Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Menutup Rapat! Part. 2


__ADS_3

Semua pejabat tinggi negara A yang diundang Rayden secara paksa mulai mengeluarkan taring tumpulnya dengan mengacam Rayden dengan segala kekuasan yang mereka pegang sekarang.


Sehingga menimbulkan kericuhan didalam vila itu, tapi Rayden tetap tenang dengan menunjukkan ekspresi dinginnya yang menyeramkan.


“Kau bocah tengik berani-beraninya menculik kami pejabat tinggi pemerintahan. Apa kau tidak takut mati, Hah?”


Hardik salah seorang pejabat yang berkedudukan sebagai Menteri hukum di negara A dengan lantangnya seakan tengah menantang Rayden dan meremehkannya.


Mendengar sang Menteri berani bicara seperti dan rayden hanya diam saja yang lainnya pun mulai ikut-ikutan mengatai Rayden dengan banyak hal.


Hanya komandan polisi yang tadi datang bersamanya saja yang masih tetap diam sembari mengamati situasinya.


Benar saja, ada beberapa Sniper yang sudah siap diposisi masing-masing dan siap kapan saja menarik pelatuknya.


Dorrr,….


Terdengar suara tembakan yang mengenai meja tepat didepan sang Menteri yang barusan terang-terangan menghina Rayden dan memicu semua orang mengikutinya.


“Apa kalian takut?” ujar Rayden dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


“Terutama kau yang tadi bicara besar! Sebelum aku mati seperti kau dan keluargamu yang akan mati terlebih dahulu disini!” lanjut Rayden dengan nada mengancam.


Orang itu pun langsung terdiam seribu kata, sehingga semua orang pun ikut terdiam hanya dengan perkataan ancaman dari Rayden.


Benci, itu sudah pasti Rayden rasakan pada pejabat negara yang hanya menguntungkan dirinya sendiri saja.


Disaat mereka sedang butuh bantuan keluarga Xavier, mereka akan dengan senang hati menjilat apapun yang disuguhkan.


Akan tetapi, jika keinginan mereka telah terwujud maka seperti kacang yang lupa kulitnya.


“Aku tanya pada kalian! Dimana dan apa yang kalian semua lakukan saat keluargaku meminta bantuan untuk melakukan pencarian atas hilangnya adikku, putri satu-satunya keluarga Xavier?”


Kembali, tatapan membunuh Rayden kembali aktif begitu mengingat tentang kematian adik kembarnya.


Hanya dia dan keluarga besar Xavier yang bekerja keras untuk menemukan Rayna dan mencari pelakunya, pejabat yang seharusnya melakukan itu semua hanya bisa mencari alasan untuk menunda dan menghindari semua itu.


Diam, tentu saja mereka semua langsung terdiam.


Entah karena telah menyadari kesalahan masing-masing atau hanya karena takut menjawabnya saja, atau mengkin karena takut akan kehilangan nyawa mereka disana.


Rayden sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu mengenai alasan orang-orang itu terdiam.


“Aku tidak membutuhkan jawaban kalian, karena sudah pasti kalian tidak akan mampu untuk menjawabnya. Sebab, jika kalian berani menjawab apalagi membela diri, maka akan aku pastikan kepala kalian akan meledak saat itu juga.” seru Rayden yang langsung membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ngeri.


“Aku hanya ingin kalian tutup mata dan telinga serta angkat tangan atas semua pembunuhan yang aku lakukan beberapa hari ini. Jika tidak, maka kalian akan mengalami nasib yang sama seperti mereka!” ujar Rayden yang menekankan setiap ucapannya agar bisa dimengerti oleh orang-orang memuakkan yang kini berada dihadapannya itu.


“Tidak penyelidikan, tidak ada berita dan tidak ada berkas apapun yang tertulis atas kejadian ini dan juga tentang kematian adikku! Kalian harus menutupnya dengan sangat rapat sampai kalian mati, kalau tidak aku yang akan menjadi malaikat maut bagi kalian semua. Apa kalian semua mengerti?”


lanjut Rayden yang berteriak sembari menggebrak meja yang ada didepannya dengan sangat keras.


“Ka-kami mengerti!” sahut semua orang yang berada disana.


“Will, urus sisanya!”

__ADS_1


Perintah Rayden pada Will, dia pun langsung pergi dari tempat itu untuk melihat keadaan mamahnya.


Jujur saja, Rayden sangat muak harus berhadapan dengan orang-orang itu. Namun, semua ini dia harus lakukan agar keadaan mamahnya membaik.


Setidaknya, kematian tragis Rayna tidak dibicarakan oleh semua orang didunia dan mamahnya bisa cepat melupakan tentang Rayna meskipun itu akan sangat sulit.


Will pun dengan sigap melakukan tugasnya, ternyata Levi juga ikut membantunya.


Will harus memastikan setiap orang yang mereka undang secara paksa wajib menandatangi surat perjanjian yang sudah mereka sediakan sebelumnya sebagai jaminan atas perkataan mereka.


...****************...


