Maksud Nona kecil?” sahut Eva yang merasa ada yang aneh dengan perkataan Lucia, gadis kecil yang sangat manis tapi entah kenapa membuat perasaannya menjadi tidak nyaman sekarang.
“Tunggu sebentar ‘yah, Kakak cantik!”
Bukannya menjawab, Lucia malah mengabaikan dengan santainya.
Lucia berjalan kearah Luca yang sudah asyik dengan laptopnya dan kemudian berkata “Kak, bantu Luci mengikat rambut!”
“Kenapa kamu tidak memotongnya seperti kakak ‘sih?”
Meskipun berkata seperti itu, Luca tetap saja mengikat rambut adiknya dengan senang hati.
“Kalau Luci rambutnya dipotong seperti kakak, nanti orang-orang tidak bisa membedakan yang mana Luci dan yang mana kak Luca gimana?” ujar Lucia menjelaskan pada kakaknya.
“Sudah selesai!” ujar Luca yang menyelesaikan mengikat rambut adiknya, walaupun terlihat masih berantakkan.
“Terima kasih, kak Luca!” ucap Lucia sambil tersenyum dengan manisnya.
“Sama-sama!” sahut Luca yang juga membalas senyuman adiknya.
Sungguh pemandangan itu terlihat sangat indah dimata Eva dan Alea, sebelum mereka melihat pemandangan yang mencengangkan setelah Lucia masuk kedalam arena pertarungan.
“Maaf ‘yah, kakak cantik! Luci harus mengikat rambut dulu agar nanti tidak mengganggu latihan kita.” ujar Lucia yang masih setia menebarkan senyuman manis diwajah polosnya yang menggemaskan.
“Tidak apa-apa, Nona kecil! Kalau Nona kecil mau ganti pakaian yang nyaman untuk berlatih, kami juga akan senang hati menunggunya.” sahut Eva sembari membalas senyuman manis gadis kecil itu.
“Hehehee,….Tidak perlu kakak cantik! Baju ini juga sudah cukup nyaman ‘kok untuk berlatih!” ujar Lucia yang semakin terlihat menggemaskan saja.
Apalagi saat Lucia memutarkan tubuhnya, hingga membuat gaun yang sedang dia gunakan saat ini berayun dengan indahnya.
Benar-benar gadis kecil yang manis dang sangat menawan, itulah kata yang tepat digambarkan oleh Eva dan Alea saat itu.
“Ouhya, kakak cantik akan jadi pengawal untuk mamahku ‘yah?” tanya Lucia yang mulai memasuki topik pembicaraan yang sesungguhnya.
“Iya, benar Nona kecil!” Eva dan Alea menjawabnya secara serentak, mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Lucia.
“Kalau begitu kakak cantik harus melalui masa uji coba dari kami terlebih dahulu.” ujar Lucia yang membuat Eva dan Alea kebingungan lagi.
“Masa uji coba?” guman Alea bertanya-tanya sendiri, bagaimana bisa anak sekecil Lucia bisa berpikir seperti itu.
Jangan-jangan dengan adanya mereka diruang Latihan saling berhubungan denga napa yang barusan dikatan oleh Nona kecilnya itu. Entah kenapa pikiran Alea terus tertuju pada kemungkinan itu.
“Maaf, tapi maksud Nona kecil,_...”
“Iya, benar! Luci yang akan melakukan masa uji coba pada kakak cantik. Kita akan bertarung dalam tiga babak. Pertama, Ayo kita bertarung dengan menggunakan katana. Tapi karena kak Luca melarangku, jadi gunakan tongkat kayu ini saja sebagai pengganti katana! Kedua, panahan dan ketiga,…………” ujar Lucia yang menjelasskan secara singkat, tapi saat ingin mengatakan ronde yang terakhir dia merasa sedikit ragu untuk mengatakannya.
__ADS_1
“Yang ketiga akan Luci beritahukan nanti!” lanjut Lucia masih memberikan senyuman manisnya.
“Maaf, Nona kecil! Kami tidak bisa melakukannya.”
Tentu saja Eva dan Alea langsung menolaknya, bagaimana pun juga Lucia hanyalah gadis kecil.
Tidak mungkin orang dewasa yang sangat berpengalaman bisa melawan anak kecil yang manis dan polos seperti Lucia.
Luca yang tadinya sibuk dengan laptopnya, langsung menatap Lucia begitu mendengar penolakan dari kedua pengawal baru mamahnya.
Sementara Lucia masih tidak bergeming ditempatnya.
Semua orang yang awalnya tidak mengetahu mengenai kemampuan Lucia, tentu saja akan langsung menolak untuk melawannya.
Apalagi antara wajah dengan kemampuan Lucia sangat bertolak belakang. Sehingga banyak orang yang yang akan menganggap Lucia sebagai gadis kecil yang lemas.
“Iya, Nona! Nona masih terlalu kecil untuk melawan kami berdua sekaligus, bahkan melawan satu persatu saja kami tidak tega melakukannya.” ujar Alea yang mencoba memberi penjelasan layaknya sedang membujuk seorang anak kecil pada umumnya.
