Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Waktunya Menggila!


__ADS_3

“Aahhh,….Maksudmu gadis cantik yang sangat memuaskan bernama Rayna itu. Aku tidak membunuhnya, dia hanya tidak sengaja menghembuskan nafas terakhirnya saja saat berada dibawahku. Hahahahaaa,….”


Jayden bahkan tertawa dan tidak merasa bersalah sedikitpun kepada Noland.


“Sialan,….Aku ingin sekali menghancurkan wajah tidak tahu dirinya itu!”


Noland hanya bisa bergumam sendiri sembari mengepalkan kedua tangannya, seakan sedang mengumpulkan kekuatan ditangannya untuk menghancurkan wajah dan mengakhiri hidup Jayden.


“Cano, biarkan papah yang mengurus sampai itu. Carilah kesempatan untuk menyelamatkan Zhia begitu penjagaannya mulai lengah.” ujar Noland yang setengah berbisik pada Rayden.


“Baiklah, aku serahakan yang disini pada papah!” sahut Rayden yang mempercayakan semuanya pada sanga papah.


“Haah,…Sepertinya kalian berdua mulai mengabaikan keberadaanku disini,_....”


“Tidak! Dari awal kami memang tidak menganggap keberadaanmu ada disini!” sahut Noland yang langsung memotong perkataan Jayden dan sengaja membuatnya emosi dengan perkataannya.


“Beraninya kau,_..........”


“Kenapa kami tidak berani? Kami bukan dirimu dan Evan yang selalu lari seperti pencundang setiap kali menyebabkan masalah!”


Kali ini ini Rayden yang memotong perkataan Jayden, bahkan mengejeknya denagn senyuman sinisnya.


“Dasar Sialan! Kalian semua bunuh mereka semua terutama kedua orang yang mengoceh dari tadi!”


Jayden yang sudah sangat emosi dengan Noland dan Ryaden langsung saja memberi perintah untuk menyerang kepada anak buahnya.


“Hay, Ayolah! Kau juga dari tadi mengoceh tidak jelas, kenapa kau tidak menyuruh mereka juga untuk membunuhmu!” ujar Noland yang kembali mengeluarkan senyuman sinisnya.


“Sialan kau pak tua! Aku sendiri yang akan segera membunuhmu!” teriak Jayden yang emosinya sudah terpancing.


“Benar, aku sendirilah yang akan membunuhmu! Jadi, kemarilah antarkan nyawamu padaku.” ujar Noland yang terus memancing amarah Jayden, bahkan sampai Rayden sendiri tidak percaya bahwa papahnya bisa semenyebalkan itu.


“Sialan, mati kau pak tua!”


Jayden langsung berlari dan menyerang Noland secara membabi buta.


Pertarungan pun tak terelakkan lagi, Noland dan Jayden saling menyerang dengan ganasnya begitu dengan para anak buah mereka.


Sementara Rayden berusaha mencarincelah untuk masuk kedalam rumah itu dan menyelamatkan Zhia seorang diri.


Dari awal pertarungan ini memang sudah berat sebelah dan sangat merugikan pihak Rayden.


Beruntung saja, anak buahnya bisa mengatasi banyaknya jumlah anak buah Evan yang tersu menyerang mereka tanpa ampun.


Pertarungan Noland dan Jayden berlangsung cukup sengit, anak buah Rayden juga mulai terbiasa dengan keadaan mendesak yang harus mereka hadapi.


Hal itu membuat Rayden mendapatkan sedikit celah untuk menerobos masuk kedalam rumah itu, setelah cukup lama bertarung dan membunuh para musuhnya.


“Aku harus segera masuk kedalam rumah itu sekarang juga!” batin Rayden begitu melihat musuhnya mulai melemahkan penjagaan didepan pintu masuk.


Rayden langsung saja ambil langkah seribu kearah pintu masuk, tetapi tanpa diduga dia malah terkena serangan dari anak buah Evan yang lainnya.


Bukkk,…..Brakkkk,……

__ADS_1


Sebuah tendangan yang sangat keras mendarat dituduh Rayden, hingga membuatnya terpental cukup jauh dan terjatuh ditanah.


Rayden berusaha untuk segera bangkit sebelum orang tersebut menyerangnya kembali.


Harus Rayden akui kemampuan bela diri orang tersebut hampir sebanding dengan kemampuan bela diri Levi.


“Sialan! Ternyata dia masih ada orang yang mempunyai kemampuan yang cukup bagus.” gumam Rayden yang menatap tajam kearah orang tersebut.


“Kau tidak bisa pergi kemanapun sebelum mengalahkanku disini!” ujar Felix yang berdiri tepat dihadapan Rayden dengan tatapan dinginnya.


“Kau benar! Setidaknya pencundang sepertinya harus memiliki beberapa orang seperti dirimu agar bisa bertahan hidup selama ini. Kemarilah, akan aku bereskan dirimu dengan cepat!” sahut Rayden.


Setelah itu pertarungan sengit antara Rayden dan Felix pun terjadi. Dan sesuai dengan perkiraan Rayden dari awal bahwa kemampuan bela diri Felix sangat mirip dengan kemampuan Levi yang artinya hampir sepadan dengan kemampuannya.


Noland, Rayden dan anak buahnya situasinya semakin terdesak. Dari awal mereka sudah kalah jumlah dan sekarang ditambah lagi dengan kemampuan bertarung Jayden dan Felix yang membuat banyak menyita energi dan waktunya.