Kini Rayden telah sampai didalam rumahnya, orang yang pertama dicarinya adalah mamah dan papahnya.


Saat ingin pergi kekamar papah dan mamahnya, Rayden melewati kamar yang selama ini ditempati oleh adik kembarnya Rayna.


Rayden kembali terisak mengingat semua kenangan indah bersama adik kesayangannya itu.


Perlahan Rayden membuka kamar itu, airmatanya kembali terjatuh saat bayangan wajah adiknya yang selalu tersenyum begitu dia membuka pintu kamar itu.


Kini tidak ada lagi, kamar itu sekarang gelap dan sangat sepi tidak ada tawa dan senyuman adik kembarnya lagi.


Rayden tak sanggup melangkah masuk lebih dalam lagi, dia pun segera melangkah mundur dan menutup pintu kamar itu serapat rapatnya.


Rayden hanya bisa menangis didepan pintu kamar itu sembari menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba terdengar suara mamahnya yang menangis dan berteriak histeris meminta Rayna agar segera kembali kesisinya.


Terlihat jelas bagaimana keadaan Julia sekarang, tubuh yang semakin kurus tidak terawat.


Wajah yang terlihat sangat pucat disertai tangisan yang sangat memilukan yang terus memanggil nama putrinya yang telah tiada.


Terlihat juga, Noland yang berusaha keras untuk menenangkan istri tercintanya itu.


Noland juga sangat terpukul atas kepergian putri kesayangannya, tapi Noland harus bisa bersikap tegar demi istrinya meskipun hatinya sama rapuhnya dengan Julia.


Rayden berjalan perlahan sambil menangis menghapiri mamah dan papahnya, meskipun dia sudah membunuh semua orang yang dicurigai sebagai pelaku pembunuh adiknya.


Tapi pada akhirnya adik kesayangannya itu tidak bisa hidup kembali dan dia masih kehilangan separuh jati dirinya untuk selamanya.


Melihat kedatangan Cano, Julia langsung tersenyum dan menghampirinya sembari berkata


“Cano, dimana putri mamah?


Dimana Rayna?


Apakah kau sudah mengantarnya dengan selamat?


*Iya, Rayna pasti sekarang sudah sampai disana, dia pasti sedang mulai belajar dengan giat sekarang?


Rayna mamah ‘kan mau menjadi dokter terhebat didunia!


Rayna-nya mamah pasti masih hidup ‘kan, Cano*?

__ADS_1


*Gadis yang ada didalam peti mati itu, bukan Rayna!


Rayna-nya mamah sangat cantik, sedangkan gadis didalam peti mati itu*,_.............”


Seketika tubuh Julia kembali ambruk dihadapan putranya yang juga semakin terisak tanpa bisa bersuara.


Julia kembali histeris mengingat mayat putrinya yang dipenuhi luka saat dimakamkan, sedetik berikutnya Julia tidak sadarkan diri lagi karena sangat terpukul dengan semua kenyataan pahit ini.


Noland dan Rayden segera menopang tubuh Julia, Noland pun langsung mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya keatas ranjang.


Dokter pun kembali menangi Julia sesuai prosedur yang dibutuhkan.


Sebelumnya Julia sudah diperiksa dan dipasangkan selang infus, tapi setiap Julia membuka matanya dia langsung histeris.


Kini Noland dan Rayden hanya berdua menjaga Julia didalam kamar itu. Beberapa saat mereka membisu larut didalam kesedihannya masing-masing, hingga Noland membuka pembicaraan.


“Bagaimana kau sudah mengurusnya dengan baik?” ujar Noland tanpa mengalihkan tatapannya pada sang istri.


“Iya, aku membunuh semuanya! Maaf, karena Cano tidak bisa menepati janji untuk tidak terjun kedunia mafia!”


Rayden hanya bisa tertunduk dengan deraian airmatanya yang terus mengalir tanpa henti, dia menggenggam tangan mamahnya dengan erat.


“Papah akan membawa mamah untuk pergi dari rumah ini untuk sementara dengan batas waktu yang bisa papah tentukan, sepertinya sampai mamahmu keadaannya lebih baik dan menerima bahwa Rayna telah tiada!” ujar Noland yang seakan tidak mau membahas mengenai pembunuhan yang dilakukan putranya itu.


“Seharusnya papah yang meminta maaf padamu, karena selama papah dan mamah pergi kau yang harus menggantikan papah dalam segala hal termasuk klan mafia papah!”


lanjut Noland yang menyerahkan semua bebannya pada Rayden yang sebenarnya ingin menggapai keinginanya sendiri.


“Tidak apa, Pah! Cano yang membungkam orang-orang itu, jadi Cano yang harus mengendalikannya juga! Papah focus pada kesehatan mamah saja, urusan perusahaan dan klan biar Cano yang tangani!” sahut Rayden yang menerima semua beban itu dan mengubur impiannya sebagai perakit pesawat.


“Papah sangat percaya padamu, Cano!” ujar Noland yang memeluk putranya itu dengan erat seakan saling menguatkan satu sama lain.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2