“Benarkah? Kalau begitu kakak cantik coba tahan seranganku yang satu ini. Jika kakak cantik bisa menahannya, maka Luci tidak akan bermain-main lagi!” ujar Lucia sorot matanya terlihat sangat berbeda, bahkan senyumannya juga seakan mengartikan sesuatu.
“Tapi, Nona,_................”
Tak,………Takk,……..Takkk,…….
Suara tongkat kayu yang saling bertemu dengan kekuatan pukulan yang cukup kuat terus terdengar diruang latihan.
Seperti yang dikatakan Lucia, gadis kecil itu menyerang titik kelemahan Eva dan Alea secara bersamaan.
Awalnya, Eva dan Alea merasa enggan untuk membalas serangan yang dilakukan oleh Lucia. Akan tetapi, mereka tidak bisa terus menahan setiap serangan itu.
Serangan yang semakin agresif dan sangat tepat serta kekuatan yang tertumpu pada tongkat kayu yang dipegang oleh Lucia membuat mereka berdua semakin tersedak mundur.
Eva dan Alea mau tidak mau harus membalas serangan itu juga. Pertarungan sekarang sudah sudah menjadi serius, Eva dan Alea yang awalanya hanya menanggapi sepele tantangan dari Lucia.
Saat ini bahkan mereka berdua tidak bisa menjatuhkan anak sekecil itu dalam sekali serangan.
Harus diakui oleh Eva dan Alea, meskipun usia Lucia baru 6 Tahun dan tubuhnya masih kecil dibandingkan mereka berdua.
Akan tetapi, Lucia sangat menguasai setiap gerakan beladirinya dengan sangat tepat dan akurat.
Setiap seranganya yang dilontarkan Lucia selalu penuh kecepatan, ketepatan dan sangat akurat tanpa meninggalkan celah sedikitpun untuk lawannya.
“Ayo, Luci! Kamu pasti bisa.”
Luca yang telah berhasil meretas data kedua pengawal itu dan mendapatkan data yang dia mau.
Kini tengah menikmati pertandingan yang dilakukan adiknya yang sangat jagon itu. Tentu saja sebagai kakak, Luca memberikan semangat pada adik kembarnya.
Mendapat dukungan dari sang kakak, Lucia pun semakin bersemangat ayunan tongkat kayunya semakin cepat.
Gerakan tubuhnya senada dengan gerakan tongkat kayu yang berada ditangannya, gaun cantik yang saat ini sedang digunakan Lucia menambahkan kesan indah pada pemandangan yang sebenarnya snagat menegangkan itu.
__ADS_1
Brakkk,…………………
Suara tongkat kayu yang jatuh dan terlempar mengenai sebuah benda lain yang berada disana langsung memnculkan keheningan diruangan itu.
Hanya deru nafas yang terengah-engah yang terdengar diantara mereka. Jatuhnya tongkat kayu itu menandakan bahwa babak pertama uji coba pengawal baru untuk Zhia telah selesai.
Proookk,….Prookkk,……Prookkkk,………
Suara tepuk tangan dari Luca seketika mememcahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa saat yang lalu.
Luca berlari menghampiri adik kembarnya yang masih mengatur deru nafasnya setelah berhasil mengalahkan kedua pengawal baru mamahnya itu.
“Woah,… Goog job, My sister!”
Puji Luca atas kemenangan pertama Lucia. Harus diakui bahwa tadi adalah pertarungan yang sangat seru yang pernah Lucia lakukan setelah melawan Grandpanya tentunya.
“Makasih, kak!” sahut Lucia dengan nafasnya yang masih belum kembali normal.
“Kakak cantik sudah kalah! Sekarang ayo kita lanjutkan uji coba yang selanjutnya.” ujar Lucia yang masih mau menantang Eva dan Alea dalam babak selanjutnya.
“Tentu saja! Nona telah menunjukan kemampuan luar biasa yang anda miliki. Jadi, kami juga harus menunjukkan kemampuan yang kami punya agar bisa dipercaya untuk menjaga Nyonya muda.” sahut Eva yang sekarang semakin merasa tertantang dengan kemampuan yang dimiliki oleh gadis kecil itu.
“Kemampuan Nona kecil benar-benar hebat! Tubuh kecil itu, bagaimana anda bisa menguasainya bahkan sampai bisa mengalahkan kami berdua sekaligus?”
Alea masih tidak percaya akan kekalahannya. Jika bisa, dia ingin tahu siapa guru beladiri yang mengajar Lucia.
Alea pasti akan ikut belajar kepada orang tersebut, orang berhasil mengubah gadis kecil seperti Lucia menjadi master beladiri yang sangat hebat.
Bersambung.................
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Meskipun ada beberapa masalah yang terus menerpa, tapi saya akan tetap melanjutkan si Anak Kembar Sang Mafia ini sampai selesai.💪💪😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚
__ADS_1