Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Rencana Yang Sempurna!


__ADS_3

“Tentu saja papah sangat marah pada kalian berdua! Kalian boleh membantu, tapi sebatas wajar sebagai anak kecil saja. Kalian berdua tidak boleh turun langsung tangan langsung seperti ini. Apa kalian berdua tahu bagaimana berbahayanya tindakan kalian berdua ini, Hah?” seru Rayden yang tanpa sadar memarahi kedua anak kembarnya, karena khawatir dengan keselamatan kedua anak kembarnya itu.


“Papah memarahi kami?” lirih Lucia dengan suara bergetar, karena ini baru pertama kalinya papahnya memarahi mereka berdua sampai seperti itu.


“Maafkan kami papah!” isak Luca sembari menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan tangisnya didepan sang papah.


“Haaaahh,…..Kalian berdua ini! Papah ingin lebih marah lagi dari ini pun tidak bisa. Maafkan papah ‘yah, sudah marah-marah pada kalian berdua!” pinta Rayden yang kembali meraih kedua anak kembarnya kedalam pelukkan hangatnya lagi.


“Seharusnya papah berterima kasih pada kak Luca, bukan marah-marah seperti ini!” seru Lucia yang masih merasa sedikit kesala dengan sikap papahnya barusan.


“Iya, sayang! Sekali lagi papah minta maaf dan terima kasih kepada kalian berdua terutama pada Luca yang telah mengirim bantuan kesini.”


Rayden pun dengan gemasnya menciumi pipi chubby kedua anak kembarnya itu secara bergantian. Terlihat dari kejauhan Will sedang berjalan menghampiri Rayden dan Levi diikuti beberapa anak buahnya dibelakangnya.


“Tuan, tenyata benar anda terjebak dipulau ini?” ujar Will sembari membungkuk memberi hormat pada Rayden.


“Siapa yang memberitahu?” tanya Levi yang sebenarnya jawabannya sudah jelas bahwa si kembarlah yang memberitahukannya.


“Tuan dan Nona kecil kita yang genius ini!” ujar Will yang tanpa segan memuji kegeniusannya anak kembar dari Tuannya itu.


“Bagaimana bisa kalian berdua melakukannya?” tanya Levi pada Luca dan Lucia dengan santainya seakan sedang berbicara dengan temannya sendiri.


“Kak Levi ingin tahu? Begini ceritanya,…” sahut Lucia yang tampak antusias untuk menceritakan kegeniusan kakak kembarnya yaitu Luca.


Beberapa jam yang lalu,……..


Noland dan Julia kembali ke mansion bersama dengan si kembar, sementara Will kembali kerumah sakit untuk memastikan apakah Alea sudah dijaga oleh pihak keluarganya atau belum.


Mengingat Alea yang keluarganya berada dikampung, sementara Alea sendiri bekerja dan tinggal di ibukota.


Begitu sampai dimansion, Luca dan Lucia langsung kembali berkutat didepan layar kompurnya. Luca memeriksa kembali alat pelacak milik mamahnya dan meretas ponsel papahnya untuk mengetahui apakah mamahnya sudah berhasil diselamatkan atau belum.


Namun yang didapatkan oleh Luca adalah sinyal pelacak pada mamahnya malah semakin menjauh dari sinyal pelacak milik papahnya.


Sehingga membuat Luca langsung menarik kesimpulan bahwa mamahnya telah dibawa lari lagi oleh paman Evan.


“Hoooh,…Ada apa ini? Kenapa sinyal pelacak milik mamah mals semakin menjauh dari sinyal pelacak milik papah?” seru Luca yang dengan cepat mencari lokasi saat ini papahnya berada.


“Ada apa, kak?” ujar Lucia yang langsung mendekat dan menatap layar computer sang kakak dengan seksama.


“Sinyal pelacak milik mamah semakin menjaug dengan keberadaan papah! Luci, kau cepat beritahu Grandpa atau paman Will soal ini!”


Luca pun langsung menyruh adik kembarnya untuk memberitahukan soal berita penting itu pada orang yang lebih dewasa dibandingkan dengan mereka berdua.


Sementara tangan kecilnya terus bekerja untuk mencari titik sinyal alat pelacak yang terpasang pada cincin mamahnya, terlihat jelas bahwa sinyal alat pelacat it uterus bergerak menjauh.

__ADS_1


“Baik, kak! Luci akan cari Grandpa sekarang juga!”


Lucia pun segera berlari keluar untuk mencari Grandpa. Dan tak lama kemudian, Lucia pun kembali ke kamar bersama dengan Grandpanya.


Terlihat jelas bahwa raut wajah Noland sangat cemas mendengar bahwa putra sedang mengalami masalah, terlebih lagi dia berusaha menghubunginya beberapa kali tidak tidak pernah bisa terhubung satu pun.


“Luca, apa yang terjadi dengan papahmu?” ujar Noland yang langsung memeriksa layar computer milik cucunya itu.


“Grandpa, sepertinya papah dalam masalah! Lihatlah sinyal alat pelacak mamah semakin menjauh dari pulau, tapi sinyal alat pelacak yang di ponsel papah tidak bergerak sama sekali.”


Luca pun menjelaskan sembari menunjuk satu persatu titik yang menunjukkan keberadaan mamah dan papahnya.


Noland memperhatikan penjelasan cucunya itu dengan seksama, setelah itu dia langsung mengambil ponselnya lagi dan menghubungi Will.