...****************...


Berbeda dengan Levi yang hampir mengendalikan situasinya di pos penjagaan pertama, apalagi dengan adanya bantuan dari kelompok penembak jitu.


Sekarang Levi sudah membereskan areanya, dia pun mengajak beberapa anak buahnya yang tersisa untuk menyusul Tuannya masuk.


“Bagaimana situasinya? Sudah kalian pastikan sudah beres?” ujar Levi pada salah satu anak buahnya.


“Masih ada beberapa yang mulai berdatangan ketempat ini, tapi kami bisa mengatasinya!” jelas sang anak buahnya.


“Bagus! Sebagian tetaplah berada dan berjaga disini, sedangkan sebagian lagi ikuti aku. Kita harus menyusul Tuan besar dan Tuan muda untuk membantunya.” Jelas Levi yang membagi pasukannya.


Jangan tanya lagi penampilan Levi seperti apa sekarang ini yang pastinya wajah dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan darah para musuhnya. Levi benar-benar menggila dan membunuh semua musuhnya tanpa ampun.


Perintah Levi yang berlari menuju kearah Will yang juga sedang bertarung.


Sesampainya ditempat Will, betapa bahagianya Levi karena dia melihat masih ada kesempatan untuk dirinya menggila lagi.


Ternyata Will juga menggila seperti dirinya, tetapi lawannya disini cukup untuk bisa membuat Will dan pasukan yang dipimpinnya terdesak dan kewalahan.


“Hari ini waktunya aku sepuasnya menggila. Hahahahaaa,….” ujar Levi yang tertawa karena merasa sangat bahagia.


Sikapnya yang serti psikopat yang haus darah bahkan membuat anak buahnya sendiri bergidik ngeri saat melihat dan mendengar tawanya itu.


Mungkin jika mereka berani mengatakannya secara langsung, akan keluar kalimat seperti ini “Dewa kematian memang tiada lawan, apalagi kalau sudah menggila seperti ini.”


“Hay, Will! Bolehkah aku bergabung dan menggila bersamamu disana?” seru Levi yang membuat perhatian Will yang sedang bertarung teralih kepadanya.


“Memang kau pernah mendengarkanku! Kemarilah, nikmati saja apa yang ada.”


Bukannya melarangnya, Will malah tersenyum senang dengan kedatangan Levi dan segera mengijinkannya untuk bergabung.


“Hahahaaa,….Aku senang mendengarnya! Kalian semua, Ayo kita mulai menggila lagi disini!”


Levi dan anak buahnya pun segera menggila ditempat itu, terlihat jelas diraut wajah anak buah Evan yang merasa ketakutan dengan datangnya pasukan tambahan, terlebih lagi saat melihat Levi beraksi.


...****************...

__ADS_1


Disisi lain, si kembar Luca dan Lucia sudah tiba ditempat itu.


Ternyata membutuhkan waktu lama untuk sampai ditempat itu, karena Luca meminta sang supir taksi untuk menurunkan mereka ditempat yang jaraknya masih cukup jauh dari lokasi yang tunjukkan oleh alat pelacaknya.


Luca meminta sang supir taksi untuk menurunkan mereka di tempat yang cukup ramai atau daerah yang maih ada pemukiman warga agar tidak dicurigai.


“Kak Luca, kaki Luci sakit! Kenapa kita harus turun dari taksi kalau tempatnya masih jauh sekali?”


Lucia mulai merengek karena suda berjalan cuku jauh saat Luca meminta turun dari taksi, meraka belum sampai juga di lokasi yang ditunjukan oleh alat pelacaknya.


“Kau ingin supir taksi itu curiga pada kita, lalu menghubungi polisi begitu?” ujar Luca yang menatap kesal ke arah adiknya.


“Ahhhya,… Luci lupa soal itu! Maafkan Luci, kak Luca yang genius dan baik hati serta tidak sombong. Heheheheee,…”


Lucia hanya tersenyum semanis mungkin untuk meredakan kesalan sang kakak atas rengekkannya barusan.


“Sudahlah, kita lanjut jalan saja! Sepertinya sebentar lagi kita sampai disana.” sahut Luca sembari melihat lokasi yang ditunjukkan oleh alat pelacak yang ada diponsel ditangannya.


Dorrr,………….Dorrr,…….


Baru saja Luca mengatakan bahwa merasa sudah dekat dengan lokasi papahnya, tiba-tiba terdengan suara beberapa tembakan dari arah yang sedang mereka tuju.


Sesaat mereka saling menatap satu sama lain, terlihat jelas mereka sangat terkejut saat mendengar suara tembakkan yang semakin terdengar jelas ketika mereka semakin mendekati tempat itu.


“Cepat, Kak! Seperti papah sudah mulai menyelamatkan mamah disana!”


Lucia dengan penuh semangat langsung saja menarik tangan Luca untuk berjalan lebih cepat lagi.


Luca yang masih merasa terkejut hanya diam ssaja menuruti sang adik kembarnya untuk mempercepat jalan mereka.


Hingga saat mereka sudah hampir semakin dekat dengan pintu gerbang, Luca langsung menarik adiknya untuk berhenti.


“Luci, tunggu sebentar!” seru Luca yang membuat Lucia langsung menghentikan langkahnya dan menatap sang kakak penuh tanya.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌

__ADS_1


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2