
“Tentu saja!” sahut Lucia yang pasti akan dengan senang hati menemani sang kakak kembarnya untuk berlatih yang sesungguhnya.
Luca dan Lucia pun bersiap diposisi masing-masing, detik berikutnya Luca langsung menyerang Lucia terlebih dahulu dan tentu saja Lucia menangkis semua serangan dari sang kakak dengan mudahnya.
Pertarungan antara kakak dan adik kembar ini pun berlasung dengan cukup lama sampai Luca menyerah kalah, karena sulit sekali merobohkan adiknya yang memang sangat jago bela diri itu.
“Luci, kakak menyerah saja!” ujar Luca dengan nafas yang terengah-engah karena pertarungannya dengan adiknya.
“Hahahaaa,….Baru segini saja kak Luca sudah kehabisan nafas! Ya sudah, kita istirahat sebentar nanti kita lanjutkan latihan dua jenis bela diri yang lainnya lagi! Mungkin Muaythai dan Ju Jitsu.”
Lucia pun menertawakan sang kakak yang sudah kelelahan berdual dengannya, dia juga memberitahu Luca bahwa ada dua jenis bela diri lagi yang akan dia ajarkan setelah istirahat.
“Hah? Haruskah sebanyak ini? Biasanya ‘kan harus focus berlatih pada satu jenis bela diri saja? Kenapa Luci mengajarkan banyak sekali dalam satu hari ‘sih?”
Luca pun mencoba protes pada sang adik, karena mempelajari taekwondo saja sudah menguras banya tenaganya.
“Luci sangat yakin kalau kak Luca pasti bisa! Ayo, semangat ‘kan Luci yang ngajarin?”ujar Lucia yang berusaha menyemangati sang kakak yang terlihat sudah merasa cukup hanya dengan berlatih satu jenis bela diri saja.
“Bagaimana kalau yang dua itu untuk besok saja. Hari ini kita cukup berlatih yang ini saja dan latihan panahan sepertinya itu lebih menarik dan tidak terlalu mengurah banyak tenaga? Bagaimana? Setuju ‘kan?”
Luca berusaha mencari alasan agar bisa sedikit terlepas dari pelatihan bela diri yang sudah diatur dengan ketat oleh adik kembarnya itu.
“Tidak bisa kak Luca, tersayang! Hari ini kita harus menyelesaikan latihan yang Luci sebutkan tadi, boleh ditambah dengan latihan panahan juga bisa!” ujar Lucia yang tidak mau ada penolakkanlagi dari sang kakak.
“Huh, Dasar Master killer!” gerutu Luca dengan wajah semberutnya.
Cukup dengan waktu istirahatnya Lucia kembali mengajarkan yang sudah diatur sebelumnya pada Luca.
Seperti yang sebelumnya Lucia mempraktekkan setiap gerakan sembari menjelaskannya dan Luca pun medkipun dengan rasa sedikit enggan dia tetapi mengikutinya dengan sangat serius.
Selesai dengan latihan teknik dasarnya, setelah itu mereka akan melakukan pertarungan untuk menilai apa saja yang sudah dikuasai oleh Luca.
Sampai pada waktunya untuk latihhan panahan, Lucia hendak menejlaskan dan mempraktekkannya.
Tapi Luca langsung menarik busur yang sudah berisi anak panah dan mengarhakan langsung pada target yang tersedia disana.
Srrrtttt,…………….Anak panah itu tepat menancap ditarget utamanya yaitu titik hitam kecil yang ada ditengah.
“Bagaimana menurutmu, Luci? Apa kita sudah bisa berhenti berlatih sekarang? Kakak sudah sangat lelah, bolehkan kita sudahi sampai disini? Lagian latihan panahannya sudah kakak lakukan juga, sebentar lagi juga sudah waktunya makan malam kita harus bersiap sekarang!” ujar Luca yang memohon pada adiknya.
“Kak Luca belajar dari mana sampai bisa mengenai tepat sasaran seperti itu?” tanya Lucia mencba memastikannya langsung daripada merasa penasaran seperti sekarang.
“Kakak pernah memperhatikan caramu memanah saat melawan Grandpa dulu. Jadi, kakak baru bisa mempraktekkannya sekarang!”
Luca pun menjawabnya dengan jujur, karena tidak ada alasan juga untuk dia berbohong.
__ADS_1
Alea dan Eva berharap ada popcorn ditangan mereka saat itu, karena pertarungan adik dan kakak kembar itu sangatlah seru untuk dilihat.
Luca yang masih amatiran ternyata dalam beberapa jam saja bisa menguasai teknik dasar beberapa jenis bela diri dan juga panahan.
“Nona kecil hebat sekali ‘yah bisa mengajari Tuan kecil menguasai teknik dasar bela diri dalam beberapa jam saja!” ujar Alea yang menatapm Lucia dengan kagun.
“Tuan kecil juga, dia bisa menguasai secepat ini. Padahal dia ‘kan cuma anak kecil yang baru berusia 6 tahun?” sahut Eva yang menatap tidak percaya dengan kemampuan kedua bocah kembar itu.
Bagaimanapun dia memikirkannya, itu adalah hal yang sangat mustahil untuk masuk dinalar manusia.
“Jangan-jangan Tuan dan Nona kecil adalah jelmaan alien yang berniat merampas bumi dari manusia?”