“Will, kau dimana? Sedang apa? Dimana pun kau berada dan apapun yang kau kerjakan saat ini tinggalkan semua. Ada hal yang lebih penting yang harus kau urus sekarang juga!” Perintah Noland yang terdengar tidak boleh ada penolakan sedikitpun.


“Baik, Tuan! Apakah ada masalah besar?” ujar Will yang menjadai sangat panik begitu mendapat perintah dari Nonald yang terdengar sangat mendesak.


“Iya, masalah yang sangat besar! Kau segera siapkan pesawat dan beberapa anak buah yang tersisa untuk membantu Cano, sepertinya dia terjebak dipulau.”


Jelas Noland secara singkat, setelah itu dia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


“Astaga, Tuan besar ini! Bagaimana bisa aku membantu Tuan muda kalau lokasinya saja aku tidak mengetahui di bagian mana dan berada dipulau mana? Akhh,…Sudahlah, lebih baik aku siapkan saja pesawat dan pasukan bantuannya. Nanti juga pasti mengabariku lagi.” Gumam Will yang baru saja menyelesaikan urusan dirumah sakit, dia pun langsung bergegas untuk menyiapkan semua yang diperintahkan oleh Noland tadi.


Disisi lain, Noland tidak bisa ikut pergi karena kondisi Julia yang semakin memburuk sebab terlalu memikirkan Zhia dan ditambah lagi urusan perusahaan yang tidak bisa ditinggal.


“Begitu ceritanya, Pah! Kak Levi tangannya sudah sembuh?”


Lucia pun menceritakan semuanya dengan sangat mendetail, hingga Luca dan Will dibuat kagum dan takjub sebab tidak ada satupun dari cerita yang tertinggal.


Berbeda dengan Rayden yang malah terkejut karena putrinya itu terlalu memperhatikan Levi dibandingkan dengan dirinya sebagai papah kandungnya.


Rayden melontarkan tatapan tajamnya pada Levi seakan menuntut penjelasan darinya.


“I-iya, Nona kecil!” sahut Levi yang menjadi salah tingkah karena mendapat tatapan tajam dari Rayden.


“Luci, aku ini papahmu tapi kenapa kau lebih memperhatikan orang lain dibandingkan dengan papahmu sendiri?” seru Rayden yang tidak dapat menahan rasa irinya atau mungkin rasa cemberu karena tidak diperhatikan oleh putrinya.


“Papah, bukan itu hal terpenting sekarang!” ujar Luca yang menghentikan pembicaraan tidak penting itu.


“Benar, Tuan! Semakin lama kita tidak bisa mendapatkan mereka, maka keselamatan Nyonya muda pasti akan semakin terancam. Kita harus segera memikirkan sebuah cara untuk segera menyelamatkan Nyonya muda dari cengkraman Evan.” Jelas Will yang sudah tidak tahan untuk mengakhiri semua masalah ini.


“Luci punya sebuah rencana, Pah!” ujar Lucia dengan penuh percaya diri, hingga mengalihkan semua perhatian semua orang yang berada disana teralih kepadanya.


“Coba katakan!”

__ADS_1


Perintah Rayden yang akan mendengarkan rencana dari putrinya terlebih dahulu, meskipun dia sudah menduga bahwa rencana putrinya itu pasti hanya pemikiran seorang anak kecil saja.


“Papah serang paman Evan dari segala aspek saja!” seru Lucia yang membuat semua orang yang mendengarnya menjadai bingung sendiri dengan maksud perkataannya itu.


“Maksudnya?” seru Will dan Levi bersamaan, mereka sudah merasa sangat penasaran dengan ide dari Nona kecilnya itu.


“Apa maksudmu menyerang klan dan perusahaannya secara bersamaan begitu?” ujar Rayden yang sepertinya mengerti maksud dari rencana putrinya itu.


“Benar sekali, Pah! Yang paling penting papah harus memutuskan semua sumber dana dan bantuan yang masuk pada paman Evan dengan begitu pihak paman Evan pasti akan lengah dan disaat itulah kesempatan yang sangat bagus untuk menyelamatkan mamah!”


Luca pun membantu Lucia menjelaskan rencana sebenarnya yang dimaksud oleh adik kembarnya.


“Benar sekali yang dikatakan oleh Kak, Luca! Sebebenarnya itu juga rencana kak Luca ‘sih! Heheheee,….”


Akhirnya Lucia mengakui bahwa sebenarnya rencana yang dia katakana itu adalah ide dari Luca.


Rayden, Will dan Levi pun dibuat takjub dengan pemikiran kedua anak kembar itu. Mereka yang sudah dewasa saja tidak memikirkan sampai seperti itu.


“Rencana yang sempurna! Aku setuju.” Seru Will dengan cepatnya.


“Tuan sepertinya sebentar lagi kayaknya akan pensiun menjadi ketua klan ‘yah!” gumam Levi tapi tetap masih bisa didengar oleh semua orang yangberada disana.


“Kalau penggantinya Tuan dan Nona kecil aku pasti sangat mendukungnya!” sahut Will yang tanpa berpikir panjang langsung menyetujui perkataan Levi.


Sontak saja, Will dan Levi mendapatkan tatapan membunuh dari Tuan mudanya. Melihat sang iblis sudah mulai terbangun, Will dan Levi segera mengalihkan pandangan mereka dengan menundukkan kepala menatap semut ditanah.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌

__ADS_1


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2