Pendapat konyol pun keluar begitu saja dari mulut Eva.
“Hay, jangan gila! Dengan kau mengatakan Tuan dan Nona kecil sebagai alien, kau secara tidak langsung juga mengatakan bahwa Tuan dan Nyonya muda adalah alien yang sesungguhnya! Terus bagaimana dengan Tuan dan Nyonya besar, kakek dan neneknya dari alien begitu?” ujar Alea yang menyadarkan Eva bahwa dia sedang mengatakan hal konyol yang sangat berbahaya jika sampai didengar oleh orang lain.
“Luca! Luci, cepat berhenti latihannya! Makan malamnya sudah siap!”
Benar saja, baru saja dibahas Julia tiba-tiba masuk kedalam ruang latihan dan menyuruh si kembar untuk makan malam terlebih dahulu.
“Hush,….Diamlah orangnya muncul!” bisik Eva yang menyuruh temannya untuk diam begitu melihat kedatangan Julia.
Alea dan Eva pun menjadi salah tingkah dengan kehadiran Julia yang tanpa mereka sangka itu.
“Grandma sudah memasakan daging asam manis kesukaan kalian berdua. Grandma sendiri yang masak ‘loh!” ujar Julia yang menggandeng kedua cucu kembarnya dan berjalan meninggalkan ruang latihan
“Wahhh,…Asyikk, terima kasih Grandma!” ucap Lucia yang sangat antusia mendengar bahwa makan malam kali ini adalah menu makanan favoritnya.
“Grandma, Luca mau mandi dulu sebentar! Bolehkan?” ujar Luca yang merasa risih karena seluruh badannya sudah bau keringat akibat laitahn kerasa yang diberikan oleh adiknya tadi.
“Tentu boleh, Luci juga mandi dulu! Grandma akan menunggu kalian diruang makan sembari menunggu Grandpa pulang juga!" ujar Julia yang juga menyuruh Lucia untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah mendapat ijin dari Grandmanya, Luca pun langsung berlari menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Disusul dengan Lucia yang juga langsung menuju kekamarnya asendiri untuk melakukan hal serupa yang dilakukan oleh sang kakak.
Selesai membersihkan diri, Luca dan Lucia pun bersama-sama menuju keruang makan untuk menyantap makan malamnya.
Disana ternyata Grandpa dan Grandma sudah menunggu, bahkan sudah ada Will yang ternyata sudah sampai tapi belum melaporkan apa yang terjadi saat dipulau itu.
Begitu melihat kehadiran Will disana, segudang pertanyaan pun langsung dilontarkan oleh si kembar.
Seperti bagaimana kabar papah dan mamahnya, terutama mengenai baby boy yang telah dijanjikan papahnya sampai Will pusing sendiri bagaimana menjawabnya.
Seperti biasanya, selesai makan malam Luca dan Lucia disuruh untuk tidur kerana hari memang sudah malam. Sementara, Noland menyuruh Will untuk mengikutinya keruang kerja pribadi Rayden.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Kenapa kau kembali tanpa Cano dan menantuku?” tanya Noland begitu sampai diruang kerja pribadinya Rayden.
“Tuan menyuruh saya kembali untuk memberitahukan mengenai hal ini!”
Will pun menunjukkan beberapa foto yang diambil sebelumnya pada isi bingkisan yang ditinggalkan didepan kamar hotel Rayden dan Zhia yang berisikan hal mengerikan dan juga memberikan secarik surat yang ditulis dengan darah itu.
Reaksi yang ditunjukan oleh Noland tidak jauh berbeda dengan reaksi Rayden begitu melihat semua ancaman dari orang yang selama ini mereka buru itu.
Marah, dendam dan juga kesedihan bercampur menjadi satu melihat foto putrinya yang meninggal dalam keadaan mengenaskan seperti itu, tapi dia lebih memilih lukan itu dalam-dalam dan seakan tidak pernah terjadi kejadian mengerikan itu.
Airmata Noland mengalir dengan derasnya, menatap wajah putri cantiknya yang penuh luka didalam foto itu.
Will hanya bisa menundukkan kepalanya seakan memberi sedikit waktu untuk Noland menata perasaan sedihnya, setelah itu baru dia melanjutkan laporannya.
“Apa lagi yang Cano perintahkan kepadamu?” tanya Noland setelah sedikit bisa engatur perasaan sedihnya.
“Tuan muda meminta saya untuk menyelidiki ulang kejadian 10 Tahun yang lalu bersama dengan anda, Tuan! Karena Tuan muda merasa pada waktu itu kita menyisakan sesuatu yang sangat penting yaitu pembunuh Nona muda yang sebenarnya. Tuan muda menyakini bahwa saat itu kita salah membunuh dan pelaku yang senarnya masih hidup sampai sekarang!”
Will pun menjelaskan apa yang disampaikan Rayden saat dipulau. Will sedikit sadar bahwa menyelidiki kejadian masa lalu, maka akan membuka luka lama yang sudah hampir terkubur sepenuhnya itu.
“Jangan beritahukan soal ini kepada istriku, Will!” pinta Noland pada Will.
“Baik, saya mengerti Tuan besar!” sahut Will.
Bersambung........
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚
__ADS_1